Ketika Pemburu Benur di Sukabumi Beralih Jadi Pengolah Ikan Asin

Tandaseru – Pemerintah melalui menteri kelautan mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan no 56 tahun 2016. Permen itu melarang penangkapan dan atau pengeluaran lobster.

Peraturan ini tentunya menjadi pegangan dasar polisi untuk menangkap seseorang atau kelompok/perusahaan yang melanggar peraturan tersebut. Meski demikian, polisi sebagai Promoter (Profesional, Moderen dan Terpercaya)  tentu tidak tinggal diam sehingga perlu memberikan arahan yang positif para pemburu lobster ini.

Di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat tepatnya di kampung nelayan Pajagan, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, masyarakatnya merupakan pemburu benur atau bayi lobster sebagai mata pencaharian dan penopang kehidupan ekonomi mereka.

Bagi nelayan di sana informasi adanya larangan dan ditangkapnya para pemburu benur melalui Permen No 56/2016 tidak banyak dimengerti dan menjadi penghalang bagi mereka sebagai mata pencaharian. Tingginya harga benur membuat nelayan terus melakukannya meski harus secara diam-diam.

Dalam kondisi seperti ini, sangat tepat polisi sebagai Promoter berperan aktif memberikan penyuluhan agar bisa mengubah kebiasaan masyarakat nelayan di tempat itu sehingga masyarakat tidak terjerat hukum dengan kebiasaan yang dilarang tersebut.

Sejumlah sosialisasi dilakukan polisi yang akhirnya membuahkan hasil. Pelan tapi pasti nelayan Pejagan mulai beralih menjadi pengolah ikan asin dan tidak lagi memburu benur.

Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi mengatakan sejak menjabat pada 8 Desember 2017 perburuan benur memang menjadi perhatiannya.

“Saya mempelajari bagaimana masyarakat di kampung nelayan mencari nafkah. Saya jalin komunikasi dengan tokoh-tokoh nelayan, sampai akhirnya saya bertemu dengan kelompok usaha nelayan,” lanjut Nasriadi.

Nasriadi kemudian bertemu dengan Ketua Kelompok Nelayan Layang Tunggal, Sadad (44) pengolah ikan segar menjadin ikan asin. Komunikasi pun terjalin dan sosialisasi pun bisa dilakukan dengan memberikan keyakinan kepada nelayan untuk beralih kebiasaan seperti kelompok nelayan Layang Tunggal.

Selama tiga bulan kata Nasriadi sosialisasi dilakukan dengan cara kumpul dan ngopi bersama sembarfi memberikan pengarahan. Nasriadi juga menjalin komunikasi, mencarikan bantuan permodalan hingga pangsa pasar. Hasilnya, upaya itupun berbuah hasil para pemburu benur beralih profesi menjadi pengolah ikan asin.

Adanya perubahan yang baik ini pun mendapat respon positif para tokoh nelayan Desa Cikahuripan. Pasalnya, harga jual ikan asin dan benur tidak jauh berbeda.”Kami sangat menghargai upaya Kapolres sehingga bisa beralih ke pengolah ikan asin,” kata satu nelayan.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait

Tandaseru.id menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman pembaca. Mengerti -