Gawat! Difteri Bukan Hanya Menyerang Anak-anak

JAKARTA (!) – Difteri merupakan penyakit yang menular melalui udara yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.

Bakteri ini menyerang saluran napas sebelah atas dengan gejala demam tinggi, sakit tenggorokan, susah menelan, dan kesulitan
bernapas.

Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah dari batuk penderita atau benda yang telah terkontaminasi. Ketika masuk dalam tubuh, bakteri melepaskan toksin (racun).

Meski begitu, hanya anak-anak sajakah yang bisa terjangkit difteri?

Menurut pakar vaksin, dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPD, semua usia bisa terkena wabah difteri. Akan tetapi, sistem kekebalan tubuh atau antibodi manusia paling tinggi di usia dewasa muda, yakni 20-50 tahun.

“Artinya, pada usia produktif seperti itu, rendah dampaknya terjangkit difteri. Meski ada namun kecil persentase-nya. Tapi, harus diingat juga, kita bisa menjadi perantara yang membawa bakteri difteri,” kata Kristoforus kepada TANDASERU.id, Sabtu
malam, 23 Desember 2017.

Caranya, ia melanjutkan, adalah kuman yang menempel di saluran pernafasan akan ‘menunggu’ untuk dikeluarkan melalui bersin maupun batuk. “Dengan ‘berpindahnya’ kuman inilah, bisa jadi, korbannya anak atau orangtua kita,” paparnya.

Kristoforus lalu memberi contoh Amerika Serikat, di mana tingkat kematian balita yang terkena wabah difteri sampai 20 persen. Angka ini menurun pada usia dewasa menjadi sekitar 5 persen.

Satu batuk, kena semua

Menurutnya, faktor usia menjadi salah satu penyebab difteri menyebar cepat. Karena, antibodi manusia akan menurun ketiga menginjak usia 51 tahun ke atas.

Hal ini sama saja dengan kondisi bayi dan anak-anak. Adapun, untuk usia di atas 60 tahun atau lanjut usia, kondisinya sama seperti balita.

Wabah Difteri.
Ilustrasi suntik vaksin.

Selain faktor usia, orang yang rentan terkena difteri adalah ketika berada di lokasi padat penduduk. Bukan tanpa alasan mengapa pemilik klinik kesehatan In Harmony ini berkata demikian.

“Padat penduduk berarti padat komunikasi. Bicara dekat-dekatan. Dari pagi sampai malam hari. Aktif semua. Nah, ketika satu orang batuk, dalam waktu singkat satu kampung bisa ikut batuk. Apalagi lingkungannya tidak higienis, itu mempercepat penyebaran,” ungkapnya.

Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Indonesia dianggap sebagai yang tertinggi di dunia karena banyaknya kasus yang ditemukan.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, hingga saat ini, 38 anak Indonesia dinyatakan meninggal dunia karena terserang difteri.

Sementara itu, lebih dari 600 anak dirawat di rumah sakit karena terserang difteri di 120 kota/kabupaten.

Kumpulan Berita Terkait