Parameter Dasar Numerik Al Quran

Numerik Al Quran

Paradigma numerik Al Quran memang masih terbilang muda usianya, peminatnya pun masih relatif sedikit. Sesuatu yang wajar tentunya bila mengingat wilayah pengkajian “saudara kembarnya”, paradigma verbal, telah lebih dulu menjadi pusat minat kajian para cendikia muslim dan para pemerhati ilmu Al Quran.

Mengapa hal ini terjadi, mungkin tak perlu dipermasalahkan terlalu mendalam. Namun di usia dininya, paradigma numerik mulai memperkenalkan jati dirinya sebagai sebuah orientasi kajian yang ilmiah dan teruji, bahkan mampu menyajikan solusi aplikatif dalam menjawab realitas dan problematika umat.

Karena sejatinya tidak sedikit umat Islam yang perlahan mulai hilang (krisis) kepercayaan akan kitab sucinya sendiri, yang sebelumnya diyakini sebagai huda linaas (petunjuk bagi sekalian manusia). Namun realitanya (bagi mereka) masih dalam wilayah yang samar.

Untuk itulah, kami dari salah satu peminat kajian numerik Al Quran merasa perlu untuk mulai mensosialisasikannya kepada sesama. Berikut ini disampaikan beberapa referensi ayat Al Quran sebagai parameter dasar kajian numeriknya.

✨Dalam sebuah ayat (Qs. 89 Al Fajr 3) Allah bersumpah:  ”Demi yang genap dan yang ganjil.”

Rasanya tidak perlu terlalu jauh mencari asumsinya, yang dimaksud sesuatu yang genap dan ganjil di sini tentu berkaitan dengan sistem bilangan, angka atau numeral.

Yang perlu diyakini di sini adalah penekanan atas sumpah tersebut, kalau Allah sudah bersumpah akan sesuatu hal, pastinya ada sesuatu yang sangat luar biasa di balik sumpahNya tersebut.

Terlebih lagi bila sumpah (tentang bilangan) ini dikaitkan dengan bilangan yang terlahir dari Al Quran, firmanNya sendiri.

✨Utuhnya, Qs. 89 Al Fajr, berjumlah 30 ayat.

Dengan landasan jumlah ayatnya (30), untuk itu diperhatikan kembali 2 surat (dari 114 surat) yang berjumlah 30 ayat.

Yaitu Qs. 32 As Sajdah dan Qs. 67 Al Mulk . Seperti halnya Qs. 89 Al Fajr di atas, yang diperhatikan adalah ayat ke 3 nya, yaitu:

🌠 Qs. 67 Al Mulk 3 :

“Yang Menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?”

Pada ayat ini, Allah menegaskan tentang sebuah konsep keseimbangan yang sempurna, tanpa cacat. Sebuah keseimbangan tentunya akan menunjukkan sebuah struktur tertentu.

Dan tentunya untuk mengukur sebuah tingkat keseimbangan atas sebuah struktur, parameter ilmu yang terdekat dan mudah diaplikasikan adalah sistem bilangan.

Keseimbangan sempurna

Khusus dalam wilayah kajian bilangan Al Quran, terbukti dari analisa para pemerhati numerik Al Quran, betapa data statistik sistem bilangan genap dan ganjil di Al Quran menunjukkan sistem keseimbangan yang sempurna, walaupun dikaji dalam beberapa sudut pandang berbeda.

Misalnya: Keseimbangan jumlah ayat genap dan ganjil, keseimbangan 28 nomor surat Madaniyah, keseimbangan jumlah ayat genap dan ganjil 86 surat Makiyah, dll. (Untuk hal ini, akan dipaparkan lebih lanjut pada materi tersendiri).

Namun, yang perlu dipahami lebih jauh, sebuah konsep keseimbangan ternyata tidaklah melulu bercerita akan keseimbangan kuantitatif, akan tetapi terkandung pula di dalamnya sebuah keseimbangan yang sistemik.

numerik al quran

Di dalam keseimbangan tersebut memiliki sebuah sistematika struktural dan sistem kerja yang saling terkait, saling menjelaskan, saling bersinerji, bahkan saling “memproteksi” satu sama lainnya, sehingga keutuhan keseimbangannya terjaga.

🌠 Qs. 32 As Sajdah 3:

“Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan, “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya.” Tidak, Al Quran itu kebenaran (yang datang) dari Tuhan-mu, agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah didatangi orang yang memberi peringatan sebelum engkau; agar mereka mendapat petunjuk”.

Di sinilah letak inti permasalahannya, ternyata dengan segala keseimbangan dan sistematika bilangan di Al Quran (yang sudah banyak dipaparkan para cendikia numerik Al Quran), masih saja sebagian umat Islam menganggap bahwa terbentuknya hal itu hanya karena kebetulan saja, terlalu dicocok-cocokan, dipas-pasin.

Padahal Allah sudah menjamin bahwa Al Quran bukanlah hasil karya manusiawi, bahkan seorang Rasulullah pun tidak akan mampu menghasilkan sistematika Ilahiah yang demikian sempurna.

Lalu bagaimana dengan sebagian umat yang sudah dalam taraf meyakini Al Quran memang luar biasa mukjizatnya?

Ternyata, landasan keyakinan tersebut “hanya” cukup mengantarkan pada taraf ketakjuban dan kekaguman saja. Ya jelas saja sistematikanya sempurna, penciptanya kan Allah, apa yang tidak mungkin diciptakan oleh  Allah? Yang Maha segalanya.

Blue print alam semesta

Tanpa dilanjutkan dengan pemikiran, mengapa susunan keseimbangan itu diciptakan? Adakah pesan tersembunyi di sana ? Adakah maksud dan tujuannya? Adakah Allah menciptakannya, hanya untuk sekedar aksesoris saja?

Mungkinkah Allah menciptakan dan mengkondisikan suatu keadaan (terlebih diiringi pula dengan sumpahnya), adalah untuk sesuatu yang tak memiliki arti, bahkan sia-sia belaka?

Bukankah dengan bukti-bukti kesempurnaan sistematika bilangan tersebut, pada akhir ayat di atas, Allah pun menyatakan “agar engkau mendapat petunjuk?” Petunjuk untuk hal apa dan bagaimana?

Karena titik tolaknya berawal dari sistem keseimbangan bilangan Al Quran (huda/petunjuk) yang dikenal sebagai blue print alam semesta, tentunya sasaran petunjuk tersebut adalah untuk alam semesta ini.

Dimana dengan sistem keseimbangan tersebut, Al Quran mampu merekonstruksi suatu ketidakseimbangan yang terjadi. Bisa ketidakseimbangan diri manusia, alam, sosial dll.

Karena pada intinya, seluruh problematika manusia dan alam semesta, berawal dari terganggunya sistem keseimbangan struktural di dalamnya.

Untuk itulah, Al Quran sebagai manual book dari blue print alam semesta ini, bila dibacakan sistem struktural keseimbangannya (pola baca terstruktur), akan terjadi semacam “dialog” antara Al Quran dan alam semesta, sehingga terjadi penyelarasan kembali titik keseimbangannya.

Tentunya yang dimaksud dengan sistem pola baca terstruktur disini, haruslah di awali pula dengan analisa yang mendalam, sehingga dari berbagai sistem struktur keseimbangan tersebut akan tepat sasaran dan tepat guna, sesuai peruntukannya.

 

Syaiful Husein

Penulis Buku Paradigma Numerik dan Struktur Al Quran

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait