Rebut Suara Nahdliyin, Prabowo-Sandi Gandeng Gus Irfan sebagai Jurkam

Tandaseru – KH Irvan Yusuf (Gus Irfan), cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Asy’ari, akhirnya memilih bergabung dengan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02, Prabowo-Sandi. KH Irvan Yusuf bergabung dengan Koalisi Adil Makmur bukanlah sebuah keputusan yang sulit.

Irvan Yusuf yang saat ini menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Al Farros, Tebu Ireng, setidaknya terdapat sejumlah alasan yang membuatnya akan ikut terjun total memenangkan Prabowo-Sandi dalam kontestasi Pilpres 2019 mendatang. Memilih pasangan Prabowo-Sandi bukan tanpa alasan, Dia beranggapan kondisi Indonesia empat tahun belakangan ini bermasalah.

“Alhamdulillah sore ini saya bisa disini mudah-mudahan saya dapat memberi manfaat pada kita semuanya,” kata KH Irvan Yusuf di Prabowo-Sandi Media Center, Jakarta, Kamis (1/11).

Irvan Yusuf menegaskan, ia memutuskan turun gunung dari pesantrennya untuk memenangkan Prabowo-Sandi karena kondisi negara saat ini sedang mengalami sejumlah krisis, baik dalam sektor ekonomi maupun budaya.

“Sebetulnya saya lebih nyaman kehidupan di pesantren. Tapi situasi empat tahun kebelakang ini menurut saya egois jika saya mengutamakan kenikmatan saya di sana (di pesantren). Akhirnya saya mau untuk bantu di sini,” jelasnya.

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair), Novri Susan menilai keputusan tim pasangan Capres-cawapres nomor urut dua, Prabowo-Sandi untuk menunjuk Pengasuh Pondok Pesantren Al-Farros, Jombang, Gus Irfan sebagai juru bicara kampanye nasional merupakan langkah yang tepat.

Menurut Novri, salah satu bagian strategis kelompok konstituen yang belum terbingkai dalam kubu Prabowo-Sandi adalah suara kalangan Nadhliyin.

“Sebaliknya, kasus terakhir terkait pembakaran bendera oleh Banser di Jabar makin menjauhkan pasangan Nomer 2 ini dari kalangan Nadhiliyin,” kata Novri, Jumat (2/11/2018).

Hal tersebut bisa terjadi karena menurut Novri, pasangan No. 2 dipersepsi masyarakat mendukung dan didukung kalangan Islam garis keras.

“Jika persepsi ini dibiarkan, akan memberi konsekuensi terhadap melemahnya dukungan kalangan Nahdliyin,” ucapnya.

Selain itu strategi branding politik dari masing-masing pasangan juga akan sangat menentukan Nahdliyyin dalam menjatuhkan pilihan.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id