Bertemu Jokowi, Ini 3 Masukkan Kadin dan Hipmi untuk Pemerintah

Tandaseru – Pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi ) memberikan 3 masukan kepada pemerintah Jokowi mendatang.

Ketua Umum Kadin Rosan P. Roeslani membeberkan tiga masukkan tersebut saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Rabu (12/6) bersama Hipmi.

Usulan tersebut, yang pertama, mengenai pengiriman TKI (Tenaga Kerja Indonesia),  remiten dari 3,6 juta TKI di luar negeri kurang lebih ada US$11 miliar. Jauh dibandingkan Filipina yang tenaga kerjanya di luar negeri hampir sama, 3,5 juta orang tapi remitennya sampai US$33 miliar.

“Nah, kenapa itu bisa lebih tinggi, karena masalahnya adalah kemampuan dari berbahasa, dari nursing dan sebagainya. Jadi itu bisa kita dorong untuk program vokasi yang memang sedang didorong oleh bapak Presiden dalam pemerintahan ini. Jadi itu adalah kita bilangnya quickwin karena naik  US$10 miliar aja kita mengurangi CAD kita yang kurang lebih US$30 milar,” kata Rosan.

Yang kedua, katanya adalah mendorong pariwisata yang sudah ada sekarang untuk lebih cepat lagi. Ia menyebutkan, perbandingan-perbandingan dengan negara-negara asia lainnya memang kita kurang lebih hampir 15,5 juta orang, kita mendapatkan devisa kirang lebih US$17 miliar atau kurang lebih US$1.100 per orang. Tapi dibandingkan dengan Thailand yang secara wisatawannya itu lebih hampir 38 juta orang, tetapi pendapatan devisanya kurang lebih sampai US$62 miliar.

“Jadi average spendingnya lebih lama, average tinggalnya juga lebih lama. Itu kenapa, salah satunya karena kebijakan maritim. Itu juga yang kita sampaikan,” papar Rosan.

Yang ketiga adalah mengenai tekstil yang kita sampaikan. Karena ditengah perang dagang ini justru tekstil , garmen kita berdasarkan dari asosiasi juga dari pemain tekstil mengalami pelonjakan 25-30% tahun ini. Karena itu, bagaimana kita  mendorong kebijakan itu, memanfaatkan kesempatan itu pada saat sekarang.

Kemudian untuk industrialisasi, Rosan minta coba dorong dari akses perbankannya, akses kesempatannya dan insentif apa saja yang diperlukan. Karena kalau hanya dari 2 tangan saja, istilahnya, kebijakan fiskal dan moneter mungkin kita bisa bertumbuh tapi hanya seperti sekarang saja, gitu, 5%.

“Mesti ada kebijakan, itu adalah kebijakan reformasi struktural dan sektor. Ini diharapkan bisa memanfaatkan bonus demografi kita yang saat ini akan berakhir kurang lebih tahun 2040,” ujar Rosan.

Menurut Rosan, itu yang sifatnya mungkin jangka pendek, ya. Ada jangka mendengah, jangka panjang Para pengurus Kadin dan Hipmi juga bicara bagaimana melanjutkan reformasi perpajakan, karena uga berkompetisi dengan negara-negara tetangga kita juga. Di satu sisi mungkin produktivitas kita masih rendah tapi kita coba mendorong reformasi perpajakan dari pemotongan PPH (Pajak Penghasilan) kita sampaikan apakah di level 17-18% yang sekarang masih diatas 25%.

“Itu yan kita coba dorong karena tentunya nanti akan ada penuruanan tetapi kita bisa opsi dengan PPN. Jadi, ada masukan-masukan yang sifatnya  bisa diimplementasikan secara cepat,” tutur Rosan.

 

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait