Kualitas Udara Pekanbaru Masuk Level Berbahaya, Ini Alat Pendeteksi Asap Karhutla

Tandaseru – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung di Sumatera dan Kalimantan menghasilkan asap yang berbahaya bagi pernapasan manusia.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui laman resminya www.bmkg.go.id menempatkan kualitas udara kota Pekanbaru, Riau dengan kategori berbahaya.

Dari laman tersebut, tercatat konsentrasi PM 10 pukul 12.22 berada di angka 399,41 μgram/m3. Dalam klasifikasi BMKG, konsentrasi PM 10 di atas 350 μgram/m3 sudah dalam kategori berbahaya. Sementara angka normal dari PM 10 harusnya berkisar di angka 0-50 μgram/m3.

Adanya peristiwa ini membuat para peneliti dari dua kampus besar di Amerika Serikat melakukan riset terkait dampak dan polusi udara akibat karhutla di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Dalam jurnal Advancing Earth and Space Science, paparan asap akibat karhutla ini dapat menyebabkan sekitar 36.000 kematian dini per tahun, yang rata-rata terjadi Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Buruknya, jika tren kerusakan dan kebakaran hutan terus terjadi dan tidak ada strategi pengelolaan lahan yang komprehensif, maka kondisi tersebut akan berlangsung selama beberapa dekade kedepan.

Para peneliti juga memperkirakan bahwa level bahwa level PM2,5 (partikel kecil yang berukuran di bawah 2,5 mikron) dalam asap yang berasal dari karhutla di Sumatera dan Kalimantan akan mencapai 18-20 μg/m3 pada periode Juli hingga Oktober di Singapura dan Indonesia.

Angka tersebut hampir dua kali lipat dari ambang batas aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Untuk mencegahnya, sekelompok peneliti dari Columbia University dan Harvard University mengembangkan aplikasi daring baru guna memberikan informasi dan melindungi masyarakat.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id