Hantu Perempuan Penghuni Kantor

Selama bekerja di banyak perusahaan dengan berbeda-beda gedung serta lokasi, saya telah mendengar banyak cerita yang menyeramkan seputar hantu perempuan.

Salah satunya kisah yang sulit saya lupakan ketika perusahaan kami baru pindah ke sebuah gedung baru yang lebih keren dan canggih.

Karena dalam proses pindah kantor, maka banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Salah satu karyawan yang paling sibuk adalah Pak Adang. Beliau adalah Senior Manager Finance di perusahaan kami.

Pada hari itu jaringan IT mengalami kendala, sehingga seluruh pekerjaan terpaksa dilakukan secara manual. Padahal laporan bulanan tetap harus diselesaikan malam itu juga.

Dengan terpaksa Pak Adang ikut bekerja lembur bersama tiga orang stafnya. Mereka membagi tumpukan kertas kerja dan dokumen laporan di atas meja menjadi empat bagian.

Karena Pak Adang adalah Senior Manager, maka dia mendapatkan tumpukan dokumen dan kertas kerja yang lebih banyak dari stafnya.

Selepas adzan Maghrib, mereka mulai memasukkan data ke laptop masing-masing. Pada pukul 22.30 malam 3 stafnya pamit pulang, karena pekerjaan mereka sudah selesai.

Kantor baru kami yang luas terasa begitu sunyi dan sepi. Hanya tinggal Pak Adang sendiri dan beliau bergegas membereskan laporannya. Dokumen dan kertas kerja yang masih tersebar di bawah meja, dia hitung satu per satu.

Namun mendadak dokumen dan kertas, yang tadi sudah tersusun rapi terbagi menjadi empat bagian, terbang berantakan tertiup angin.

Pak Adang kaget! Kok bisa dokumen sebanyak ini berantakan tertiup  angin?? Padahal tidak ada angin di dalam ruang kerjanya. Apakah tadi ia tidak sengaja mendorong meja?\

Kemudian Pak Adang bangun dari kursinya, untuk mengambil dan membereskan dokumen-dokumen yang tercecer di lantai dan… Plaakk!! Seperti ada yang memukul daun telinganya.

Pak Adang melihat ke arah belakang, tidak ada siapa-siapa!! Karena merasa takut, dia langsung berdiri kemudian menelepon Petugas Jaga untuk minta ditemani. “Halo, malam, Pak… Halo, siapa yang jaga?”

Tidak ada suara jawaban sama sekali. Tetapi kemudian, yang terdengar dari gagang telepon adalah sayup-sayup suara perempuan yang menangis. Suara perempuan itu terdengar dekat dan seram sekali.

Bulu kuduk Pak Adang pun langsung merinding. Gagang telepon tadi langsung ditutup. Ia panik tapi bingung, tak tahu harus berbuat apa, karena laporan bulanan belum selesai.

Sambil setengah berlari, ia beranjak ke arah pintu keluar, menuju ke tempat Petugas Jaga. Ketika sampai di depan pintu kaca, ternyata pintunya terkunci!!

Setelah menggedor-gedor, Pak Adang berusaha berteriak sekuat tenaga, dia panik karena terkunci sendirian di dalam kantor baru.

Belum reda rasa takutnya, tiba-tiba Pak Anang mendengar suara tertawa yang sangat menyeramkan. Suara cekikikan seorang perempuan. Karena takut, Pak Adang reflek menutup matanya.

Dia tidak berani melihat apapun, tapi rasa penasaran mendorongnya untuk mengintip ke dalam ruangan.

Sambil mengintip deretan kursi karyawan yang kosong dan sepi, lalu dia melihat…. Ya, Tuhan, tepat di samping dirinya sedang duduk hantu perempuan. Ada sosok perempuan tua menyeramkan yang bergaun putih, dengan rambut acak-acakan.

Perempuan itu duduk sambil menggoyangkan kakinya yang tidak menyentuh tanah. Mukanya ditutupi rambutnya yang panjang. Dia terus menggoyangkan kakinya sambil tertawa cekikikan.

Pak Adang terus menggedor pintu kaca keras-keras, tapi tetap tidak ada Petugas Jaga yang mendengar. Saat dia menoleh ke arah kursi itu lagi, hantu perempuan itu sudah tidak ada dan menghilang.

Padahal baru beberapa detik yang lalu suara tawa cekikikannya masih kencang terdengar.

Perempuan itu duduk sambil menggoyangkan kakinya yang tidak menyentuh tanah. Mukanya ditutupi rambutnya yang panjang. Dia terus menggoyangkan kakinya sambil tertawa cekikikan.

Sambil mengambil tasnya, Pak Adang mencoba membuka kembali pintu kaca yang tadi terkunci. Akhirnya pintu sudah bisa terbuka.

Dia lari ke arah Petugas Jaga yang sedang tertidur di dekat lift. “Paaaak! Bangun, Paakkk! Saya tadi ketemu kuntilanaaakk!”

Dengan wajahnya yang masih tertunduk, si Petugas Jaga membuka topinya. “Kuntilanak-nya kaya gini, Pak, mukanya?”

Wajah Petugas Jaga ternyata sama persis dengan hantu perempuan yang tadi berada di ruangan Finance. Wajahnya pucat, dengan mata berwarna merah, gigi bertaring, serta lidah menjulur.

Pak Adang berusaha kabur dan lari sekencang-kencangnya, tapi kakinya tersangkut sesuatu dan dia terjatuh.

Sambil tergeletak, dia melihat dengan jelas hantu perempuan menyeramkan itu melayang mendekati dirinya. Pak Adang pun jatuh pingsan.

Esok paginya berita menyeramkan ini langsung tersebar ke semua karyawan. Akhirnya ada seorang pegawai baru yang memiliki indra keenam bercerita bahwa hantu perempuan itu dulunya adalah seorang karyawati yang mati bunuh diri.

Hantu perempuan ini juga berpesan agar penghuni gedung baru untuk berperilaku yang sopan, saling menghargai juga minta ijin dulu dengan membuat acara selamatan.

Setelah kejadian heboh tersebut perusahaan kami langsung mengadakan acara syukuran untuk memohon keselamatan dan keberkahan seluruh karyawan.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait