Hati yang Senang

Pada akhir tahun 2017, salah seorang mantan tim kerja saya bernama Mas Didik (berusia sekitar 45 tahun) bercerita kalau ia telah didiagnosa mengalami kegagalan fungsi hati. 

Seperti kita tahu, hati merupakan organ terbesar dalam internal tubuh manusia yang berfungsi sangat vital, antara lain memproduksi protein dan memecah nutrisi dari makanan menjadi energi.

Hati juga berfungsi menyimpan vitamin dan mineral, memproduksi cairan empedu, serta membantu tubuh menghalau bakteri termasuk menyingkirkan racun dari tubuh.

Saya masih ingat saat Mas Didik bercerita dengan wajah murung dan suara terisak hampir menangis: “Dokter bilang untuk mengatasi komplikasi akibat gagal fungsi hati saya harus menjalani operasi transplantasi hati.”

Kita tahu ini bukan hal yang mudah, karena untuk memperoleh donor hati, apalagi yang benar-benar sesuai bisa memakan banyak biaya dan tentu saja waktu yang cukup lama bisa beberapa hari atau bahkan berbulan-bulan.

Namun nasib baik masih berpihak kepada Mas Didik. Setelah menunggu selama 2 bulan dan harus menjalani serangkaian tes kesehatan tubuh secara menyeluruh termasuk konsultasi nutrisi, akhirnya Mas Didik berhasil menjalani operasi transplantasi hati pada Februari 2018 lalu di sebuah rumah sakit di Beijing, China.

“Sebenarnya setiap manusia akan mendapatkan banyak sekali bantuan dari sesama mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Ketika itu proses operasi berjalan hampir 10 jam. Selama beberapa hari Mas Didik juga harus menggunakan beberapa tabung khusus sebagai penunjang fungsi tubuhnya. Ia sudah pasrah dan memutuskan untuk menjalani semua jalan kehidupannya dengan ikhlas.

Satu tahun pasca transplantasi hati, Mas Didik mengaku telah terjadi perubahan fisik dan perilaku yang sangat besar terhadap dirinya. Tentang perubahan ini, saya pribadi juga merasakan hal yang sama. 

Dulu sebelum transplantasi hati, rekan kerja di kantor sering berolok-olok tentang kulit Mas Didik yang berwarna gelap dan rambutnya yang ikal. Kita semua juga tahu ia tidak bisa, bahkan benci memasak.

Percaya atau tidak, faktanya hari ini kulit Mas Didik berwarna putih cerah, jenis rambutnya juga berubah lurus dan memasak seolah-olah telah menjadi bakatnya yang terpendam!! 

“Sekitar 6 bulan setelah transplantasi hati di China, saya bisa membuat mie, memotong dan membersihkan ikan sampai membuat martabak telur untuk anak saya yang cowok. Bahkan istri saya pun masih terheran-heran dengan perubahan warna kulit, jenis rambut dan keahlian memasak saya ini,” cerita Mas Didik bangga sambil tersenyum lebar.

Pesan bapak

Dengan perasaan haru, Mas Didik bilang: “Saya ingin berterima kasih kepada Bapak, saya bangkit setelah mendengar pesan Bapak ketika saya sakit dulu – kamu tenang aja dan yakinlah karena sepanjang roda kehidupan manusia yaitu sejak kita lahir, kemudian beranjak dewasa sampai saatnya harus meninggalkan dunia ini sebenarnya setiap manusia akan mendapatkan banyak sekali bantuan dari sesama mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih.”

“Dulu saya sering membenci diri saya sendiri, sudah hitam, jelek, banyak penyakitnya lagi. Tuhan telah menyampaikan kasih sayangnya melalui seorang pendonor hati kepada saya, bukan hanya fisik saya yang menjadi lebih sehat dan menyenangkan tetapi sekarang saya bisa memasak untuk membahagiakan keluarga dan teman-teman. Saya ingin menjalani sisa kehidupan ini dengan senang hati.”

Penulis Buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait