Gibah dan Fitnah, Fenomena Alam Menjelang Pemilu

Tandaseru – Sebenarnya sulit untuk memulai tulisan ini karena saya yakin, khususnya umat Islam harusnya sudah paham arti gibah dan fitnah. Sejak sekolah dasar, pada pelajaran agama Islam, pasti sudah diajarkan di sekolah.

Rasanya tidak perlu hasil sekolah di pondok pesantren untuk memahami arti gibah dan fitnah. Namun melihat kenyataan hari ini, begitu gampangnya orang membuka aib orang lain (sekalipun mungkin benar aib itu ada) dan kegemaran melakukan fitnah, dengan bahasa zaman now, hoax.

Lebih dahsyatnya lagi, secara tidak sadar, malah menjadi bagian dari penyebaran gibah dan/atau fitnah dan tidak gratis karena menyebarkan gibah dan/fitnah dengan merelakan pulsa yang jelas dibeli dengan uang.

Apa yang didapat?

Dalam ajaran Islam, kita percaya adanya malaikat yang selalu mengikuti kemanapun manusia pergi. Malaikat bertugas mencatat semua perbuatan manusia baik yang baik maupun yang buruk.

Bismillah, wassholaatu wassalam ala Rasulillah, waba’du.

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)

Wahai manusia, ingatlah ketika dua malaikat yang ditugaskan mencatat amal setiap amal manusia saling bertemu. Yang satu berada di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kirinya. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya Raqib dan Atid.

(QS. Qaaf: 17–18).

Perlombaan membuka aib (gibah) dan fitnah (hoax) tidak lepas dari pencatatan oleh malaikat.  Lepas dari pelajaran agama Islam, yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa gibah dan fitnah begitu masif pada masa kampanye ini?

Kampanye pemilu sejatinya adalah memberikan penawaran kepada pemilih (baca masyarakat) tentang keunggulan yang dimiliki jagoannya, baik orangnya maupun program-program yang dimilikinya.

Kampanye sifatnya menawarkan yang dia punya bukan mencari kekurangan pihak kompetitor. Masyarakat yang akan menilai tawaran tersebut, apakah sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat pemilihnya. Jika masyarakat suka maka akan dipilih dan sebaliknya.

Jargon siap kalah dan siap menang, adalah istilah yang salah besar dalam pemilu level apapun juga. Sebagai konsekuensi logis “jualan pada masa kampanye” maka masyarakat akan memilih atau tidak memilih, jargon yang tepat adalah “siap dipilih dan siap tidak dipilih”

Para jurkam dan seluruh tim kampanye sebaiknya belajar dari pedagang di pasar tradisional, karena penjual sayur di suatu kios tidak akan pernah menjelekkan kios sebelahnya hanya untuk mendapatkan pembeli di kiosnya, namun akan sibuk memperbaiki kualitas dagangannya.

Apakah karena para jurkam dan tim kampanye gagal melakukan tugasnya (atau lebih sialnya, tidak paham tugasnya) untuk mempromosikan calon-calonnya sehingga lebih merasa asik untuk menebar gibah dan fitnah?

Mari kita tunggu di alam kubur, saat mulut terkunci, tangan dan kaki bersaksi dan catatatan malaikat dibuka.

Penulis: Kombes. Pol. Dr. Umar Surya Fana, S.H., S.I.K., M.H.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait