Cerita Teman soal Telur dan Paman Sarmili yang Heroik

Saat kelas 1 SMP dulu, kami memiliki wali kelas bernama Pak Darmadi. Beliau termasuk seorang guru yang banyak disenangi oleh murid-murid karena selain aktif olah raga, mudah bergaul dan humoris.

Suatu hari menjelang pelajaran terakhir, di depan kelas Pak Darmadi dengan suara yang penuh karisma bertanya kepada kami semua.

“Anak-anak mulai hari ini, sebelum kelas selesai Bapak ingin kalian pikirkan sebuah cerita, kemudian kalian ceritakan di depan kelas, lalu sampaikan apa sebenarnya inti atau pesan dari cerita tadi.”

Hari berikutnya, Pak Darmadi kemudian meminta seorang relawan pertama untuk maju ke depan kelas dan menceritakan kisah mereka. 

Seorang rekan kami yang bernama Abdullah dengan berani mengangkat tangannya dan maju ke depan kelas.

Abdullah mulai bercerita: Bapak saya memiliki sebuah peternakan ayam yang cukup besar dan setiap hari Sabtu kami sekeluarga saling membantu untuk memasukkan telur ayam ke truk.

Setelah truknya penuh dengan telur ayam, kami pun pergi ke pasar untuk di jual. Namun sialnya, Sabtu kemarin setelah hujan deras truk kami tergelincir dan masuk ke got. Semua telur ayam di dalam keranjang terlempar keluar dan rusak berantakan di atas jalan.

Setengah tidak sabar Pak Darmadi bertanya kepada Abdullah: OK bagus Bedul! Jadi apa inti atau pesan dari cerita kamu tadi?

Abdullah kemudian menjawab: Kita tidak boleh menyimpan semua telur dalam satu keranjang.

Pak Darmadi dan semua murid di kelas kami tersenyum senang atas jawaban Abdullah tadi.

Hari berikutnya giliran Gilbertus yang maju ke depan untuk bercerita: Ayahku juga memiliki peternakan ayam, walau tidak seluas milik Bapaknya Abdullah.

Namun kami mengambil telur ayam di hari Minggu kemudian menaruhnya di dalam inkubator. Hari Minggu lalu hasilnya pun kurang bagus, karena hanya 12 dari 16 telur ayam yang berhasil menetas.

Abdullah kemudian menjawab: Kita tidak boleh menyimpan semua telur dalam satu keranjang.

Dengan suara lembut Pak Darmadi bertanya: Bagus Gilbert! Jadi apa inti atau pesan dari ceritanya?

Dengan tersenyum Gilbertus berusaha menjawab: Iya Pak, kita tidak boleh menghitung berapa jumlah telur sebelum telur itu menetas.

Murid di kelas kami bertepuk tangan mendengar sebuah jawaban cerdas dari cerita Gilbert.

Hari berikutnya yang harus bercerita adalah teman sebangku saya yang bernama Satiri. Setengah ragu-ragu, saya lihat Satiri akhirnya terpaksa memberanikan diri maju ke depan kelas.

Satiri kemudian memulai ceritanya: Paman saya bernama Sarmili, dia pernah bertempur dalam Perang Timor Timur. Suatu ketika mobilnya pasukan Paman terjebak di wilayah musuh.

Dengan reflek luar biasa Paman Sarmili berhasil melompat keluar sebelum mobilnya ditembaki tentara musuh. Saat itu di dalam ransel milik beliau hanya tinggal dua botol bir, senapan mesin dan golok. 

Di tengah pengejaran oleh musuh, Paman Sarmili langsung menenggak 2 botol bir. Dia berhasil menembak 20 tentara musuh dengan senapan mesinnya, tetapi karena kehabisan peluru maka Paman Sarmili harus menarik goloknya dan berhasil membunuh 10 tentara lagi.

Kemudian dengan keahliannya bermain silat Paman Sarmili juga berhasil membunuh 5 orang musuh terakhir hanya dengan tangan kosong.

Pak Darmadi dan semua murid kaget dan terkesima mendengar cerita heroik Satiri tentang Pamannya tadi. 

Tidak lama kemudian Pak Darmadi kembali tersadar dan menatap kagum kepada Satiri sambil bertanya: Luar biasa Bapak kagum sama kamu Sat!! Lalu apa inti atau pesan ceritanya.

Dengan tersipu malu Satiri menjawab: Jangan pernah minta duit sama Paman Sarmili ketika dia sedang mabok.

 

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait