Novel Baswedan Menduga Sidik Jari di Cangkir Penyiraman Air Keras Dihapus Polisi

Tandaseru – Penyidik senior KPK, Novel Baswedan mengaku mendapat laporan jika sidik jari yang berada di cangkir penyiraman air keras dihapus oleh polisi. Hal ini dikatakan setelah polisi menyebut sidik jari itu hilang karena diduga dipegang oleh saksi menggunakan sarung tangan.

“Novel mendapatkan informasi kalau sidik jari dihapus oleh anggota polisi,” kata Anggota Tim Kuasa Hukum Novel, Aghiffari Aqsa saat dihubungi, Selasa (25/6).

Alghif mengatakan, sebelum menyebut sidik jari itu hilang, polisi pernah menerangkan bahwa barang bukti cangkir yang ditemukan tak jauh dari lokasi penyerangan terhadap Novel itu tidak ditemukan sidik jari. Alasannya, karena gagang cangkir kecil.

“Kemudian bilang lagi kalau sidik jari terhapus. Ada dugaan dihilangkan,” ujar Alghif.

Lebih jauh, Alghif menyebut Novel mengakui bahwa ada seorang saksi melihat pelaku menggenggam sempurna cangkir yang berisi air keras tersebut. Maka itu, tidak mungkin sidik jari pelaku hilang.

“Cangkir itu diamankan oleh saksi dengan tidak menyentuh secara langsung. Saksi itu tetangga Novel. Dia sudah di BAP juga,” tutur Alghif.

Alghif mengungkapkan, kejanggalan sidik jari itu diceritakan Novel saat menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta Selatan pada Kamis, 20 Juni 2019. Ada lima penanya saat itu, yakni mantan Wakil Pimpinan KPK dan guru besar hukum pidana Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji; Ketua Setara Institut, Hendardi; Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti; mantan Komisioner Komnasham, Nur Kholis, dan Ifdhal Kasim.

Pemeriksaan itu juga disaksikan oleh Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode M Syarief. Para penyidik Polri berada di belakang mendengarkan keterangan Novel.

Meski begitu, Alghif yang menyaksikan pemeriksaan mendampingi Novel menilai tak ada respon positif dari Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan Polri itu. Mereka hanya merespon dengan menanyakan identitas anggota polisi yang menginformasikan.

“Tidak ada respon yg signifikan kecuali menanyakan siapa polisi yang informasikan. Novel tidak berikan nama, karena informan tidak ingin namanya dibuka,” pungkas Alghif.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono sebelumnya membenarkan hilangnya sidik jari pada cangkir tersebut. Menurutnya, tak ada pengawasan terhadap saksi yang saat itu mengamankan cangkir.

“Iya (sidik jari) hilang. Ada beberapa kemungkinan, bisa pakai sarung tangan, tapi ini semua masih bagian dari penyidikan dari pihak penyidik,” ucap Argo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 23 Agustus 2017.

Novel diserang orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017, usai menjalani salat Subuh di Masjid Al-Ihsan di dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun, hingga 800 hari pascateror, polisi belum juga mengungkap pelaku atau otak intelektual dari teror keji tersebut.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait