Muka Air Tanah Turun di Jakarta, ESDM: Di Ancol Turun 7 Cm per Tahun

Tandaseru – Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Kementerian ESDM, Andiani menyebutkan kondisi air tanah Jakarta telah mengalami penurunan permukaan.

Penurunan muka air tanah ini akan berkontribusi terhadap penurunan tanah Jakarta dikarenakan pemanfaatan air tanah masih dominan dimanfaatkan sebagai sumber air gedung-gedung di Jakarta.

Air tanah berada di pori-pori batuan yang semulanya terisi air setelah diekstrasi menjadi kosong ketika air dipompa naik ke atas permukaan. Antarbutiran di bawah tanah terjadi pemadatan, sehingga akhirnya tanah bisa ambles dan mengalami kerusakan.

“Penurunan tanah di Jakarta terjadi dengan kecepatan bervariasi. Secara umum, sisi utara lebih cepat daripada sisi selatan,” ungkapnya saat acara mini talkshow Selamatkan Air Tanah Jakarta: Sekarang Atau Tunggu Jakarta Tenggelam?, Minggu (15/9) pada  Car Free Day.

Dia mengungkapkan di sisi utara (daerah Ancol), muka tanah turun hingga sekitar 7 cm per tahun didasarkan pada data peta zona kerusakan air tanah pada Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta pada tahun 2013 dan pada tahun 2018 hasil kegiatan survei dan penelitian Balai Konservasi Air Tanah- Badan Geologi Kementerian ESDM.

Dalam interaksi dengan masyarakat, Eni warga Rawa Buaya Jakarta Utara menanyakan “Di Rawa Buaya, musim hujan kebanjiran, musim kemarau kekeringan, bagaimana mengelola air itu agar banjir tidak berlebih dan kemarau tidak kekurangan air?

Menjawab pertanyaan tersebut, Andiani mengatakan diperlukannya pengelolaan di daerah imbuhan dan daerah lepasan air. Daerah imbuhan air Jakarta adalah Selatan Jakarta dan Depok, disana perlu dilakukan konservasi agar resapan air terjadi misalnya dengan membuat resapan air, membuat regulasi/ peraturan terkait building ratio yang perlu ketat dilaksanakan.

Sedangkan di daerah lepasan air, daerah pemanfaatan/pengambilan air perlu dikendalikan. Maksudnya, pengambilan air tanah perlu mendapat izin. “Izin tersebut harus berdasarkan rekomendasi teknis,” tuturnya.

Dalam rekomendasi teknis pengambilan air tanah yang diambil disesuaikan dengan potensi yang ada, sehingga ijinnya disesuaikan dengan debit yang diperbolehkan diambil dan kedalaman sumur.

 

 

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id