Bawa Pin ‘Garuda Merah’ ke TPS di Tanjung Duren, Masa Beratribut FPI Dibubarkan

Tandaseru – Sebuah video viral di aplikasi percakapan Whatsapp yang memperlihatkan adanya sedikit kericuhan yang terjadi di tempat pemungutan suara (TPS) 75-84 Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Jakarta Barat pada Rabu (17/4).

Dalam video dengan durasi 1 menit 37 detik tersebut, terlihat anggota polisi tengah menegur 7 orang yang menggunakan atribut Front Pembela Islam (FPI) dengan membawa pin ‘Garuda Merah’ dan beberapa brosur calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Jadi ada tujuh orang menggunakan atribut 02 pin garuda merah. Lalu, diminta keluar oleh pihak kubu 01, karena sebelumnya ada perjanjian tidak boleh membawa atribut masing-masing calon,” ujar Kanit Reskrim Polsek Tanjung Duren AKP Rensa Aktadivia saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (17/4).

Pihak kubu 02 tidak terima diusir, mereka memilih bertahan di TPS itu. “Akhirnya cekcok dan diminta untu keluar,” tambah Rensa.

Lebih lanjut, Rensa mengatakan dua di antara tujuh orang itu merupakan anak di bawah umur. Mereka mengaku tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP).

“Dari dua orang itu anak di bawah umur,” kata Rensa.

Ketujuh orang yang mengenakan seragam FPI dan bertopi dengan lafalan kalimat tauhid itu disebutkan Rensa bukan tinggal di Apartemen Mediterania. “Tujuh orang itu warga sekitar, tinggalnya di belakang apartemen,” tutur Rensa.

Untuk diketahui, pada video yang beredar itu terlihat Kepala Bagian Pembinaan Operasional Direktorat Reserse Kriminal Umum AKBP Ahmad Fanani tengah menegur tujuh orang tersebut. Pim garuda merah yang terpasang di dada pendukung Prabowo-Sandi itu pun dicopot Fanani.

“Kita manusia biasa, kita manusia beragama ini,” kata Fanani.

Kemudian salah satu polisi lain menimpali dengan menimpali. “Ini komandannya. Kamu yang tadi salaman-salaman semua,” ujar polisi itu ke seorang pria baju hitam dan bertopi.

Polisi lainnya juga meminta ketujuh orang itu untuk tidak berbuat aneh. “Lu mau jadi bikin onar atau apa. Enggak usah aneh-aneh lah,” ucapnya.

Selanjutnya, Fanani meminta ketujuh orang itu untuk memperlihatkan KTP. Hanya lima orang yang bisa memperlihatkan kartu itu.

“Mana KTP mu? ‘Enggak ada pak’,” pungkas Fanani.

Kemudian ketujuh orang itu dibawa polisi. Mereka semua dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait