Bersyukur dan Belajar Memaafkan

Pada Januari 2010, seorang teman baik saya yang bernama Andi menerima sebuah panggilan telepon yang kelak akan mengubah jalan kehidupannya. Sore itu Andi baru saja memasuki area tempat parkir basemen Pacific Place Mal di Jakarta Selatan untuk sebuah acara kantor.

Mendadak Andi melihat di handphone ada sebuah panggilan tak terjawab dan pesan suara dari tantenya. Andi langsung merasa pasti ada sesuatu yang tidak beres. Dan ternyata intuisi dia benar, tantenya mengatakan telah terjadi sesuatu pada ayahnya dan Andi harus segera datang ke rumah sakit.

Tanpa berpikir panjang, Andi segera memutar mobilnya keluar gedung dan langsung menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina yang kebetulan berada tidak jauh dari Pacific Place Mal.

Saat Andi bertemu dengan Tantenya di lobby RSPP, sudah terlihat genangan air mata di wajahnya. Setengah terisak, tantenya berkata kalau ayah Andi telah meninggal dunia karena serangan jantung. Sebuah berita yang sangat mengejutkan!!

Andi kemudian berlari dan saat tiba di dalam ruangan UGD, tubuh ayahnya masih terasa hangat. Tidak tahu harus berbuat apa, tapi Andi merasa tubuhnya lemas kemudian ia berusaha duduk di ruang tunggu.

Secara reflek ia teringat kembali kejadian dua bulan sebelumnya, sebuah kecelakaan beruntun di jalan tol telah merenggut nyawa ibunya secara tragis.

Sebagai seorang anak tunggal, Andi harus mengalami dua kejadian traumatis yang sangat membekas di jiwanya. Kepada saya Andi sering bercerita kalau kehidupannya selama ini begitu sepi.

Sejak kejadian beruntun yang dia alami, Andi berubah menjadi pribadi yang sering mengeluh, merasa serba kekurangan, sering marah, menyesal atau merasa bersalah. Ia juga mengalami kesulitan dalam fokus, disiplin dan menghabiskan banyak waktu dengan khawatir terhadap banyak hal sampai melupakan apa yang telah ia miliki saat ini.

Saya kemudian teringat penjelasan medis dari Dr. Putra seorang dokter mantan anggota pasukan elite Kopassus tempat kami pernah bekerja dulu. Menurut Dr. Putra, saat manusia merasa kekurangan, maka hal ini akan diterjemahkan oleh tubuh menjadi penyakit.

Tubuh akan melepaskan hormon stres seperti kortisol dan epinefrin, yang berdampak negatif pada sejumlah sistem di tubuh manusia. Ketika manusia mengalami stres, sistem pencernaan, reproduksi, dan kekebalan tubuh semuanya bakal terpengaruh.

Beberapa penyakit yang dijelaskan Dr. Putra ternyata juga alami oleh Andi, namun perilakunya masih saja negatif sampai kemudian Andi bertemu dengan seorang instruktur pelatihan yang bernama Pak Firman.

Andi begitu terkesan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Firman dalam sebuah sesi pelatihan kepemimpinan yang diadakan perusahaan tempat Andi bekerja.

Menurut Pak Firman, ketika manusia mampu bersyukur, beberapa perubahan yang luar biasa akan mulai terjadi. Efek dari rasa syukur mempunyai jangkauan yang luar biasa. Mulai dari meningkatkan kesehatan mental, hingga kesejahteraan emosional, dan spiritualitas kita, rasa syukur terbukti dapat melakukan banyak hal.

Belajar memaafkan

Salah satu kunci untuk lebih mudah bersyukur adalah belajar untuk bisa memaafkan. Hal ini tidak berarti kamu harus melupakan. Maafkanlah dan lepaskan energi negatif yang merusak kemampuan kamu untuk terus mengembangkan potensidiri.

Pak Firman kemudian mengajak peserta pelatihan untuk mencoba menemukan pelajaran hikmah di semua hal yang terjadi. Andi tahu persis betapa sulitnya memaafkan sebagian orang, terutama mereka yang benar-benar telah menyakiti kita dalam kehidupan.

Tetapi hal itu tidak harus membuat kita bermusuhan kepada setiap orang, apalagi harus menghilangkan rasa syukur terhadap apa yang sudah kita miliki.

Mulailah memaafkan diri kita sendiri, kemudian cari sesuatu yang bisa kamu syukuri dan kamu akan menjadi pribadi yang lebih baik.

Bersyukur dan berbahagialah dengan apa yang telah kamu miliki. Andi kemudian bertanya kepada Pak Firman: “OK Pak, kedengarannya sih gampang, tapi bagaimana cara melakukannya?”

“Tenang saja Bapak, kita semua pernah menjadi korban dari sikap tidak bersyukur ini. Kita semua pernah menginginkan sesuatu lebih banyak, lebih mahal dst. Sampai taraf tertentu, semua hal itu masih baik.” Jawab Pak Firman dengan lembut.

Kemudian Pak Firman melanjutkan penjelasannya: “Namun jika kita sibuk dan menghabiskan setiap waktu luang hanya untuk memikirkan semua hal yang belum atau tidak kita miliki, itu sama saja kita menyiapkan diri untuk hidup penuh dengan ketidakpuasan dan kekecewaan.”

Mendengar jawaban dari Pak Firman, mendadak Andi merasakan sebuah kehangatan menjalar ke sekujur tubuhnya. Sebuah perasaan yang tidak pernah dia alami selama lima tahun terakhir, semenjak ibu dan ayahnya meninggal dunia.

Hari ini Andi telah menjelma menjadi sebuah pribadi yang sangat menyenangkan, murah hati dan gemar membantu orang lain. Di waktu luangnya ia menjadi relawan dan banyak membantu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Nirlaba dan Lembaga Sosial sebagai bentuk nyata dari rasa syukur atas apa yang telah ia miliki.

Ada sebuah pesan lama yang sangat berkesan dan tidak terlupakan dari Andi yang berbunyi: “Bapak, terima kasih banyak atas inspirasinya. Saya bersyukur telah dilahirkan sebagai anak tunggal dan yatim piatu. Sekarang saya mengerti bahwa bersyukur hakekatnya adalah tahu berterima kasih. Bukan tentang seberapa banyak atau lengkapnya keluarga, tahta atau harta yang kita miliki, tetapi tentang mahluk yang tahu berterima kasih kepada Dzat Maha Agung yang telah memberi begitu besar karunia kepadanya.”

 

Penulis Buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait