Ini Proses Pembuatan Liquid Vape Narkoba sebelum Dijual di Medsos

Tandaseru – Ditresnarkoba Polda Metro Jaya berhasil mengungkap sindikat liquid vape yang diracik menggunakan MDMA (ekstasi) dan ekstraksi ganja. Dalam pembuatan liquid vape narkoba tersebut, sindikat itu membagi tiga lokasi yang berbeda pada setiap prosesnya.

Pada proses pertama atau peracikan, beberapa tersangka menggunakan sebuah rumah mewah yang berada di jalan Janur Elok, Kelapa Gading, Jakarta Timur. Di lantai dua rumah tersebut, para tersangka meracik liquid vape narkoba dengan peralatan yang canggih.

“Kami menemukan tiga lokasi, yang pertama adalah tempat ini adalah laboratorium di. Fungsinya adalah memproses, memproduksi hasil hasil produksi dan meracik di tempat ini,” kata Kasubdit I Ditresnarkoba Polda Metro Jaya AKBP Jean Calvijn Simanjuntak di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (8/11).

Calvijn menyebutkan setelah cairan liquid vape narkoba itu selesai diracik, para tersangka mengirimkan bahan tersebut ke tempat kedua yakni di Apartemen Paladian, Kelapa Gading, Jakarta Utara untuk memasukkan ke dalam botol-botol kecil dan memberikan label bernama ‘Illusion’.

Setelah botol-botol berisi cairan yang mengandung ekstasi itu diberikan label hologram, para tersangka kemudian kembali mengirimkan ke lokasi ketiga yaitu berada di salah satu unit apartemen Basura, Jatinegara, Jakarta Timur.

Di tempat itulah, botol-botol di kemas didalam kardus-kardus kecil sehingga siap untuk dikirim ke pelanggan jika sewaktu-waktu ada pemesanan.

Mempack (mengemas) sesuai dengan ukurannya. Jadi di TKP Basura itu banyak sekali kotak yang disiapkan sesuai dengan ukuran dan jumlah botol pemesan. Misalkan dua botol itu mungkin ukuran sedang, 10 botol ukuran kecil dan seterusnya,” papar Calvjin.

Setelah itu, mereka menjual liquid vape narkoba tersebut dengan harga ratusan ribu setelah semua proses terlewati melalui media sosial.

“Harganya Rp350-450. Pemesanannya juga berlangsung secara online dengan pendistribusian melalui dua cara. Yang pertama didistrubusikan dengan jasa ojek online dan yang kedua pendistribusiannya dengan menggunakan jasa ekspedisi,” ucap Calvjin.

Dalam kasus ini, polisi telah menangkap 18 tersangka mulai dari inisiator sampai dengan para peracik. Para tersangka itu berinisial TY (28), HAM (20), VIN (26) COK (35) ternyata sudah mendekam di Lembaga Permasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. DW yang merupakan istri TY dan ER, AG, TM, BUS (26) BR (21), DIK (24), DIL (23), KIM (21), SEP (22), DAN (28), VK (20), AD (27), dan AR (18).

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait