Polisi Ungkap Pabrik Pembuatan Obat Palsu, Pemiliknya Diamankan

Tandaseru – Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipider) Bareskrim Polri mengamankan pemilik pabrik PT Jaya Karunia Investondo (JKI) di Semarang, Jawa Tengah. Pabrik ini diduga tempat pembuatan obat palsu.

Pemilik pabrik yang ditangkap seorang pria bernama Alphons Frizgerald Arif Prayitno. “Alphons Frizgerald Arif Prayitno selaku pemilik PT JKI ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan,” ungkap Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, Brigjen Pol. M Fadil Imran, Rabu (10/7).

Dia menjelaskan penyidik mengamankan tujuh orang untuk diperiksa yakni Ahmad Budiyanto dan Rozikin sebagai mandor, Nur Hadiyanto sebagai peracik, Yakobus sebagai vacum kemasan, M Nur Yasin dan Nur Said sebagai kenek sablon kemasan.

Penyidik Bareskrim Polri melakukan pengembangan di kantor kawasan Pulogadung Jakarta Timur dan gudang di Lippo Karawaci Tangerang dengan mengamankan enam orang pegawai yang masih diperiksa.

“Selain itu, mengamankan dokumen-dokumen transaksi perusahaan dan obat-obatan (dalam proses penghitungan dan pencatatan) dan menetapkan status quo TKP pada 2 gudang milik tersangka yang diduga sebagai tempat produksi dan penyimpangan bahan baku,” tegasnya.

Dia mengungkapkan pelaku menggunakan perusahaannya sebagai Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau menyalurkan produk obat-obatan ke apotek-apotek seolah-olah produk obatnya adalah obat paten.

“Dengan cara memperoleh bahan baku obat-obatan (generik, obat-obatan diduga palsu dan obat-obatan diduga kedaluwarsa) dan bahan baku kemasan,” terangnya.

Bahan baku obat dikemas ulang sendiri menjadi obat seolah-olah merk paten, mencetak dan menentukan waktu kedaluwarsa, mengubah obat-obatan dari subsidi pemerintah (JKN/BPJS) menjadi seolah-olah non subsidi.

“Polisi juga menyita barang bukti berupa beberapa alat produksi seperti mesin pressc kompresor, mesin vacum, mesin capsul printer, bahan pembuat obat, bahan pendukung dan obat siap edar dengan beberapa merek. Masyarakat diimbau harus hati-hati membeli obat,” tutur Fadil Imran

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 196 Jo Pasal 98 (Ayat 2 dan 3) dan/atau Pasal 197 Jo Pasal 106 (Ayat 1) UU RI Nomor 36/2009 tentang Kesehatan dan/atau Pasal 62 (Ayat 1) Jo Pasal 8 (ayat 1) huruf a dan/atau huruf d UU RI Nomor 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman bagi pelaku kejahatan obat ilegal antara lain pidana penjara paling lama 15 tahun atau denda paling banyak Rp1,5 miliar.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id