Meraup Suara Milenial di Era Demokrasi Digital

Generasi milenial bakal sangat menentukan hasil Pemilu 2019. Tidak heran kedua kubu calon presiden-wakil presiden dan parpol berlomba berebut suara mereka.

Bagaimana tidak, suara milenial ‘begitu saya menyebutnya’, diperkirakan hampir separuh dari total jumlah pemilih yaitu sekitar 80 juta jiwa atau 40% suara (Kompas, 15 Oktober 2018).

Tentu kita harus mengetahui konstruksi politik generasi ini, sebelum menyusun strategi untuk memikat mereka sehingga mau memberikan suaranya.

Survei yang dilakukan CSIS 2017 menyebutkan hanya 2,3% generasi milenial tertarik politik. Artinya, sebagian besar dari mereka tidak perduli dengan hiruk-pikuk politik.

Suara milenial kemudian ditempatkan sebagai ‘swing vote’ karena konstruksi politiknya masih mengambang. Mereka belum tahu bahkan terkesan ‘cuek’ melabuhkan suaranya ke kubu atau parpol yang mana.

Tapi suara mereka harus direbut, demikian kira-kira lontaran dari para kontestan Pemilu dan Pilpres 2019. Pada akhirnya rebut-merebut suara milenial menjadi permasalahan unik dari masing-masing kubu yang berkontestasi.

Era demokrasi digital

Berangkat dari masalah ini, saya tertarik memetakan generasi milenial dalam mengkonstruksi politik era demokrasi digital.

Saya kemudian melakukan focus group discussion (FGD) dengan mereka dan hasilnya menunjukan bahwa generasi milenial dalam mengkonstruksi politik era demokrasi digital tidaklah tunggal.

Setidaknya ada 4 tipologi mereka, yaitu generasi rekreatif, pragmatik, ideologis, dan skeptis. Dari keempat tipologi tersebut yang paling mendominasi adalah generasi rekreatif.

Generasi rekreatif tidak terlalu tertarik politik. Mereka ini kalau dalam momentum politik seperti Pemilu, Pilpres, sukanya yang ringan-ringan saja.

Kebosanan akan menjangkiti mereka ketika para calon menyampaikan visi dan misi serta programnya seperti memberikan ceramah, pidato atau gaya komunikasi sejenisnya.

Akses informasinya dalam media baru bersifat sekilas-sekilas saja dan tidak suka reflektif. Oleh karena itu apabila kampanye terhadap mereka, penyampaian visi, misi, dan program harus bersifat ringan, jenaka, sensasional, heroik, berapi-api tapi cooldan mengena.

Generasi rekreatif tidak terlalu tertarik politik. Mereka ini kalau dalam momentum politik seperti Pemilu, Pilpres, sukanya yang ringan-ringan saja.

Mereka menomorsekiankan capaian program-program yang dijanjikan dalam kampanye. Bagi mereka yang penting kampanye calonnya cooldan bisa dijadikan idola untuk memenuhi hasrat sensasional mereka.

Oleh karena itu, kampanye harus dikemas dalam bentuk videografis dan infografis serta diviralkan melalui media sosial. Sebab di situlah dunia mereka dan di dunia itu mereka menemukan hasrat cool-nya.

Saat Pilpres Amerika Serikat beberapa waktu lalu, Presiden Donald Trump tahu persis karakteristik suara milenial di era demokrasi digital ini.

Saat posisinya mulai tersaingi oleh Hillary Clinton, Trump kemudian mengeluarkan pernyataan akan membangun tembok perbatasan AS-Meksiko sepanjang 3.200 km yang dapat melindungi negara Amerika dari serbuan imigran gelap.

Sensasional dan cool

Pernyataan Trump dianggap heroik, sensasional, dan cool. Tidak berapa saat kemudian suara yang mendukungnya meningkat.

Setelah terpilih dan hingga saat ini tembok yang dimaksud tidak kunjung dibangun, tapi tidak ada juga kemudian suara milenial di media sosial yang mempersoalkan janjinya tersebut. Begitulah generasi milenial, bagi mereka yang penting adalah cool, realisasi urusan nomor sekian.

Kembali kepada konteks Pemilu dan Pilpres 2019 di Indonesia, mengapa para kontestan tidak ada yang mencoba merangkul komika-komika muda yang saat ini sedang booming di Indonesia.

Tengoklah dalam setiap penampilan mereka melakukan stand up comedy, selalu dipenuhi oleh generasi milenial. Belum lagi followers mereka di media sosial yang luar biasa banyaknya.

Para komika ini bisa menjadi andalan untuk menjaring suara milenial. Visi, misi, program dari para kontestan dapat disampaikan oleh para komika dengan bahasa yang “ringan dan asyik” dipahami generasi milenial.

Bisa jadi bagi generasi milenial tidak memperdulikan substansi yang disampaikan, tapi melihat siapa yang menyampaikan.

Sepertinya ruang-ruang di mana Parpol mengandalkan tampilan artis cantik, ganteng, atau “seksi” untuk menjaring suara, saat ini harus dibagi ruangnya dengan penampilan para komika ini.
 Semoga dapat menginspirasi.

 

Kombes Pol. Dr. Barito Mulyo Ratmono

Alumni Akpol 1996
Doktor Kajian Budaya Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait