Pusaka Tabib dan Murid yang Bijaksana

Di sebuah desa kecil di Kabupaten Pemalang Jawa Tengah, ada seorang Tabib terkenal yang sangat bijaksana dan memiliki banyak murid. Tabib ini memiliki sebuah pusaka yang sangat ampuh. 

Seluruh muridnya tahu tentang kesaktian pusaka milik sang Tabib dan mereka berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan pusaka ini.

Suatu hari, Tabib mengumpulkan seluruh muridnya dan berkata: Salam murid-muridku tersayang, sudah saatnya pusaka yang saya miliki untuk diwariskan kepada penerus saya. Dan saya tahu kalian semua sangat berharap untuk memilikinya!

Untuk mencari siapa di antara kalian yang berhak untuk memilikinya, saya akan memberikan sebuah ujian. Ini adalah ujian tentang kepatuhan dan kebijaksanaan. 

Jadi yang harus kalian lakukan adalah selama tujuh hari setiap orang harus pergi ke desa-desa di sekitar sini, diam-diam masuk ke dalam rumah penduduk dan curilah apa pun yang bisa kalian ambil. Tapi pastikan tak ada seorang pun melihat saat kalian mencuri!

Barangsiapa yang bisa mencuri barang paling banyak setelah tujuh hari, karena kepatuhan dan kebijaksanaannya dia boleh memiliki pusaka sakti ini.

Para murid langsung terkejut. Apakah mereka tidak salah dengar? Tabib meminta mereka untuk mencuri! 

Namun karena mereka semua sudah lama ingin memiliki pusaka sang Tabib, maka semua berpikir mendapatkan pusaka adalah hal yang paling penting. Mereka akan lakukan apa pun untuk mendapatkan itu.

Maka seluruh murid baik pria dan wanita langsung ke desa di malam hari, menunggu para penduduk tertidur lelap, lalu mengambil benda apa pun yang bisa mereka ambil. Dan langsung membawa barang curian kembali ke rumah sang Tabib.

Para murid langsung terkejut. Apakah mereka tidak salah dengar? Tabib meminta mereka untuk mencuri! 

Kepada setiap murid, Tabib akan bertanya apa bentuk rumah yang mereka masuki, mencatat dengan teliti siapa berada dimana dan mengambil apa. Pada akhir hari ketujuh, seluruh murid telah berkumpul untuk melihat siapa yang berhak mendapatkan pusaka.

Tabib mulai berbicara: Kalian semua telah melewati ujian dengan baik. Kalian telah mencuri banyak sekali barang berharga. Namun sebelum saya mengumumkan siapa yang berhasil mencuri paling banyak – adakah di antara kalian semua yang belum mencuri apa pun?

Semua murid terdiam…. Lalu tiba-tiba ada satu orang murid yang mengangkat tangannya.

Tabib lalu menatap dan menegurnya: Mengapa kamu tidak melakukannya? Semua teman kamu sudah mengikuti perintah dan menjalani ujian, mengapa kamu sendiri yang tidak patuh?

Murid ini berdiri dan berkata: saya sudah mengikuti semua perintah Tabib.

Kalau begitu, mengapa kamu tidak mencuri? Balas Tabib.

Karena saat saya memasuki rumah penduduk, kemudian melihat harta milik mereka dan ketika saya hendak mengambilnya, saya ingat Tabib berkata bahwa pastikan tak ada seorang pun melihat saat kalian mencuri.

Dan saya sadar bahwa ada yang melihat! Saya melihat diri saya mencuri! Ada seseorang di sana. Itulah sebabnya saya tidak bisa mengambil apa pun.

Murid yang bijaksana

Tabib melanjutkan: Akhirnya!! Saya mendapatkan seorang murid yang bijaksana sedangkan sisanya hanya murid tidak berguna.

Sekarang kalian kembalikan semua barang-barang itu! Sebelumnya saya sudah memberitahu penduduk desa tentang ujian ini, dan mereka juga sudah tahu kalau kalian akan datang untuk mengembalikan semua barang tadi.

Setelah berhenti sejenak, Tabib melanjutkan bicara: Saya hanya ingin tahu siapa murid yang paling bijaksana, yang mengetahui kapan pun mereka berbuat salah selalu ada orang yang melihatnya. 

Dan orang itu tidak akan pernah berani mengkhianati amanat dari pusaka ini sebab ia sadar bahwa akan selalu ada orang yang mengawasi dirinya.

Apa pun yang kita lakukan dalam kehidupan, selalu ada orang yang melihatnya yaitu diri kita sendiri.

Apabila kita bersahabat dengan diri sendiri, artinya kita berada bersama orang yang kita hormati dan kasihi, yaitu diri kita sendiri.

Temukan sesuatu yang kita sukai di dalam diri kita. Fokuslah pada hal itu, belajarlah menyukai dan mengasihi diri kita sendiri dengan memiliki sikap positif terhadap diri sendiri.

Dengan sikap seperti itu, ke mana pun kita pergi tidak peduli apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, kita akan selalu ditemani oleh sahabat terbaik di dunia yaitu diri kita sendiri.

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait