Gempa Sulteng: Bandara Tutup, Listrik Padam, Komunikasi Terputus

Tandaseru – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan petugas BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, dan relawan mulai melakukan evakuasi dan pertolongan pada korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Laporan sementara, kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, terdapat beberapa korban yang meninggal karena tertimpa bangunan roboh.

“Tsunami juga menerjang beberapa permukiman dan bangunan di pantai. Jumlah korban dan dampaknya masih dalam pendataan. Korban luka-luka telah ditangani oleh petugas kesehatan dan penanganan darurat terus dilakukan,” ungkapnya dalam keterangan pers, Jumat (28/9/2018) malam.

Sutopo mengatakan Tim Reaksi Cepat BNPB telah bergerak menuju Donggala menggunakan helikopter water bombing yang ada di Balikpapan. Tim membawa peralatan komunikasi satelit dan peralatan lainnya.

“Kepala bersama pejabat BNPB berangkat ke Palu pada malam ini (Jumat) melalui Makassar, kemudian ke Kota Palu dan Donggala menggunakan helikopter,” ungkapnya.

Bandara ditutup

Akibat gempa, Bandar Udara Mutiara Sis Al Jufri Palu ditutup sejak Jumat pukul 19.26 WITA hingga besok (Sabtu) pukul 19.20 WITA.

Dia mengungkapkan, kondisi listrik padam menyebabkan jaringan komunikasi di Donggala dan sekitarnya tidak dapat beroperasi karena pasokan listrik PLN putus.

Laporan yang diterima BNPB, 276 base station tidak dapat dapat digunakan. Operator komunikasi terus berusaha memulihkan pasokan listrik secara darurat.

“Kemkominfo telah melakukan langkah-langkah penanganan untuk memulihkan komunikasi yang putus tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, TNI akan mengerahkan pasukan untuk membantu penanganan dampak gempa dan tsunami di Kota Palu dan Doggala. TNI menerjunkan 7 SSK dari Yonkes, Yonzipur, Yonif, dan Yonzikon menggunakan 2 pesawat Hercules C-130.

Listrik padam

Basarnas akan menggerakan 30 personil beserta peralatan menggunakan pesawat Hercules. Polri juga akan menggerakkan personil dan peralatan untuk memberikan dukungan penanganan darurat.

“Komunikasi yang lumpuh saat ini menyebabkan kesulitan untuk koordinasi dan pelaporan dengan daerah. Kondisi listrik padam juga menyebabkan gelap gulita di Palu dan Donggala,” kata Sutopo.

Gempabumi bermagnitudo 7,7 yang kemudian dimutakhirkan oleh BMKG menjadi magnitudo 7,4 mengguncang wilayah Kota Palu dan Donggala, Sulteng, pada Jumat (28/9/2018) pukul 17.02 WIB. Pusat gempa pada 10 km pada 27 km Timur Laut Donggala.

BMKG sempat mengaktivasi peringatan dini tsunami dengan status Siaga (tinggi potensi tsunami 0,5–3 meter) di pantai Donggala bagian barat, dan status Waspada (tinggi potensi tsunami kurang dari 0,5 meter) di pantai Donggala bagian utara, Mamuju bagian utara, dan Kota Palu bagian barat.

Berdasarkan konfirmasi kepada BMKG, kata Sutopo, tsunami menerjang sejumlah pantai. Posko BNPB juga telah mengonfirmasi kepada BPBD bahwa tsunami telah menerjang Pantai Talise di Kota Palu dan pantai di Donggala.

Dia membenarkan beberapa video yang didokumentasikan masyarakat dan disebarkan di sosial media mengenai tsunami di Kota Palu dan Donggala.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait