Dothy, Srikandi Teluk Lamong

Wawancara Ayu Puji Rahayu

Sempat terlintas dalam pikiran, wanita yang akan saya temui kali ini berpenampilan tomboy atau ‘garang’ seperti laki-laki mengingat dunia dan pekerjaan yang dia geluti terkenal keras.

Namun, bayangan itu langsung sirna ketika memasuki ruangan kerjanya yang asri dan luas. Saya bahkan langsung disambut dengan hangat dan sapaan yang ramah.

Wanita kelahiran 22 Oktober 1971 itu biasa disapa ibu Dothy. Dia adalah Direktur Utama Terminal Teluk Lamong, salah satu terminal pelabuhan paling modern dan ramah lingkungan di Indonesia.

Dilihat dari sosoknya yang feminin, ibu dua anak yang masih terlihat cantik ini seolah menjungkirbalikkan stigma bahwa pelabuhan adalah tempat kerja yang keras dan kotor.

Dothy juga tidak merasa terintimadasi bekerja di pelabuhan yang identik dengan dunia laki-laki. Baginya, bekerja di pelabuhan justru lebih banyak suka daripada dukanya.

“Suka dan duka hanyalah persepsi kognitif atau rasa sebagai respons terhadap suatu situasi. Respons bisa saja berbeda pada situasi yang sama, menjadi suka atau duka,” ungkap wanita murah senyum ini.

Kesan macho bekerja di pelabuhan selama ini pun bisa dia terima tanpa ada gangguan yang berarti. Kalau melihat sosoknya yang ramah dan supel, tidak heran jika ia akan mudah beradaptasi di lingkungan kerja apapun.

Apalagi, sejak kecil Dothy mengaku sudah terbiasa berada di lingkungan laki-laki. Sekolah juga di jurusan yang banyak laki-lakinya, begitu pun olahraga. “Jadi bagi saya, challenge-nya bukan isu gender,” ungkap alumni Teknik Industri ITB 1994 ini.

Lalu bagaimana wanita seperti Dothy bisa terjun ke dunia pelabuhan? Selain berlatar belakang pendidikan teknik, dunia kelautan ternyata bukanlah hal asing bagi wanita kelahiran Surabaya ini.

dothy
(istimewa)

Dothy yang berasal dari keluarga TNI Angkatan Laut pernah bekerja sebagai staf di Kementerian Perhubungan pada 1995-1998. Namun, untuk mencapai posisi seperti sekarang, dia meniti karir dari bawah.

Sebelum bekerja di Kemenhub, istri dari dr. Budi Harjanto SpoG ini sempat menjadi staf pengajar di Jurusan Teknik Industri ITS pada 1995. Pintu masuk ke dunia pelabuhan terbuka ketika Kemenhub menawarkan kesempatan untuk melanjutkan studi S2 Port Management di World Maritme University.

Setelah lulus pada 2001, penyuka olahraga renang dan sepeda ini melanjutkan karir di PT Pelabuhan Indonesia III (Persero). Di BUMN kepelabuhanan itu, Dothy menimba banyak pengalaman karena pernah ditugaskan di sejumlah direktorat, seperti Pengembangan SDM, Pengembangan Usaha, hingga Corporate Secretary.

Pada Agustus 2014, dia dipercaya memimpin PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), salah satu anak perusahaan Pelindo III. Kemudian, menjabat SVP Port Equipment Pelindo III pada Maret-Juli 2017.

Sejak Juli 2017, Dothy dipercaya mengelola Terminal Teluk Lamong, salah satu terminal Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang baru beroperasi pada 2014.

Terminal Canggih

Menurut Dothy, mengelola Terminal Teluk Lamong (TTL) memiliki tantangan tersendiri. Sejak mulai dibangun pada 2010, terminal ini sudah dirancang berteknologi mutakhir dan ramah lingkungan.

TTL menggunakan peralatan serba canggih dan bersistem otomasi. Crane atau alat bongkar muat di lapangan penumpukan tidak dioperasikan langsung oleh tenaga manusia.

Secara sistem, crane yang dinamakan Automated Stacking Crane (ASC) bekerja fully automatic. Operator hanya membantu kinerja ASC pada proses receiving and delivery pada buffer area land site di luar lapangan penumpukan. Kinerja ASC ini 2,7 kali lebih cepat dibandingkan crane konvensional.

Selain peti kemas, TTL juga melayani jasa bongkar curah kering, khusus untuk komoditas food dan feed grain. Dengan kapasitas grab ship unloader (GSU) mencapai 2.000 ton per jam per unit, kecepatan waktu bongkar curah kering menjadi lebih cepat adn efisien.

Layanan bongkar juga didukung dengan belt conveyor, yang langsung mendistribusikan komoditas ke silo dan gudang, sehingga prosesnya menjadi lebih efisien dan produktif.

Gudang seluas 10 hektare tersebut mampu menampung hingga 200.000 ton komoditas curah kering. Kapasitas bongkar curah kering TTL ini berpotensi menjadi yang terbesar di Indonesia, yakni mencapai 17 juta ton per tahun.

Untuk mengoperasikan peralatan modern itu, semua pekerja TTL dituntut melek teknologi dan berwawasan lingkungan. Tidak heran jika hampir semua karyawannya masih berumur di bawah 30 tahun yang lebih familiar dengan teknologi digital.

Pengetahuan digital dan komputerisasi serta bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, sangat diperlukan di sini. Sistem kerja dan pendekatan dilakukan secara personal, antara lain menerapkan sertifikasi dan statement challenge.

Kinerja TTL

Sejak dikomandoi oleh Dothy, kinerja TTL semakin kuat. Tentu saja berkat dukungan dan kerja sama tim TTL yang solid. Data menunjukkan arus peti kemas (throughput) melonjak 102% pada 2017 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pada 2016, arus peti kemas TTL baru mencapai 243.250 TEUs, kemudian langsung melehit hingga 493.071 TEUs pada 2017. Pada 2018 ini, Pelindo III selaku induk perusahaan TTL menargetkan arus peti kemas sebesar 545.610 TEUs atau naik 10,6%.

Adapun produksi curah kering, yang menjadi andalan TTL, juga tumbuh mengesankan. Pada 2016, produksinya tercatat 1,10 juta ton dan pada 2017 meningkat 9,97% menjadi 1,21 juta ton. Dan tahun ini, produksi curah kering ditargetkan tumbuh 63% menjadi 1,98 juta ton.

Untuk mengantisipasi potensi pertumbuhan curah kering di masa mendatang, TTL sudah menyiapkan rencana penambahan fasilitas dan peralatan.

Kapasitas dermaga akan diperpanjang menjadi total 500 meter. Kkolam dermaga curah kering yang saat ini -14 mLWS akan dikeruk hingga mencapai kedalaman -16 mLWS.

Dalam waktu dekat, ungkap Dothy, TTL segera melakukan pendalaman kolam dermaga curah kering minimum -14 mLWS karena saat ini sudah berhasil menarik kapal dengan kedalaman minus 13-13,2 mLWS.

Menurut Dewan Pakar Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Jawa Timur ini, posisi TTL sebagai first discharge port atau single port akan memberi value kepada masyarakat karena biaya logistik tentu dapat ditekan.

Pada Februari 2018, sudah dilakukan first call langsung dari Brasil ke Surabaya (TTL) dengan muatan soybean meal (SBM), sekaligus menobatkan TTL sebagai single port. Tahun sebelumnya, kapal itu terlebih dahulu bersandar dan bongkar di pelabuhan yang lain.

“Jika semakin banyak kapal curah kering berukuran besar yang menjadikan TTL sebagai single port (satu-satunya destinasi untuk bongkar), maka sesuai dengan rencana akan dilakukan penambahan kapasitas dermaga,” jelas mantan Chairlady ASEAN Port Association ini.

Selain itu, dalam jangka panjang, alur dan kolam akan diperdalam lagi sampai lebih dari -16 mLWS karena ada proyeksi TTL melayani bongkar curah cair (liquid bulk) yakni LNG.

Dothy mengutip proyeksi pemerintah dalam RIP (Rencana Induk Pelabuhan), ukuran kapal LNG yang perlu dilayani di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak akan cukup besar yang membutuhkan kedalaman hingga  -16 mLWS.

Pencapaian lainnya yakni jumlah kedatangan (call) dan ukuran kapal peti kemas internasional dan domestik di TTL terus meningkat. Pada 2017, call tercatat sebanyak 877 kapal, terdiri dari 257 kapal internasional dan 620 kapal domestik.

Adapun untuk kapal curah kering sebanyak 39 call sepanjang tahun lalu, yakni 34 kapal internasional dan 5 kapal domestik.

Sebagai info tambahan, tutur Dothy, selama 2016 rata-rata ukuran panjang atau length overall (LOA) kapal yang masuk di TTL kurang lebih 225 meter. Pada tahun 2017, angkanya meningkat menjadi rata-rata 250 – 260 meter.

Dothy berencana menambah pasar baru pelayanan, baik pada peti kemas internasional maupun domestik, di antaranya kapal-kapal besar milik pelayaran global.

Pelayanan Tanpa Atap

Dalam menerapkan konsep terminal ramah lingkungan (green port terminal), ungkap Dothy, ada beberapa terobosan yang dilakukan TTL, terutama menggunakan sarana dan prasarana yang ramah lingkungan.

Misalnya, menggunakan truk berbahan bakar gas, peralatan angkat listrik, lampu jalan tenaga matahari (solar cell), dan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG).

Selain itu, seluruh transaksi yang berhubungan dengan pengguna jasa sudah menggunakan sistem online. “Dalam bahasa kami, Pelayanan Tanpa Atap. Sebab memang tidak memerlukan atap atau gedung untuk bertransaksi dengan TTL. Kami melayani pelanggan 24 Jam 7 hari nonstop,” ungkap penerima penghargaan Prima Utama Kemenhub Tahun 2014 dan 2016 ini.

dothy
Dothy rutin turun ke lapangan untuk mengecek kondisi peralatan TTL yang serba modern. (istimewa)

Dengan konsep otomasi dan ramah lingkungan, Dothy optimistis TTL berpeluang besar menjadi terminal paling modern di Indonesia, bahkan di Asia.

Dengan transaksi fully online system 24 jam nonstop, pengguna jasa akan semakin mudah dan cepat bertransaksi dengan TTL.

Infrastruktur juga terus dikembangkan agar terminal ini berdaya saing tinggi. Akses menuju ke TTL, baik melalui laut maupun darat, telah dilakukan revitalisasi (memperdalam dan melebarkan channel).

Pengembangan TTL pada tahap kedua ini berjalan sesuai dengan rencana, bahkan cenderung dipercepat. Sebab kapasitas TTL harus segera menyesuaikan permintaan pasar yang terus meningkat.

Sekarang sedang dilakukan pengembangan pada lapangan penumpukan untuk diperlebar hingga 32 blok pada tahap akhir. Selain itu, dibangun flyover yang terhubung dengan tol lingkar luar barat Surabaya sehingga mempercepat akses darat dari dan menuju pelabuhan.

Sejalan dengan visi sebagai perusahaan ramah lingkungan, TTL melalui anak perusahaannya PT Lamong Energi Indonesia (LEGI) bekerja sama dengan PT Meratus Line dan PT SPIL juga telah menyediakan fasilitas on shore connection kapal yang sedang sandar.

On shore connection merupakan salah satu layanan penyediaan pasokan daya listrik dari dermaga ke kapal yang bertujuan memenuhi kebutuhan listrik pada mesin utama kapal dan mesin bantu kapal.

Fungsinya untuk membantu pengoperasian kapal untuk mesin induk, operasi muatan, mesin generator, navigasi dan mendukung kegiatan operasi mesin kapal lainnya.

“Kapal yang sandar di dermaga nantinya tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak dengan biaya relatif mahal, tetapi menggunakan shore connection pasokan listrik dengan biaya lebih murah dan tentunya ramah lingkungan,” jelasnya.

Dengan berbagai fasilitas dan layanan tersebut, Dothy terus meyakinkan pengguna jasa internasional maupun domestik, bahwa konsep ramah lingkungan dan otomasi memberikan nilai tambah pada efisiensi biaya logistik.

Konsep ramah lingkungan yang sebagian besar pelanggan menganggap mahal dan tidak populer juga merupakan tantangan bagi terminal modern ini untuk menjaga konsistensi pelayanan serta produktivitas yang lebih unggul.

“Dengan adanya sistem yang relatif baku, maka ke depan TTL dapat menjadikan sistem sebagai keunggulan kompetitif untuk berekspansi, baik di Indonesia, regional, maupun global,” ungkap wanita tangguh yang layak disebut Srikandi Teluk Lamong ini.

 

Profil Singkat Dothy

Lahir          : Surabaya, 22 Oktober 1971

Suami        : Dr. Budi Harjanto, SpoG

Anak          : Charmanty Sverizkia (2002), Charmanisa Magnarizky (2005)

Hobi           : Olahraga sepeda

Tagline pribadi    : Legacy is a Journey of Sustainability

Pendidikan:

  • S1 Teknik Industri ITB (1994)
  • S2 Port Management World Maritme University (2001)

Karir:

  • Presdir PT Terminal Teluk Lamong (10 Juli 2017 – sekarang)
  • SVP Port Equipment (1 Maret 2017 – 9 Juli 2017)
  • Presdir PT Terminal Petikemas Surabaya (1 Agustus 2014 – 28 Februari 2017)
  • Corporate Secretary (1 Februari 2014 – 31 Juli 2017)
  • Assistant Corporate Secretary (27 Oktober 2011 – 31 Januari 2014)
  • Asisten Senior Manager Pengembangan Usaha (29 November 2010 – 26 Oktober 2011)
  • Asisten Senior Manager Pengembangan SDM (10 Mei 2007 – 28 November 2010)
  • Staf Kementerian Perhubungan (Oktober 1995 – Maret 1998)
  • Staf pengajar Jurusan Teknik Industri ITS (1995)

Organisasi:

  • Chairlady ASEAN Port Association (2014 – November 2017)
  • Chairman Asosiasi Pengelola Terminal Peti Kemas Indonesia/APTPI (Agustus 2014 – 5 Desember 2017)
  • Dewan Pakar Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Chapter Jawa Timur (2016 – Sekarang)
  • Wakil Ketua Ikatan Alumni ITB Jawa Timur (2015 – Sekarang)

Penghargaan:

  • Prima Utama Kemenhub 2014, 2016
  • Trusted Company bidang GCG Majalah SWA Tahun 2014

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id