Polres Kota Tangerang Ungkap Pedofilia Terhadap 25 Anak Remaja

TANGERANG (!) – Kasus kekerasan seksual kepada anak atau pedofilia kembali terjadi di kota Tangerang. Kasus ini berawal dari sebuah SMS dari masyarakat yang melaporkan adanya kejadian pedofilia di tempat tinggalnya.

Kapolres Kota Tangerang Kombes Pol H.M. Sabilul Alif mengatakan peristiwa ini tidak langsung diekspos mengingat kepentingan penyelidikan termasuk untuk menyelidiki anak-anak lain yang turut menjadi korban.

Pasalnya, korban mencapai puluhan orang anak. Selain itu, pertimbangan lain untuk melindungi hak-hak anak yang di dalamnya termasuk faktor psikologis anak. Tidak hanya itu, penanganan komprehensif juga agar tersangka tidak diamuk massa.

Setelah serangkaian penyelidikan, pada tanggal 20 Desember 2017, Sat Reskrim Unit V PPA, Kanit PPA Ipda Iwan Dewantoro, bersama 4 anggotanya melakukan penangkapan terhadap tersangka berinisial WS alias Babeh di kediamannya di Kampung Sakem, Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang.

Tersangka Babeh mengakui dan menceritakan perbuatan yang dilakukannya. Babeh menceritakan, peristiwa itu berawal di Kampung Sakem, Desa Tamiang pada April 2017. Saat itu, istrinya sudah 3 bulan menjadi TKW di Malaysia.

Dari hasil interogasi, jumlah anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual sebanyak 25 orang yang kesemuanya sudah menjalani visum. “Tersangka mengaku mengenali nama anak-anak yang menjadi korban. Bahkan, saat salah mengeja nama anak yang menjadi korban, tersangkalah yang mengoreksinya,” ungkap Kombes Pol Sabilul Alif dalam pesan tertulisnya, Kamis (4/1).

Sementara itu, Kapolres menyebutkan demi menjaga hak anak dan keluarganya, maka foto dan inisial korban tidak kami rilis. Sementara itu, hasil pemeriksaan kejiwaan terhadap tersangka dan tersangka dinyatakan normal. Rata-rata usia anak yang menjadi korban kekerasan seksual oleh tersangka antara 10-15 tahun dan semua berjenis kelamin laki-laki.

Dari peristiwa itu, diamankan barang bukti berupa 1 kaos lengan pendek merek little boy, 1 celana pendek warna biru ungu, pelor gotri, dan telepon genggam.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat  Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dalam paling lama 15 tahun.

Saat ini Polres Kota Tangerang melakukan pemeriksaan terhadap korban didampingi orangtua, saksi, dan tersangka. Kemudian melengkapi administrasi penyidikan dan gelar perkara. Kepada para korban diberikan trauma healing dan pendampingan dari P2TP2A dan Kemen PPPA.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait

Tandaseru.id menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman pembaca. Mengerti -