Apa yang Terlihat Belum Tentu yang Sebenarnya

Suatu sore ada seorang wanita berusia setengah baya dengan penampilan rapi dan profesional masuk ke sebuah restoran untuk membeli dua buah paket menu spesial. Dengan lugas, wanita itu memesan makanannya untuk dibawa pulang (take away). 

Setelah menungu sekitar 10 menit, wanita tadi langsung mengambil pesanannya dan bergegas ke taman untuk dinikmati bersama kekasihnya di bawah cuaca sore yang cukup romantis.

Setelah sampai di taman, wanita tersebut membuka bungkusannya dan ia sangat terkejut. Ternyata bukan makanan yang dibawanya, melainkan isinya uang kertas sebanyak 25 juta rupiah. 

Wanita itu langsung mengembalikan uang tadi dan tetap meminta dua buah paket menu spesial yang dia pesan sebelumnya.

Manajer restoran merasa kagum atas kejujuran si wanita, ia menanyakan siapa namanya dan mengusulkan untuk memanggil wartawan media online bahkan kalau perlu stasiun televisi untuk membuat cerita tentang si wanita. 

Ia akan menjadi seorang pahlawan modern, sebuah contoh nilai kejujuran dan moral yang akan mengilhami orang lain.

Namun wanita itu menolaknya. Kekasih saya sedang menunggu di taman dan ia sedang kelaparan. Saya hanya ingin makanan yang tadi saya pesan segera datang.

Manajer restoran menjadi bertambah kagum atas sikap si wanita yang begitu rendah hati. Ia memohon agar diijinkan menceritakan kejadian itu kepada wartawan. Namun pada saat itulah si wanita yang jujur ini menjadi marah.

Saya tidak mengerti, kata Manajer. Anda adalah satu-satunya orang jujur di tengah dunia yang penuh kebohongan! Ini sebuah kesempatan yang sangat berharga untuk mengatakan kepada warga Jakarta bahwa masih ada orang-orang jujur yang mau bertindak benar. Saya mohon, beritahukan siapa nama Anda dan juga nama suami Anda?

Ia akan menjadi seorang pahlawan modern, sebuah contoh nilai kejujuran dan moral yang akan mengilhami orang lain.

Itulah masalahnya kata si wanita. Suami saya sedang bekerja di luar kota. Pria di taman itu adalah kekasih gelap saya. Sekarang berikan pesanan saya agar saya dapat segera pergi dari sini!

Dalam kehidupan, seringkali apa yang terlihat seringkali belum tentu yang sebenarnya. Belajarlah untuk melihat tidak hanya dengan memakai mata lahir atau fisik saja, tetapi juga dengan menggunakan mata batin yang jauh lebih jernih.

Kita tahu bahwa sangat mudah untuk terlihat baik di depan orang-orang yang tidak mengenal kita. 

Banyak di antara kita yang melakukan perbuatan baik di sana sini, pergi ke tempat ibadah, memakai pakaian agar terkesan alim, berkomentar dan berkata di sosial media sehingga semua orang mengira kita adalah sosok yang ideal padahal diri kita yang sebenarnya tidak demikian.

Yang terpenting adalah apa yang ada di dalam hati kita. Tidak penting berapa banyak hal yang kita perbuat atau apa yang orang lain kira tentang diri kita. Yang penting adalah hal yang terdalam. 

Jangan melakukan sesuatu agar orang lain menyukai atau kagum kepada kita – lakukan sesuatu untuk diri kita sendiri, belajarlah untuk selalu tenang dan jadikan diri kita sejatinya manusia yang lebih baik dari hari kemarin.

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait