Pengakuan Seorang Pekerja

Siang itu hari sangat panas walaupun kami berada dalam sebuah mall di Jakarta Selatan. Saya ditemani dua orang rekan dari perusahaan tempat sahabat saya bekerja.

Sahabat saya bernama Pak Agus, usianya lebih tua dari saya, berpenampilan tenang dan orangnya sangat cerdas.

Duduk agak jauh disamping beliau, seorang pemuda bernama Abdul, dia sering tersenyum dan tubuhnya sangat tinggi—mungkin hampir 2 meter, dengan ukuran kaki yang sangat besar.

Saya sudah mengenal Pak Agus lebih dari 12 tahun, tetapi saya baru pertama kali bertemu dengan Mas Abdul. Maka saya pun berusaha untuk mengenalnya dengan lebih baik.

Sambil bercanda saya komentar, Waahh Mas Abdul pasti pemain basket nih. Tingginya sama dengan ring basket.

Abdul kemudian tertawa sambil menunjukkan kaus kaki yang dia pakai dan ternyata panjangnya hampir setinggi lutut ia pun memamerkan ukuran sepatu sneakers yang dipakainya sambil bertanya, Tebak Pak ini size berapa ayo?

Satu detik kemudian bau kaki, sneakers dan kaus kaki yang dipakai Abdul menyerang hidung saya dengan tajam.

Baunya seperti susu asam yang dibiarkan selama sebulan di dalam gudang. Kepala saya berusaha menjauh dan bergerak untuk mencoba mendapatkan udara segar.

Saya mendengar Pak Agus dan Abdul tertawa puas melihat saya pusing menghirup bau sangit bin apek tadi.

Saya merasa sedang dikerjain, tanpa mereka sadari saya tangkis semua aroma sup busuk makanan genderowo tadi dengan mengeluarkan tenaga dalam alami yang berasal dari mantra sakti dan pengolahan batin yang telah saya kuasai sejak lama.

Selesai membaca doa dalam hati, mendadak wajah Abdul berubah menjadi murung. Dengan lesu kemudian Abdul mengaku: Iya Pak saya memang bau dan berkeringat sangat banyak.

Sejak SMP ia menderita “hiperhidrosis” yaitu kondisi di mana seseorang berkeringat secara berlebihan, yang terkadang tidak diakibatkan oleh suhu panas ataupun olahraga namun penderita hiperhidrosis mengeluarkan keringat lebih banyak dari normal.

Satu detik kemudian bau kaki, sneakers dan kaus kaki yang dipakai Abdul menyerang hidung saya dengan tajam.

Abdul melanjutkan pengakuannya: Saya adalah kutukan dari keberadaan saya. Ketiak saya berada di pusat alam semesta. Abdul pernah harus mengganti pakaian yang basah oleh keringat sebanyak 6 kali dalam satu hari bahkan kemeja yang baru ia beli pun menjadi bau.

Abdul sering ke toilet dan menggosok ketiak dengan sabun tangan sebelum makan bersama orang lain. Pernah melapisi baju dengan handuk kertas, menempelkan kain basah, pokoknya keringat dan bau ini telah merusak apa pun yang dia pakai, Abdul pun sudah lama memakai deodoran resep dokter yang terbuat dari aluminium klorida.

Dulu banyak orang tua teman Abdul di sekolah yang meringis sedih ketika dirinya akan masuk ke mobil mereka. Singkatnya Abdul tidak pernah memiliki interaksi dengan rekan yang menyenangkan.

Keajaiban

Tetapi mendadak datang sebuah keajaiban. Walau awalnya Abdul ingin bunuh diri karena harus membayangkan banyak pekerja pria dan wanita di kantor ini, semuanya berpakaian wangi, dan akhirnya mereka akan menghina dirinya dengan panggilan “pegawai magang bau”.

Abdul juga sudah membayangkan ketakutan pekerja lain ketika ia harus berjalan ke meja kerja mereka dan mereka terus menahan nafas sampai wajahnya pucat hamur biru karena harus menunggu Abdul meninggalkan meja mereka dalam damai.

Sampai akhirnya Abdul bertemu dengan Pak Agus. Beliau dengan tulus berkata kalau Abdul adalah seorang pekerja yang cerdas, penulis kode dan aplikasi yang sangat berbakat.

Pak Agus bilang karir Abdul akan berkembang lebih cepat jika ia berhenti menghukum diri sendiri, dan belajar mengasihi orang lain dengan cara fokus mengolah potensi diri kita sendiri.

Sejak saat itu Abdul rajin mengolah diri lahir dan batin seperti mengubah pola makan, diet khusus bahkan mencoba akupunktur. Tidak lupa Abdul pun rajin berpuasa, latihan tersenyum dan banyak lagi.

Lalu bagaimana hasilnya? Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil, saat ini ketiak Abdul sudah tidak bau lagi. Tapi anehnya aroma kaki Abdul yang sebelumnya dia bilang normal sekarang justru menyengat tajam.

Mungkin Abdul merasa iba melihat saya tetap diam tidak menjawab pertanyaan awal tentang size sneakersnya. Lalu Abdul menutup curhatnya dengan kalimat dahsyat ini: Seperti ungkapan terkenal itu loh Pak – bau itu datangnya dari ketiak turun ke kaki… Huweeeekks!!

 

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait