Politik Saling Sindir Berpotensi Hilangkan Suara di Pilpres dan Pileg

Tandaseru – Saling sindir dan menjatuhkan adalah hal biasa dalam politik, apalagi saling mengklaim kemenangan. Namun saling ejek dan saling sindir yang mewarnai proses pencapresan tetap harus segera diakhiri.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini berpendapat, sikap saling menyindir pada kampanye Pilpres bisa membuat pemilih mengambang atau swing voters menjadi jenuh, bahkan bisa apatis.

Sikap seperti itu tidak produktif dan menimbulkan kegaduhan di ruang publik. “Saya khawatir mereka (pemilih mengambang) makin antipati terhadap proses pemilu. Jangan lupa, tahun 2014 itu angka pengguna hak pilih atau voter turnout itu menurun di Pilpres dibandingkan Pileg. Pileg waktu itu 75 persen, Pilpres hanya 70 persen,” kata Titi , Rabu (14/11).

“Itu tidak lepas dari kegamangan atau keengganan mereka terhadap proses yang berlangsung. Mereka merasa tidak cukup terwakili, apalagi ruang publiknya diisi sentimen yang menyerang secara tidak substantif,” lanjut Titi.

Harusnya para tim pemenangan dan Capres mampu menawarkan gagasan dan program berbasis argumentasi serta data yang kuat. Hal itu guna memastikan mereka semakin antusias dan kritis dalam menentukan pilihannya.

“Jangan sampai kemudian apatisme, kejenuhan, dan rasa jengah terhadap Pilpres berpengaruh terhadap partisipasi di Pileg yang justru akan berdampak buruk bagi kontrol publik pada proses politik. Padahal, Pileg juga sama pentingnya. Kita harus memastikan juga wakil rakyat yang betul-betul baik,” paparnya.

Titi juga berharap agar kedua kubu segera mengesampingkan sindiran dan kritik yang tak substansial. Ia juga mengingatkan, tim pemenangan bertanggung jawab menjadikan kampanye sebagai ajang pendidikan politk. Jika praktik saling sindir dibiarkan, ia khawatir akan menciptakan pemilu yang tak sehat.

“Seharusnya mereka di tengah keterbatasan pilihan dan dikotomi politik yang tajam mereka harusnya melahirkan identitas gagasan yang kuat. Jadi harusnya mereka dikenal sebagai kelompok yang punya identitas atau karakter gagasan yang khas,” ungkap dia.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait