Bohemian Rhapsody dan Budaya Menonton Kita

Ketika sedang antre masuk ke dalam bioskop, perasaan saya agak kurang nyaman karena ternyata banyak penonton yang turut membawa anak usia balita untuk ikutan menonton film Bohemian Rhapsody.

Ini film tentang super rock band legendaris Queen yang menampilkan Freddie Mercury, sang vokalis penuh talenta dan karismatik sebagai tokoh sentralnya.

Seperti umumnya biopik musik rock band terkenal, Bohemian Rhapsody sudah pasti akan menampilkan banyak adegan konser dengan aksi panggung spektakuler serta memainkan lagu-lagu hits Queen yang terkenal.

Namun di film ini juga akan banyak adegan yang sensitif seperti pesta minuman keras, memakai narkoba, dan tentu saja seks yang sudah pasti tidak cocok dengan kategori usia anak balita.

Apakah para orang tua sekarang sudah tidak peduli dengan apa yang akan dilihat oleh anak-anak mereka?

Apakah para penonton bioskop sekarang sudah begitu egois dan tidak sudi menimbang rasa kenyamanan dan perasaan penonton yang lain?

Hal ini sedikit mengusik benak saya sambil berjalan mencari tempat duduk di dalam bioskop.

Ternyata Bohemian Rhapsody memang bukan film biasa. Di dalam saya melihat seluruh kursi sudah terisi penuh! Berbeda ketika saya menonton film-film box office yang lain, suasana di dalam bioskop agak sedikit riuh.

Sambil jalan, saya mendengar beberapa penonton bercerita tentang lagu-lagu Queen dan sepenggal kehidupan sang vokalis yang kontroversial Freddie Mercury.

Tidak lama setelah saya duduk, dan film pun dimulai. Ketika adegan Freddie Mercury muda saat berjumpa dengan Brian May dan Roger Taylor yang baru saja bubar dari Band Smile.

Saya berusaha memahami bagaimana suasana batin saat embrio lahirnya formasi awal salah satu band paling berpengaruh di dunia musik rock.

Namun fokus saya tadi mendadak terganggu, karena dua penonton ABG yang duduk di sebelah saya mulai nyinyir.

Mereka sibuk berkomentar gak jelas mulai dari warna baju yang norak, gaya fashion yang jadul sampai tertawa ketus melihat potongan rambut masing-masing personel Queen pada masa itu.

Menurut saya ini adalah sebuah kejahatan yang lebih parah dari sekadar berbicara selama film. Jika penonton berbicara saat film sedang berlangsung, itu setara dengan orang yang berbicara keras ketika mereka sedang membaca.

Tetapi jika penonton berkomentar ngawur, nyinyir dan berisik – hal itu bisa membuat darah fans fanatik Queen bakal mendidih. Jadi cepat tutup mulutmu dan jangan banyak omong (batin saya dalam hati)!

Makin menyenangkan

Adegan demi adegan terus bergulir dan film ini terasa semakin menyenangkan saat potongan lagu-lagu Queen turut diputar.

Banyak penonton yang turut bernyanyi, menghentakan kaki atau saya lihat sekadar memainkan jari mengiringi lagu-lagu hits mereka.

Saya pun demikian, terutama saat lagu I Want to Break Freediputar. Secara reflek saya ikutan melantunkan lirik lagunya.

Tapi kuping saya menangkap suara bass yang menyebalkan dari seorang penonton pria di bangku belakang.

Dia berbicara dengan agak keras kepada orang di sebelahnya “Loooh ini lagunya Queen ya Bu, dari dulu Bapak kira ini lagunya Rolling Stone.“

Duh Gusti Pangeran, ada apa dengan para penonton ini… Eerrrggghhhh…. Sabar ini ujian.

Mata dan perhatian saya kembali fokus ke layar saat personil Queen akan masuk ke panggung konser Live Aid.

Pada 13 Juli 1985, ini adalah pentas konser musik rock live terbesar yang pernah dibuat dan hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapapun yang turut menyaksikannya.

Diperkirakan sekitar dua miliar orang dari 60 negara turut menonton konser dari layar televisi.

Namun ada satu hal yang hampir semua penonton setuju yaitu penampilan dari Freddy Mercury, Brian May, Roger Taylor dan John Deacon selama 20 menit adalah pertunjukan yang paling menakjubkan.

Saya kemudian hanyut dengan suara dan penampilan Queen yang menampilkan lagu hits mereka secara medley mulai dari Bohemian Rhapsody, kemudian Radio Ga Ga, disambung Hammer to Fall, disusul Crazy Little Thing Called Love.

Tidak lupa lagu We Will Rock You dan konser mereka pun ditutup dengan lagu klasik yang begitu indah We Are the Champions… Bravo Queen!!

Adegan mempesona

Puas rasanya mata dan telinga saya menikmati begitu banyak adegan yang mempesona di film Bohemian Rhapsody ini.

Namun kenikmatan itu ternyata tidak berlangsung lama, mendadak hidung saya mencium bau balsam sangit untuk pijit dari seorang Bapak yang duduk di depan saya.

Mungkin si Bapak tadi kecapean ikut nyanyi lagu-lagu rock sepanjang film, jadi beliau perlu olesan balsam sangit agar tetap nge-hit.

Tidak terasa film Bohemian Rhapsody pun berakhir, sambil membaca credit title di layar saya pun lupa dengan komentar nyinyir dua penonton ABG di sebelah tempat duduk, suara bass mendem dengan komentar ndeso penonton pria di bangku belakang dan bau balsam sangit Bapak di kursi depan.

Saya lihat semua penonton berjalan keluar bioskop dengan puas, banyak yang tertawa sambil bernyanyi kecil dengan bahagia.

Lalu saya teringat pesan sang Ayah kepada Freddie Mercury yaitu good thoughts, good words, and good deeds. Jadilah kamu manusia yang memiliki niat yang tulus, berkata-kata yang baik, dan terus melakukan tindakan yang terpuji.

Any way the wind blows doesn’t really matter to me, to me

 

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emasdan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait