Cahaya di Balik Kegelapan

Sekitar pukul 19.00 WIB, Sabtu 3 Agustus 2019, kami warga Jakarta dan sekitarnya merasakan gempa yang cukup besar. Belum puas rasanya mengirim broadcast dan pesan di media sosial tentang gempa dan semua seluk beluknya, kemudian mendadak secara misterius listrik padam total pada hari Minggu.

Ada apa ini? Seolah-olah bencana datang bergantian sepanjang akhir pekan. Tidak lama kemudian, langsung beredar pesan di group WhatsApp yang isinya beragam cerita mirip teori konspirasi dan beraroma hoax.

Jam pertama… Secara reflek saya minta pasukan di rumah untuk memeriksa persediaan makanan di lemari es, cadangan air minuman galon dan tentu saja bensin untuk generator. Banyak spekulasi beredar kalua listrik padam kali ini mungkin akan berlangsung cukup lama.

Di rumah, kami memang tidak terlalu khawatir dengan pemadaman listrik karena tersedia generator, namun yang membuat gelisah adalah terganggunya jaringan komunikasi.

Jam kedua… Ternyata suasana kebatinan yang sangat berbeda dialami oleh saudara dan sahabat kami yang lain. Tidak ada lagi suara canda dan tawa, jalanan menjadi lebih macet karena lampu lalu lintas padam, klakson kendaraan saling menyalak keras.

Terlihat banyak wajah pengemudi mobil dan motor yang lelah bercampur amarah akibat semua lampu lalu lintas dan jalan padam. Ditambah lagi, beberapa fasilitas transportasi juga berhenti berfungsi.

Jam ketiga… Seperti kebanyakan warga lain, kami sepanjang waktu masih terus berusaha mencoba aplikasi online untuk pesan makanan namun gagal. Akibatnya kami tidak bisa pesan makanan sehingga tidak ada pilihan selain menyerbu toko makanan dan mal untuk membeli makanan hangat.

Jam keempat… Banyak sahabat yang gemar menjalani akhir pekannya dengan menonton film di bioskop. Minggu kemarin kebetulan sedang tayang sebuah film action Box Office yang keren yaitu Hobbs and Shaw yang diperankan oleh Dwayne “The Rock” Johnson dan aktor laga Inggris Jason “Jay” Statham.

Teman saya Agung, sedang berada di dalam bioskop ketika listrik padam di awal film. Lampu mendadak gelap gulita dan pendingin udara juga mati. Penjaga bioskop lalu mengantar para penonton keluar memakai lampu senter karena seluruh gedung juga gelap.

Walaupun kesal, akhirnya Agung dan penonton lain berhasil mendapatkan refund tiket. Tetapi beberapa penonton lain tidak bisa menahan emosinya, ada di antara mereka yang berteriak, memukul-mukul tempat duduk bahkan sampai tendang dinding segala.

Jam kelima… Kali ini saudara saya yang bernama Sony bilang kalau pemadaman listrik juga telah mengganggu mesin ATM, sialnya lagi ia juga terjebak di pintu tol yang turut tidak berfungsi sehingga membuat jalan tol bertambah macet.

Jadi berapa lama pemadaman listrik akan berlangsung? Karena banyak sahabat dan anak-anak yang menjadi psikotik karena fakir wifi dan baterai HP mereka habis total. Kami lihat tetangga sekitar rumah juga gelisah serta mulai berbondong-bondong untuk membeli generator.

Jam keenam… Saya mendapat kabar dari sahabat lama yang bernama Rudi, dia kebetulan terjebak bersama puluhan penumpang MRT yang sedang berada di antara stasiun bawah tanah saat listrik padam.

Rudi langsung trauma dengan pengalamannya berada di bawah tanah yang gelap dan lembab seperti kejadian di film Daylight yang diperankan aktor Sylvester Stallone.

Jam ketujuh… Banyak warga yang memutuskan untuk bermalam di hotel terdekat karena khawatir pemadaman akan terus berlangsung.

Mereka khawatir jika tetap bertahan di rumah, maka terpaksa menghabiskan malam sambil berburu nyamuk, udara panas tanpa pendingin ruangan serta tanpa jaringan wifi untuk komunikasi (tentu saja kehilangan momentum untuk baper dan update status di media sosial).

Jam kedelapan … Alhamdulillah akhirnya listrik dan jaringan komunikasi kembali menyala. Banyak di antara kita yang merasa lega, bahagia bahkan seperti telah dilahirkan kembali.

Salah satu pelajaran berharga dari pemadaman atau kegelapan ini adalah kehadiran cahaya sangat mempengaruhi suasana hati semua orang – bahkan melebihi faktor lain seperti uang, usia dan lainnya.

Ternyata perasaan lega dan bahagia tadi adalah jejak spiritual kalau manusia pada hakekatnya tidak bisa nyaman atau bahagia jika berada di dalam kegelapan.

Hal ini semacam bukti purba, bahwa manusia sejatinya adalah wujud yang bercahaya, dia bisa menerangi kegelapan di sekitarnya, menebarkan cahaya harapan serta optimisme. Persis seperti yang yang dikatakan oleh Rumi “Don’t you know yet? It is your light that lights the worlds.”

 

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait