Gas Air Mata, Cinta dan Pengunjuk Rasa

Kemarin secara mendadak saya mendapat pesan singkat dari Timmy, sahabat lama saya sejak kami sama-sama menjadi aktivis mahasiswa dulu.

Walaupun sudah lama meninggalkan panggung unjuk rasa di lapangan, namun isi pesan Timmy masih khas mantan aktivis yang idealis yaitu selalu nyerempet politik, dengan analisa yang tajam dan tentu saja berani.

Kami telah bersahabat cukup lama, boleh dibilang melalui aktivitas unjuk rasa di jaman mahasiswa kami berdua kemudian bisa akrab bahkan sudah seperti saudara sendiri.

Saya sudah lupa, entah berapa kali kami berdua berunjuk rasa bersama, berbagi air mineral dan pasta gigi untuk mengurangi pedihnya tembakan gas air mata, kalau urusan dipukul atau terkena lemparan batu sudah menjadi santapan rutin kami.

Namun ada hal yang sulit saya lupakan dari sahabat saya ini adalah seorang pria mata keranjang yang sering berhasil mendapatkan wanita walaupun berada di tengah unjuk rasa.

Saya juga teringat asal mula mengapa unjuk rasa menjadi magnet bagi Timmy. Suatu hari Timmy pernah memberikan sebuah pengakuan. Ketika ia masih berusia 20 tahun, Timmy adalah calon mahasiswa sekaligus pengunjuk rasa yang dibayar.

Timmy bercerita awalnya ia sedang berjalan keliling mal saat liburan kemudian didekati oleh seorang pria yang menawarkan makan siang, kaos, dan uang sebesar 75 ribu rupiah untuk ikutan unjuk rasa di luar sebuah perusahaan makanan terkenal milik AS.

“Apa yang kita protes?” Timmy bertanya padanya.

“Oh, fakta bahwa kita tidak dibayar dengan layak dan diminta bekerja dalam waktu lama,” jawab pria tersebut.

“Kita semua layak mendapatkan bayaran yang lebih besar!”

“Sepertinya itu alasan yang logis dan manusiawi!” Pikir Timmy sebagai seorang calon mahasiswa yang idealis.

Pria tadi kemudian memberikan semua perlengkapan seperti poster, topi, pluit, spidol dst kepada orang lain yang lebih tua dan terlihat seperti mandor dari para pengunjuk rasa.

Saat itu Timmy tidak menyadari apa yang dia protes karena dirinya bukan salah satu dari mereka. Timmy hanya berpura-pura menjadi korban selama ia mendapatkan kaos, topi, makanan gratis dan uang 75 ribu rupiah. Saat itu calon mahasiswa tidak memiliki iPhone atau Smartphone seperti para pengunjuk rasa saat ini. Bahkan calon mahasiswa tidak punya apa-apa selain tenaga.

Pengalaman

Ternyata pengalaman menjadi penunjuk rasa sangat menyenangkan, Timmy lalu memutuskan untuk melakukannya lagi pada saat liburan berikutnya. Saat itu Timmy melakukan unjuk rasa di depan sebuah hotel berbintang lima tempat pegawai hotel mogok. Kali ini dengan alasan yang hampir serupa yaitu upah yang diberikan tidak layak.

Selain kaos, ikat kepala dan satu boks makan siang serta amplop sebesar 100 ribu rupiah Timmy juga diberikan poster dengan warna menyala, “Bayar kami dengan layak dan adil!”

Timmy mengaku kagum dengan gerakan teman-teman sesama pengunjuk rasa. Timmy tahu kalau beberapa dari mereka juga dibayar seperti dirinya, sementara beberapa dari mereka benar-benar karyawan yang berpikir bahwa mereka bisa membuat perbedaan dengan duduk, mendengarkan orasi dan bernyanyi.

Mungkin orang lain berpikir lebih baik menggunakan waktu untuk mengerjakan keterampilan yang lebih bermanfaat seperti teknik wawancara, membuat resume baru dst. Tapi, terkadang memukul gendang, bernyanyi atau berpegangan tangan bersama-sama pengunjuk rasa lain adalah hal yang tidak kalah seru dan menyenangkan!

Pesan Timmy kepada semua komplotan pengunjuk rasa di luar sana, lanjutkan!! Setiap orang harus mengalami betapa nikmatnya melakukan protes setidaknya satu kali dalam kehidupan mereka. Percayalah itu cukup menyegarkan! Tidak hanya itu, menurut Timmy berada di tengah unjuk rasa juga memberikan perspektif dan empati yang berbeda begitu Anda berada di sisi yang lain.

Jadi kalau saat ini Anda sedang menonton di layar televisi atau video yang viral di media sosial terlihat banyak pengunjuk rasa berteriak sambil mengepalkan tangan, terkena semprotan gas air mata atau bahkan sampai terlibat saling dorong secara fisik dengan aparat jangan terlalu khawatir. Seperti sahabat saya Timmy, bisa jadi sebenarnya banyak diantara mereka justru sedang bersenang-senang!

 

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait