Bantah Kesaksian Tersangka, Pengacara: Kivlan Zen yang Akan Dibunuh Oleh 4 Tokoh Nasional

Tandaseru – Pengacara mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Mayjen (Purn) Kivlan Zen, Muhammad Yuntri membantah jika kliennya yang memerintahkan tersangka perencana pembunuhan 4 tokoh nasional dan 1 pimpinan lembaga survei.

Yuntri menyebut kesaksian sejumlah tersangka dalam video yang diputar saat konferensi pers di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat pada Selasa (11/6) berbanding terbalik. Dia menyebut kliennya lah yang akan dibunuh oleh 4 tokoh nasional tersebut.

“Sampai saat ini kita mau ketemu Iwan enggak bisa, dikhawatirkan cerita Iwan dengan yang kami terima dari Pak Kivlan itu berbeda. Iwan justru datang ke Pak Kivlan mengatakan bahwa Pak Kivlan mau di bunuh oleh empat orang itu,” kata Yuntri saat dihubungi, Selasa (11/6).

Empat tokoh nasional dan 1 pimpinan lembaga survei adalah Menkopolhukam Wiranto, Kepala BIN Budi Gunawan, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, mantan Kadensus 88 Antiteror Gories Mere dan Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.

Selain itu, terkait kepemilikan senjata, kata Yuntri, Iwan menawarkan senjata api untuk melakukan perburuan di rumah Kivlan yang terletak di Bogor, Jawa Barat. Dia mengklaim, rumah sekitar Kivlan masih banyak babi hutan.

“Jadi Iwan itu diperintah jadi sopirnya, karena rumah pak Kivlan di Gunung Picung di Bogor, maka itu kan masih ada hutan-hutannya banyak babi, Iwan bilang ini ada senjata pak. Pak Kivlan bilang itu bukan untuk bunuh babi tapi bunuh tikus,” klaim Yuntri.

Selanjutnya, terkait adanya penyerahan uang SGD 15 ribu, Yuntri menegaskan, bahwa uang itu memang diberikan untuk demo. Namun bukan untuk aksi 21-22 Mei 2019. Tapi unjuk rasa saat momentum Supersemar.

“Bebarengan itu kan ada peringatan Supersemar, dia diberikan uang untuk demo sekitar SGD 15 ribu atau Rp 150 juta. Enggak tahu melaksanakan atau tidak, tiba-tiba sekaranf ini muncul dan ceritanya malah dibalik yang dibikinnya pengakuan dari polisi,” tegas Yuntri.

Sebelumnya, Nama Kivlan Zein disebut-sebut oleh para tersangka kepemilikan senjata api ilegal sekaligus perencanaan pembunuhan terhadap 4 tokoh nasional dan 1 pimpinan lembaga survey sebagai yang memberi perintah.

“Saya HK berdomisili di Cibinong. Saya diamankan polisi pada tanggal 21 Mei, 23.00 WIB, terkait ujaran kebencian dan kepemilikan senpi, dan ada kaitannya dengan senior saya, jenderal saya, yang saya hormati dan banggakan, Mayjen Purnawirawan Kivlan Zein,” kata tersangka HK melalui video yang ditampilkan dalam konpers di Menko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (11/6).

Ia menceritakan, pada Maret 2019, ia dipanggil oleh Kivlan Zen di Kelapa Gading. Ia mengakui diberikan uang Rp 150 juta untuk membeli 4 senjata api. Sebanyak Rp 50 juta di antaranya berbentuk Dolar Singapura.

“Senjata saya dapatkan dari ibu-ibu juga, masih keluarga besar TNI, dengan jaminan uang Rp 50 juta. Adapun pesan Pak Kivlan, saya target Wiranto (Menkopolhukam) dan Luhut (Binsar Panjaitan; Menko Kemaritiman).” ungkapnya

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait