Filosofi Batik

Suasana car free day (CFD) pada Minggu pagi di sepanjang Jalan Sudirman dan Thamrin Jakarta memang selalu menjadi ajang yang menarik.

CFD seperti ini seringkali dimanfaatkan oleh para event organizer untuk menggelar berbagai pameran dan acara yang seru.

Salah satu yang ramai dikunjungi pengunjung adalah pameran batik. Tersedia banyak ragam, jenis dan produk batik namun setelah berkeliling akhirnya mata saya tertuju sebuah stan batik tulis yang tampak elegan, namun masih kental sentuhan tradisionalnya.

Stan batik ini sangat menarik karena mereka menampilkan beberapa orang pembatik yang berusia masih muda. Kemudian saya mencoba berbicara dengan seorang pembatik muda yang berperawakan atletis, tinggi tegap namun sangat bersahabat.

Pemuda tadi memperkenalkan dirinya sebagai Sigit, asli warga Solo, Jawa Tengah.

Setelah mengucap salam kemudian saya menyapanya. Saya pun dilayani Mas Sigit dengan ramah padahal saya tidak berniat membeli, hanya ingin menggali tentang kehidupan pembatik tulis muda.

Mas Sigit bilang kata Batik sebenarnya berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Jawa yaitu amba yang artinya menulis dan titik yang artinya titik. Apabila kedua kata tersebut digabungkan maka arti kata batik adalah menulis titik-titik yang indah.

Dia kemudian bercerita kalau seorang pembatik tulis membutuhkan kesabaran tinggi dalam proses pengerjaannya.

Dengan fasih Mas Sigit menyebutkan proses pembuatan batik yang selalu diawali dengan huruf “N”.

Dimulai dari Nyungging yaitu membuat pola motif batik di atas kertas), Njaplak adalah memindahkan pola dari kertas ke kain, Nglowong seperti melekatkan malam di kain dengan canting sesuai garis pola, Ngiseni adalah memberi motif isian atau isen-isen pada motif yang sudah dilekatkan dengan malam.

Selanjutnya, Nyolet yaitu mewarnai motif bunga atau burung dengan kuas, Ngelir proses pewarnaan kain secara menyeluruh serta Nglorod atau proses pembilasan yang dilakukan dua tahap di pertengahan dan akhir.

Caranya adalah dengan merendam kain di air mendidih, Ngrentesi proses memberikan titik menggunakan canting berjarum tipis, Nyumri yaitu menutup bagian tertentu dengan malam dan Nyoja proses mencelupkan kain dengan warna cokelat atau sogan.

Selain harus bersusah payah belajar membuat batik, Mas Sigit akhirnya berhasil menemukan sebuah kebahagiaan. Dia merasa puas ketika karyanya dipajang dan diapresiasi banyak orang.

Ketika saya sedang asyik mendengarkan cerita Mas Sigit, tidak lama kemudian datanglah istri saya yang memang seorang kolektor batik tulis kuno.

Istri saya kembali mengingatkan adab atau tata cara luhur bagaimana memakai batik tulis kepada saya. Menurutnya dalam budaya Jawa, setiap motif batik memiliki filosofi, makna dan penempatan tertentu sehingga tidak boleh digunakan di sembarang waktu.

Misalnya motif Truntum yang berarti menuntun, yaitu kain yang dipakai oleh orang tua pengantin dalam upacara pernikahan diharapkan si pemakai/orang tua mempelai mampu memberikan petunjuk kepada putra-putrinya untuk memasuki kehidupan berumah tangga yang penuh liku-liku.

Ada lagi motif Wahyu Temurun diharapkan pemakainya selalu mendapatkan petunjuk dalam menghadapi kehidupan oleh Yang Maha Kuasa. Tentunya sangat berbeda dengan motif Parang yang berarti senjata yang sering digunakan untuk menggambarkan kekuasaan.

Dengan suaranya yang indah, istri saya kemudian menutup diskusi kami di CFD Minggu pagi itu dengan kalimat: Batik tulis adalah bagian dari budaya leluhur bangsa kita, dimana pakaian dapat menyelaraskan dengan acara yang kita datangi. Jangan seperti kamu, senangnya pakai baju batik lengan pendek, terus motifnya Parang tapi dipakai untuk datang ke acara kawinan.

 

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait