Mandi Tradisional Turki

Kami tengah berada di kota Istanbul bersama dua orang rekan pria yang berasal dari Jepang dan Spanyol. Kami bersama dengan 83 orang rekan lain datang ke kota tua ini untuk menghadiri pertemuan tahunan yang sangat bergengsi dimana para pimpinan dari seluruh dunia juga hadir di sana. 

Sebelum melakukan perjalanan dinas kali ini, saya pernah mendengar tentang uniknya proses mandi tradisional Turki, tapi saya sama sekali tidak tahu seperti apa pengalaman itu.

Setelah bosan duduk di dalam ruang meeting selama delapan jam akhirnya kami bertiga memutuskan untuk berjalan-jalan santai di jalan utama kota Istanbul. Mendadak rekan saya yang warga negara Jepang menunjuk tanda “Pemandian Tradisional Turki” di pinggir jalan.

Saat itu kami bertiga saling memandang dan semua mengangguk setuju. Dengan penuh semangat kami berjalan cepat masuk ke dalam tempat itu tanpa berpikir dua kali.

Waah bakal jadi pengalaman yang seru nih!! Karena sejak masuk dari pintu utama tadi, tidak ada seorang pun yang bisa berbicara bahasa Inggris di dalamnya. Teman saya yang dari Spanyol dengan yakin terus berkomunikasi kepada resepsionis dengan cara menunjuk jari sambil menggunakan bahasa tubuhnya.

Rok pria

Untuk paket mandi tradisional turki saya membayar sekitar 30 dolar AS, kemudian mereka memberi kami masing-masing sebuah selimut kecil berwarna krem, kalau mau jujur bentuknya lebih mirip rok pria. Resepsionis tadi kemudian mengarahkan kami bertiga ke dalam ruang ganti sambil memerintahkan untuk telanjang dan mengenakan rok pria tadi. 

Kebetulan saya yang paling awal berganti pakaian, jadi setelah memakai rok pria langsung keluar kamar ganti, kemudian diantarkan ke ruangan terdekat.

Ternyata di dalamnya adalah area sauna yang cukup besar dengan temperatur sekitar 50 derajat Celsius. Dan yang membuat saya kaget di dalamnya sudah banyak pria-pria Turki yang telanjang sambil berbincang-bincang. 

Saat itu kami bertiga saling memandang dan semua mengangguk setuju. Dengan penuh semangat kami berjalan cepat masuk ke dalam tempat itu tanpa berpikir dua kali.

Pemandangan di depan saya cukup membuat saya gugup, setelah beberapa menit saya mencoba untuk tenang. Tanpa sengaja saya melihat ke arah kedua teman saya yang lain, ternyata wajah mereka lebih pucat lagi dan kami berusaha beradaptasi agar tidak canggung.

Mendadak datanglah seorang pria Turki dengan badan tinggi besar, berbulu namun usianya sudah cukup tua walau tubuhnya sangat tegap. Pak tua ini menepuk bahu saya, tanpa basa-basi langsung menunjuk ke tanah dan menyuruh saya untuk berbaring rata (seperti papan) di lantai kayu keras yang sedikit lembab.

Setelah sekitar 15 menit disiram, digosok dan dipijit, lalu entah dari mana datangnya ada lagi seorang pria Turki dengan tubuh yang sama besarnya langsung menuangkan satu ember air dingin beku di atas kepala saya.

Pria ini kemudian mulai memakai sabun tradisional dengan spons kasar untuk menggosok setiap jengkal tubuh saya. Dengan santai dia menarik sendi-sendi dan meregangkan tubuh saya dengan cara yang agak mengerikan. 

Dia melakukan ini selama sekitar 15 menit. Setiap prosesnya sangat tidak nyaman lalu dia menunjuk ke kolam renang kecil di seberang ruangan, sambil mengatakan untuk melepaskan rok yang saya pakai. Artinya saya disuruh mandi telanjang. 

Karena takut akhirnya saya berjalan cepat dan saya baru melepaskan rok pria tadi saat melompat ke dalam kolam air dingin bersama pria-pria Turki yang juga telanjang. Entah bagaimana, saya tidak merasa canggung ketika mereka semua menatap saya. Rasanya normal dan biasa saja.

Akhirnya, saya dipanggil untuk kembali berbaring di tempat semula, disuruh bersantai dan bermeditasi sampai tubuh saya kering. Sebagai penutup, kami lalu disuguhi teh tradisional Turki yang menurut saya rasanya kalah jauh dibandingkan nikmatnya Teh Jawa hasil seduhan Pak Mono guru saya.

Kami pulang ke hotel sambil terus tertawa-tawa, apalagi kalau bercerita pengalaman yang cukup memalukan tadi. Namun saya teringat ucapan seorang pria Turki saat berada di dalam kolam air dingin, bahwa ada kepercayaan bagi beberapa pria yang pertama kali mandi tradisional Turki akan membawa keberuntungan.

Percaya atau tidak, ternyata keberuntungan itu memang ada. Setelah tadi malam kami tidur sangat lelap seperti bayi keesokan harinya kami bertiga menjadi peserta yang paling bugar serta berhasil merebut dua hadiah utama… Arigato my dear friends Iwasaki San and Gracias Javier!

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait