Peserta Pemilu Terjebak Politik Sentimen, Saling Sindir dan Nyinyir

Tandaseru – Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai perpolitikan di Tanah Air yang memanas menjelang Pemilu 2019 sudah masuk pada tingkat membahayakan.

Meskipun masa kampanye calon presiden dan wakil presiden sudah berlangsung dua bulan lebih, alih-alih menawarkan politik gagasan dan mengedepankan program sebagai pembeda, para kontestan justru menggunakan politik stigma.

Titi menjelaskan, para kandidat dan elite terjebak dalam kampanye saling sindir, nyinyir, bahkan menerapkan politik sentimen yang menjatuhkan.

“Kampanye yang sudah berjalan dua bulan ini menurut saya terjebak dalam kompetisi yang lebih mengedepankan politik stigma atau sentimen. Seolah-olah menang menjadi satu-satunya target yang harus mereka penuhi dengan mengabaikan tanggung jawab moral dan hukum,” ujar Titi, Kamis (29/11).

Dia mengatakan, politik stigma atau politik sentimen yakni dengan melekatkan hal-hal negatif pada kontestan lawan. “Mengedepankan emosi ketimbang diskursus program dan gagasan,” lanjut Titi.

Padahal, politik sentimen justru akan membentuk kondisi pemilih yang tidak kritis, bukan lagi pemilih yang mampu mengontrol kinerja para penguasa.

“Pemilih cenderung serba sentimen dan juga stigma, nantinya akan terbentuk pemilih yang membenarkan tindakan dari orang yang dia pilih dan akan menyalahkan apapun tindakan yang dilakuakan oleh orang yang tidak pilih,” tutur Titi.

Menurut dia, bahaya politik sentimen ini membuat masyarakat menjadi apatis lantaran melihat kontestasi Pemilu yang tidak menawarkan perubahan atau perbaikan keadaan.

Nantinya para pemilih akan menjauh, tidak peduli, dan tidak menggangap penting dari aktivitas pemilu. “Alih-alih masyarakat melihat Pemilu dan demokrasi untuk menawarkan perubahan mereka justru menganggap Pemilu yang merusak atau sesuatu yang tidak membawa manfaat,” ungkap Titi.

Titi mengatakan, para peserta Pemilu seharusnya memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Sehingga, saat para peserta dan kontestan Pemilu memenangkan dan mengemban amanah bisa melaksanakan janji-janjinya lantaran ditopang oleh pemilih yang melek politik.

Dia menambahkah, karena pemilih yang tidak terinformasi dengan baik tentang latar belakang dan rekam jejak peserta pemilu, program yang dibawa bisa dipertanyakan kualitas dan legitimasi dari hasil Pemilu.

“Produk-produk pemilu dipastikan tidak memenuhi aspirasi yang dikehendaki rakyat, lebih dari itu pemilih atau rakyat tidak bisa mengontrol lagi kekuasaan yang terbentuk dari proses Pemilu itu,” ujarnya.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait