Paman Saya Orang Jawa

Paman saya sudah berpulang tepat satu minggu yang lalu. Saya sadar kalau saya tidak dapat lagi berbicara secara fisik dengannya. Saya kira hal itu adalah salah satu bentuk paling kejam dari terputusnya hubungan antara kehidupan dan kematian.

Paman saya sudah tidak ada lagi dan saya tidak bisa mengatakan kepadanya betapa saya sangat menghormati dan mencintainya.

Saya juga tidak bisa lagi bertanya apa pendapatnya tentang sebuah isu politik, agenda kebangsaan, semangat nasionalisme atau tentang kebudayaan Jawa yang sangat dicintainya.

Saya memiliki banyak bahan diskusi serta rekaman batin dengan beliau di masa hidupnya. Tapi sekarang, Paman saya tidak lagi bersama kami kecuali dalam ruh.

Tidak ada air mata yang bisa membersihkan luka dari kehilangan orang yang kita hormati, dan saat ini saya hampir tidak dapat membayangkan wajah dan senyumnya yang sangat arif.

Beliau adalah salah seorang mentor kebangsaan paling awal bagi saya, seorang suami terkasih bagi adik perempuan ayah yang cantik serta seorang paman yang dicintai oleh keluarga besar kami.

Paman saya memiliki banyak kebijaksanaan, selera humornya begitu santun dan yang paling mengesankan adalah beliau mempunyai nada suara yang demikian lembut.

Paman bisa membuat sebuah peristiwa biasa tampak menarik dengan bakatnya bercerita. Belum ada yang bisa bercerita secara elegan seperti dirinya.

Paman saya adalah seorang pekerja keras tulen, dalam kehidupan dia selalu berpikir bahwa pencapaian akhir dari tujuan seseorang tidak didasarkan pada balasan atau penghargaan apa pun.

DNA Seniman

Paman pernah berkata kepada saya bahwa Indonesia, Tanah Air yang sangat dia cintai, mampu bertahan karena dorongan filosofis dari anak bangsanya. Betapa Paman sangat mencintai negaranya. Dan itu adalah Paman saya, seorang pria Jawa yang saya kira beliau memiliki DNA seorang seniman.

Dari beliau saya belajar untuk tidak hanya melihat apa yang sudah jelas secara lahir, tetapi juga belajar untuk bisa merasa, mendengar dan berpikir tentang makna tersembunyi dari kehidupan. Ojo rumongso biso, nanging biso rumongso katanya, yang berarti jangan merasa bisa tetapi bisa merasa.

Suatu hari saya pernah kehilangan uang dalam jumlah yang cukup besar. Dengan senyumnya yang lembut dan khas beliau kemudian berpesan kepada saya Sing wis lunga lalekna, sing durung teko entenana, sing wis ana syukurana – yang sudah pergi relakanlah, yang belum datang tunggulah dan yang sudah ada syukurilah.

Perlu beberapa waktu bagi saya untuk mencerna dan mengerti apa sebenarnya yang dikatakan oleh Paman, pada akhirnya saya bisa memahami betapa dalamnya makna yang beliau sampaikan.

Paman saya senang berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan kami semua. Paman berbicara kepada seorang anak dengan cara yang sama seperti ketika dia menjadi orang dewasa.

Beliau dia tidak pernah melihat perbedaan antara orang kaya, miskin, pria, wanita dst mereka semua mempunyai derajat yang sama di matanya.

Sing wis lunga lalekna, sing durung teko entenana, sing wis ana syukurana

Saat banyak terjadi gempa dan bencana melanda seluruh nusantara, salah satu nasihat paling berkesan dari Paman saya adalah Alam ora bisa dilawan, awu sing semebar iku sejatine berkah gusti kanggo njaga kesuburan bumi.

Mulane ayopada disyukuri wae – Alam tidak akan bisa dilawan, abu yang beterbangan adalah berkah dari Tuhan untuk menjaga kesuburan bumi. Untuk itu mari kita syukuri saja.

Bagi saya dan seluruh keluarga besar, kami telah kehilangan seorang pria yang memiliki cadangan kearifan yang mendalam. Kami sedih karena akan sangat merindukannya, karena kehidupan ini tidak akan pernah sama tanpa dirinya.

Paman saya seharusnya hidup sedikit lebih lama, karena dia memiliki lebih banyak untuk bisa diberikan.

Yen kowe tresna mung amarga rupa, banjur kepiye angonmu tresna marang gusti kang tanpa rupa? Kalau kamu cinta hanya karena wajah, lalu bagaimana kamu bisa mencintai Tuhan yang tanpa rupa?

Matur nuwun sanget dan selamat jalan Paman, semoga sekarang Paman berjalan bersama ruh leluhur yang mencintai Tuhan-Nya… Aamiin ya robbal alamin

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait