Pesan dari Masjid An-Nur Kemendagri

Oleh Irfaan Sanoesi*

 

Pemandangan langka terlihat dari Masjid An-Nur Kemendagri saat Mendagri Jenderal Pol. (Purn) Prof. H. M. Tito Karnavian mengimami shalat Jum’at (01/11/2019). Peristiwa ini menjadi pertama kalinya setelah dilantik Oktober lalu.

Yang jadi bahasan tulisan ini bukan soal menteri mengimami shalat Jum’at, melainkan hal lain yang menjadi konsentrasi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf: soal radikalisme. Tudingan beberapa kalangan yang menganggap pemerintahan Jokowi-Ma’ruf menyudutkan umat Islam.

Namun melihat dari komposisi kabinet menteri Indonesia Maju yang didominasi muslim argumentasi tersebut terbantahkan.

Apa yang dilakukan Tito Karnavian merupakan contoh konkret sebenarnya Islam dan radikalisme itu tidak ada kaitannya sama sekali.

Tito menteri yang juga diberi tugas untuk mengatasi radikalisme di kalangan ASN dan ormas merupakan seorang muslim yang taat. Radikalisme itu tidak memiliki agama dan tidak terkait dengan agama tertentu.

Radikal berasal dari bahasa latin yang berarti akar (radix). Dalam terminologi Islam, radikal itu memiliki arti ashlun yang berarti fondasi atau fundamen. Bisa dipahami bahwa kata radikal ini pada mulanya berkonotasi positif.

Setiap muslim idealnya memiliki sikap radikal dalam beragama. Artinya dia memegang teguh ajaran tiap ajaran yang disyariatkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya.

Tiga Kelompok

Namun seiring berkembangnya waktu, terjadi pergeseran makna radikal dan berkonotasi jelek. Sering kita temui kelompok yang mudah mengafirkan kelompok lain yang tidak sejalan dengan kelompok mereka (takvirisme).

Kelompok ini bisa disebut radikal dalam keyakinan dan tidak sesuai dengan atmosfer keberagaman yang berada di Indonesia.

Ada kelompok yang menganggap surga bisa direngkuh dengan membunuh orang lain atas nama agama (jihadis). Kelompok ini radikal dalam tindakan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan dan integrasi bangsa.

Kelompok lain yang menghendaki terwujudnya sistem Negara Islam atau khilafah. Kelompok ini mengkhianati kesepakatan para pendiri bangsa. Sementara tindakannya merupakan radikal dalam politik.

Ketiga kelompok ini jelas keberadaannya dan nyata ancamannya. Karakter radikal di atas bisa merupakan kombinasi ketiganya: mengkafirkan, membunuh, dan mau mengganti Pancasila sebagai dasar negara.

Ini yang paling berbahaya, apalagi kalau mereka merupakan jaringan transnasional. Ketiga kelompok ini suatu waktu akan menjadi bom waktu yang merusak tatanan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sekilas ketiga kelompok tersebut merupakan bagian kelompok Islam. Padahal sebenarnya mereka yang membajak citra dan eksistensi Islam yang sangat ramah dan humanis; menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Pada tataran inilah tugas pemerintah membersihkan “virus” akut yang hinggap di tubuh umat.

Pemerintah tidak menjamin setiap warganya memberikan secangkir kopi dan segala keperluannya. Tapi pemerintah harus menjamin tiap warganya agar dapat tetap ngopi dengan tenang dan nyaman.

Penunjukkan Tito Karnavian sebagai Mendagri dirasa tepat. Dia bisa menjadi “imam” yang mampu membersihkan radikalisme di kalangan ASN dan ormas yang radikal dalam keyakinan, tindakan dan politik.

 

*) Koordinator Jaringan Islam Kebangsaan

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait