Peringatan saat Menjalani Kehidupan yang Sangat Cepat

Seorang eksekutif muda dan sukses sedang mengendarai sebuah mobil BMW terbaru yang diperolehnya dari kantor tempatnya bekerja. Ia baru saja bergabung sebagai salah seorang direktur termuda di perusahaan multinasional asing tersebut.

Sore itu ia memacu mobil BMW barunya dengan sangat kencang karena ingin segera pulang menuju rumahnya.
 
Dalam kondisi mobil yang berlari begitu cepat, secara sekilas dia melihat seorang anak berlari ke arah jalan raya namun tertutup di antara mobil-mobil yang sedang diparkir dengan rapi.

Dia kemudian sedikit melambatkan laju mobilnya karena kuatir kalau nanti si anak mendadak menyeberang jalan. Namun karena tidak ada tanda si anak muncul dia langsung memacu kembali mobilnya dengan kencang.
 
Beberapa detik kemudian, mendadak ia mendengar suara braaaakk…. Ternyata sebuah batu bata mengenai pintu mobil BMW barunya! Dengan penuh emosi ia langsung menginjak rem dan mundur ke tempat dari mana batu bata itu dilempar.
 
Eksekutif muda itu keluar dari mobilnya, dan langsung mencengkeram kaus seorang anak kecil yang diam berdiri dan mendorongnya ke mobil lain yang sedang diparkir sambil berteriak:

Kamu yang tadi melempar batu bata? Kamu pikir kamu siapa? Main lempar sembarangan batu bata ke mobil orang!! Itu mobil baru dan memperbaiki pintu BMW harganya mahal sekali! Mengapa kamu melakukan itu?
 
Tolong Pak… Saya minta maaf, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi, jawab anak itu. Saya tadi melempar batu bata karena tidak ada orang lain yang akan berhenti.

Dia membiarkan penyok di pintu BMW itu untuk mengingatkannya agar tidak menjalani kehidupan dengan begitu cepat…

Air mata mulai menetes ke dagu anak itu ketika dia menunjuk ke sekitar mobil yang diparkir. Itu Ayah saya, dia terguling dari trotoar dan jatuh dari kursi rodanya dan saya tidak bisa mengangkat tubuhnya.

Sambil menangis, anak itu bertanya kepada eksekutif muda yang sukses itu: Maukah Bapak membantu saya mengangkat Ayah saya kembali ke kursi rodanya? Dia terluka dan terlalu berat bagi saya untuk bisa mengangkatnya.

Mendengar kalimat polos anak tadi, si eksekutif muda berusaha melihat situasi dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Dengan sigap, dia segera membantu mengangkat tubuh Ayah yang jatuh untuk menaiki kursi rodanya, menyeka goresan serta luka yang dialaminya, sambil memeriksa dan bertanya apakah semuanya baik-baik saja.

Tuna wicara

Sang Ayah ternyata seorang tuna wicara dan hanya menjawab pertanyaan si eksekutif muda melalui bahasa isyarat. Terima kasih dan semoga Tuhan memberkati Bapak, demikian balas anak tadi menyampaikan bahasa isyarat dari Ayahnya.
 
Sambil menarik napas panjang, eksekutif muda itu kemudian memperhatikan bagaimana anak lelaki itu berusaha mendorong kursi roda ayahnya sambil menuruni trotoar menuju rumah mereka.

Dia kemudian berjalan dan kembali ke BMW barunya, baginya perjalanan pulang sore ini terasa begitu panjang dan lama. Dia kemudian memutuskan untuk tidak pernah memperbaiki pintu BMW barunya tadi.
 
Dia membiarkan penyok di pintu BMW itu untuk mengingatkannya agar tidak menjalani kehidupan dengan begitu cepat sehingga seseorang harus melemparkan batu bata kepada kita hanya untuk mendapatkan perhatian kita.
 
Alam semesta ini bekerja dengan caranya sendiri. Jika kita tenang, maka kita akan mampu mendengar bisikan yang berbicara di dalam hati dan jiwa kita. Terkadang ketika kita tidak punya waktu untuk mendengarkan, dia akan melemparkan batu bata kepada kita dengan cara yang berbeda-beda.
 
Itu pilihan kita… belajarlah tenang dan dengarkan bisikan itu atau tunggu batu bata akan mengenai kita.
 

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait