Melihat Kesiapan dan Rencana Pengembangan Polisi Udara

Tandaseru – Tidak hanya di darat dan perairan, polisi juga hadir di ruang udara dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat sejalan dengan program Promoter yang dicanangkan Kapolri Jenderal Pol. Muhammad Tito Karnavian.

Di sinilah Direktorat Kepolisian Udara memegang peranan penting dalam memberikan dukungan operasional kepada Mabes Polri dan kesatuan kewilayahan. Keandalannya diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan jaman dan dinamika masyarakat yang sangat tinggi.

Untuk mengetahui kondisi Poludara, tim tandaseru berkesempatan berkunjung ke Mako Poludara di Pondok Cabe, Tangerang, beberapa waktu lalu. Tandaseru disambut oleh Direktur Poludara Brigjen Pol. Drs. Anang Syarif Hidayat dan diajak melihat armada Poludara di dalam hanggar.

Tampak sejumlah pesawat sedang parkir dan menjalani perawatan rutin di dalam hanggar, di antaranya CN295, Fokker 50, Bizjet SP 400, Beechraft 1900D, PZL M28 Skytruck, Diamond DA40, Enstrom 480B, Bell-429, Bell-412, dan BO-105 Bolcow.

Di lapangan udara seluas 170 hektare ini, Poludara berbagi ruang dengan instansi lain, termasuk untuk penerbangan sipil serta pangkalan udara TNI. Tidak heran jika sesekali terlihat pesawat sipil dan militer terbang dan mendarat.

Pesawat tipe A pertama Polri, CN295. (tandaseru.id)

Brigjen Anang mengakui Pondok Cabe sudah tidak memadai bagi Poludara sehingga diperlukan pangkalan udara sendiri yang lebih besar.

“Pondok Cabe relatif sempit karena digunakan banyak instansi dan dekat permukiman. Mudah-mudahan Poludara segera punya pangkalan udara sendiri. Sekarang masih tahap persiapan,” paparnya.

Untuk operasional, Poludara kini memiliki 59 armada, terdiri dari helikopter (rotary wing) dan pesawat terbang (fixed wing). Namun, hanya 50 persen yang siap beroperasi atau serviceable, sisanya dalam pemeliharaan atau tidak laik terbang karena sudah tua.

“Kesiapan armada kita saat ini sekitar 50 persen dari jumlah itu. Dari 10 pesawat hanya lima siap operasional, sementara heli yang siap sekitar 20 unit saja. Kondisi ini tentu saja tidak memadai dengan kondisi di lapangan,” kata Brigjen Anang.

(tandaseru.id)

Menurut dia, penugasan (BKO) pesawat di daerah kini baru 40 persen dari 34 Polda di seluruh Indonesia. Padahal, idealnya setiap Polda dilengkapi pesawat, baik fixed wing maupun rotary wing, sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

“Perkembangan jaman dan dinamika masyarakat sangat tinggi, ancaman di masing-masing juga sangat tinggi. Oleh karena itu, ke depan semua Polda diharapkan punya pesawat sendiri,” ujarnya.

Adapun soal pengawakan, pelatihan, pembinaan teknis dan perawatan pesawat dari Mabes tidak masalah, tetapi keberadaan Poludara nanti betul-betul organik di Polda tersebut, seperti Polair saat ini.

Di tengah kondisi tersebut, tegas Brigjen Anang, Poludara selalu siaga mendukung operasional Polri, seperti mobilisasi personel untuk pengamanan di daerah dan bantuan bencana alam, ataupun angkutan VIP Polri.

Tambah armada

Untuk meningkatkan kapasitas Poludara, Polri merencanakan penambahan 35 unit alat utama (alut) yang terdiri dari berbagai jenis pesawat. Rencana ini telah tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) Polri tahun 2020-2024.

Sesuai dengan Renstra, ada beberapa rencana yang dikembangkan, di antaranya pengadaan 10 unit helikopter Augusta Westland. Prosesnya sudah berjalan dan direncanakan mulai akhir tahun ini mulai berdatangan.

“Kita juga butuh pesawat pengganti Bolcow. Itu pesawat maritime patrol, yakni helikopter maritim yang mampu untuk patroli maritim dengan sejumlah persyaratan seperti tahan korosi dan perawatannya mudah,” ungkap alumni Akpol 88 ini.

Pesawat latih Diamond DA40. (tandaseru.id)

Ada beberapa pilihan pesawat, seperti K29, Panther, Airbus, dan sebagainya. Yang penting memenuhi spesifikasi khusus untuk perairan. Pengadaan maritime patrol (MPA) ini direncanakan pada 2020.

Selain itu, lanjut Brigjen Anang, Poludara membutuhkan pesawat terbang MPA. Pesawat fixed wing ini mampu terbang di atas laut dengan ketinggian relatif rendah, stalling speed kecil dan memiliki daya tahan, serta dilengkapi dengan kamera dan peralatan untuk memantau maritim kita yang luas. Sesuai Renstra, pengadaannya dimulai tahun depan.

“Kami perlu mengembangkan sistem patroli maritim karena Poludara sudah bergabung kembali dengan Polair di bawah Korpolairud,” ujarnya.

Pesawat lainnya yakni angkutan untuk VIP. Saat ini, Poludara sudah memiliki Bizjet SP 400 dan akan ditingkatkan dengan pesawat lebih besar untuk angkutan VIP.

(tandaseru.id)

Pada 2021, Poludara bersama Polair akan mengadakan kapal dan heli (selevel Panther) dalam satu paket sebanyak lima unit. Kapal ini termasuk tipe A1 dengan panjang 80 meter ke atas. “Mudah-mudahan rencana ini bisa segera terealisasi dengan.”

Tidak hanya itu, Poludara membutuhkan pesawat amfibi yang bisa take off dan landing di air karena dilengkapi float. Salah satu pilihan adalah pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia yang masih dalam tahap uji coba. Pilihan lain yang sudah siap, misalnya Viking dan Cessna Caravan.

Pesawat ini dinilai sangat berguna untuk penegakan hukum di wilayah pelosok. “Mudah-mudahan N2019 lulus uji sehingga pengadaan pesawat amfibi bisa dimulai tahun 2022 sesuai Renstra,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan kemampuan pemantauan udara, Poludara juga berencana melengkapi alut dengan drone berupa heli dan fixed wing. Drone ini berguna untuk patroli perbatasan 24 jam, teruama pada malam hari. Sejalan dengan rencana ini, Poludara juga menyiapkan command center di Pondok Cabe.

(tandaseru.id)

Peralatan peralatan pendukung lainnya yang akan disiapkan Poludara yakni simulator untuk melatih personel. Saat ini, Poludara belum punya simulator heli, sedangkan simulator fixed wing analog yang digunakan sekarang perlu ditingkatkan ke kelas kokpit. Pengadaan simulator ini diharapkan bisa teralisasi mulai tahun 2022.

Penambahan peralatan tersebut, tutur Brigjen Anang, tentu perlu didukung dengan kesiapan sumber daya manusia. Tahun ini, Poludara direncanakan mendapat tambahan 19 penerbang dari total 30 penerbangan hingga tahun depan.

Tambahan personel antara lain berasal dari Akpol yang dididik lagi di sekolah penerbangan, lulusan sekolah penerbangan yang direkrut menjadi polisi, serta seleksi Bintara Polri lalu dididik di sekolah penerbangan, dan jalur Bakomsus (Bintara Kompetensi Khusus). (hl)

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait