Bila Saya Telah Tiada

Kematian selalu menjadi misteri. Tidak ada seorang pun yang mengharapkannya. Bahkan pasien dengan kondisi kesehatan paling parah di rumah sakit tidak berpikir mereka akan meninggal.

Apakah kematian akan datang esok hari? Satu atau dua minggu? Lima bulan atau sepuluh tahun lagi? Kita tidak pernah siap untuk kematian. Pada saat kematian itu datang, ia akan datang sebagai kejutan, dan itu adalah saat yang penuh duka dan air mata bagi keluarga kita. 

Itu tidak berbeda dengan kepergian Bapak dari seorang sahabat lama saya yang biasa dipanggil Didit. Almarhum bapaknya meninggal pada usia 44 tahun. Usia yang masih relatif muda, beliau bukan orang terkenal, tetapi kanker memang tidak memilih siapa korbannya.

Seingat saya, almarhum orang yang tegas namun menyenangkan. Seseorang yang suka bercerita kisah yang lucu. Itu salah satu kebiasaan yang sering almarhum lakukan kepada kami teman-teman anaknya.

Almarhum senang membuat rencana liburan untuk tahun berikutnya meskipun dia belum tahu apa yang akan terjadi kemudian. 

Rencana liburan seperti pergi memancing, mendaki gunung atau perjalanan ke tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi.

Almarhum berpikir bahwa ia orang yang membawa keberuntungan bagi orang lain, orang yang percaya pada takhayul. Memikirkan masa depan adalah cara dia untuk menemukan harapan hidup. 

Ketika Almarhum meninggal dunia di rumah sakit, saya dengan beberapa sahabat membantu Didit mengurus segala sesuatunya. Saya ingat malam itu, seorang perawat datang untuk menghibur Didit dan memberikan sebuah kotak yang penuh dengan amplop tertutup.

Perawat berkata pelan kepada Didit: Almarhum Bapakmu meminta saya untuk memberi setumpuk surat-surat ini kepada kamu. Dia ingin kamu membaca suratnya sesuai dengan tulisan di luar amplop.

Saya melihat dengan jelas di tumpukan amplop paling atas tertulis BILA SAYA TELAH TIADA. Dengan tidak sabar Didit membacanya:

Anakku Didit,

Jika kamu membaca ini, Bapak sudah meninggal dunia. Maafkan Bapak, sebenarnya Bapak tahu waktu Bapak tidak akan lama lagi.

Bapak tidak ingin memberi tahu apa yang akan terjadi, Bapak tidak mau kamu menangis. Semoga Bapak berhasil. 

Walau Bapak sudah tidak ada disamping kamu, tapi Bapak masih ingin mengajari kamu tentang kehidupan. Jadi Bapak menulis banyak surat-surat ini untuk kamu. 

Kamu harus berjanji untuk tidak membuka amplop suratnya sebelum waktunya ya? Ini kesepakatan kita berdua.

Bapak sayang sama kamu. Jaga baik-baik Ibumu. Kamu sekarang adalah pria dewasa dan yang bertanggung jawab di rumah.

Peluk dan cinta dari Bapak.

 

Setelah membaca amplop pertama, mendadak kotak itu menjadi benda yang paling penting bagi kehidupan sahabat saya Didit. Semua suratnya ia pisahkan dan dibawa kemanapun Didit pergi.

Almarhum bukan seorang penulis yang hebat, beliau hanya pegawai bank. Tetapi kata-katanya memiliki dampak yang luar biasa kepada Didit.

Amplop berikutnya yang saya tahu Didit buka adalah KETIKA KAMU MENIKAH, Saat itu Didit merasa sangat emosional. 

Anakku Didit,

Sekarang kamu mengerti apa itu cinta sejati. Kamu akan menyadari betapa kamu mencintai istrimu, selamat bersenang-senang. Itu hal yang luar biasa. Waktu akan berjalan dan terasa cepat, jadi pastikan kamu selalu ada. 

Jangan pernah melewatkan momen seperti mengganti popok, mandikan bayi, jadilah teladan bagi istri dan anak kamu. Bapak pikir kamu sudah memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi seorang Bapak yang baik.

Selalu ajarkan tentang kebaikan dan kasih sayang kepada anakmu. Sampaikan Bapak sangat rindu untuk ketemu istrimu dan bisa membelai kepala dan tubuh anakmu yang mungil. 

Peluk dan cinta dari Bapak.

Surat paling menyakitkan yang Didit baca ternyata surat terpendek yang ditulis oleh almarhum. Didit percaya kalau almarhum juga mengalami kepedihan yang sama seperti waktu Didit membacanya.

Butuh beberapa hari sebelum membacanya, tetapi akhirnya Didit membuka amplop yang bertuliskan KETIKA IBUMU TELAH TIADA.

Anakku Didit,

Dia milikku sekarang.

Bakti kamu sebagai anak yang soleh adalah memelihara ingatan tentang kasih sayang Ibumu dan selalu mendoakan kami dengan mengirimkan Surat Al Fatihah. 

Peluk dan cinta dari Bapak.

Didit tidak sabar membuka surat terakhir dari almarhum Bapaknya. Sekarang Didit sedang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, dengan tabung di hidung dan mulut akibat kecelakaan mobil yang dia alami.

Didit berusaha keras menggerakkan jari-jarinya yang patah membuka kertas amplop pudar dari satu-satunya surat yang belum dia buka. Tulisan di amplop KETIKA TIBA WAKTUMU nyaris tidak terbaca di amplop.

Didit setengah takut dan tidak ingin membukanya. Tapi Didit khawatir kematian juga akan menjemputnya. Kemudian Didit menarik napas panjang, sebelum membuka amplop.

Anakku Didit, 

Halo, sayang. Bapak berharap kamu sudah tua sekarang.

Kamu tahu, surat ini adalah yang paling mudah Bapak tulis, dan yang pertama Bapak tulis. Ini adalah surat yang membebaskan Bapak dari rasa sakit karena harus berpisah dengan kamu.

Bapak kira pikiran kamu menjadi lebih jernih ketika kamu sudah dekat dengan kematian. Jadi lebih mudah untuk membicarakannya.

Di hari-hari terakhir Bapak sering berpikir tentang kehidupan yang Bapak miliki. Bapak memiliki kehidupan yang singkat, tetapi sangat bahagia sebagai Bapak kamu dan suami ibumu. Apa lagi yang bisa Bapak minta? Itu memberi Bapak ketenangan pikiran. Sekarang kamu melakukan hal yang sama.

Saran Bapak: kamu tidak perlu takut.

Bapak rindu sama kamu.

Peluk dan cinta dari Bapak.

*) Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait