Rozalis A.Sandang: Pasar Elektronika Tak Akan Pernah Mati

Penjualan produk consumer electronicdi dalam negeri pada tahun 2017 mencapai titik terendah sejak beberapa tahun terakhir. Data GFK menunjukan penjualan turun hingga 15 persen dibandingkan dengan tahun 2016.

Kondisi ini menimbulkan sejumlah pertanyaan terkait dengan dampaknya terhadap industri elektronika (consumer electronic) nasional.

Penurunan penjualan tersebut dianggap mencerminkan merosotnya daya beli konsumen. Anggapan ini diperkuat kenyataan banyak toko ritel di pusat perbelanjaan yang gulung tikar.

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah benar daya beli konsumen merosot begitu tajam sehingga pasar elektronika akan sulit untuk bangkit kembali?

Praktisi bisnis elektronika yang juga pemerhati industri consumer goods, Rozalis A. Sandang, menilai penurunan penjualan elektronika harus disikapi dengan seksama.

Penurunan pasar elektronika ini terjadi seiring dengan kondisi pasar produk konsumsi cepat atau fast moving consumer goods(FMCG). Untuk diketahui,pasar FMCG menjadi salah satu barometer penting dalam menentukan kondisi pasar secara makro.

Secara gabungan, penjualan FMCG pada tahun 2017 hanya tumbuh satu digit yakni 2,7 persen. Padahal, dalam kurun waktu 2003 – 2016, rata-rata pertumbuhan sektor ini selalu dua digit yakni di kisaran 13 persen per tahun.

Memasuki tahun 2015, pertumbuhan penjualannya mulai melambat yakni sekitar 10 persen, kemudian turun lagi menjadi 7 persen tahun 2016, dan tinggal 2,7 persen pada tahun 2017.

Menurut Alis – sapaan akrab Rozalis, pertumbuhan pasar consumer electronic yang turun hingga 15 persen pada tahun 2017, merupakan yang terdalam selama kurun waktu 3 tahun terakhir, sejalan dengan penurunan petumbuhan pasar FMCG. Apalagi mengingat pasar elektronika lebih captive dibandingkan dengan FMCG.

Ada opini yang berkembang di masyarakat yang mengatakan bahwa turunnya pasar consumer electronic di Indonesia, khususnya untuk modern channel, disebabkan banyaknya toko ritel di mal yang tutup akhir-akhir ini.

Opini tidak sepenuhnya benar sebab toko-toko ritel yang tutup tersebut kebanyakan dari industri fashion design milik brand asing. Meskipun memberikan dampak kepada industri elektronika dalam hal penurunan jumlah traffic atau pengunjung ke mal tersebut.

Brand Global

Sebenarnya, penutupan toko-toko ritel tersebut sejalan dengan restrukturisasi perusahaan di negara asalnya. Kebanyakan brand tersebut sedang mengatur strategi yang tepat untuk menyesuaikan dengan kondisi global ekonomi yang masih tidak menentu.

Selain itu, mereka berusaha menyeimbangkan bisnis online yang sedang mereka kembangkan dengan bisnis offline yang sudah mereka miliki sebelumnya. Restrukturisasi tersebut berdampak ke bisnis global, termasuk Indonesia.

Apakah selamanya mereka akan tutup? “Belum tentu, mereka sedang mengubah format. Mereka tentu akan melihat perkembangan kondisi pasar yang menjadi target mereka sebelum membuka jaringan lagi,” kata lulusan Business Administration yang juga mengambil minor di Economic dari Wichita State University, Amerika Serikat, ini.

Khusus di pasar consumer electronic Indonesia, kontribusi jaringan modern channel sekitar 30 persen atau masih di bawah kontribusi pasar tradisional atau traditional channel.

Rozalis A. Sandang
Rozalis A. Sandang

Memang ada beberapa toko ritel elektronika di mal yang tutup atau downsizing yang sebenarnya lebih kepada restrukturisasi strategi perusahaan untuk menghadapi kondisi terkini di masyarakat.

Apabila modern channel tutup, bukan berarti pasar consumer electronic akan turun selama-lamanya. Orang akan tetap membeli produk elektronik karena sudah menjadi kebutuhan masyarakat zaman sekarang.

Sebagai contoh, ketika seorang konsumen ingin membeli televisi di satu toko ritel di dalam sebuah mal, dan kebetulan toko tersebut sudah tidak berbisnis lagi, konsumen tersebut akan membeli dengan cara yang berbeda; apakah dengan datang ke toko ritel tradisional atau membeli secara online. Artinya, permintaan akan selalu ada.

Adapun cara berbelanja yang berbeda tersebut, dalam hal ini terjadinya metafora dari offlne menjadi online atau e-commerce, juga menunjukkan adanya fenomena baru di dunia ritel.

Artinya para pelaku bisnis consumer electronic harus mengubah strategi bisnis offline mereka sesuai dengan perilaku konsumen saat ini.

Konsumen produk elektronik masih membutuhkan interaksi (experience) dengan produk yang akan mereka beli. Artinya, para pebisnis offline akan tetap eksis dengan role atau peran yang baru, yakni mampu menghadirkan pengalaman berbelanja sembari memberi kesempatan kepada konsumen untuk mencoba produk yang akan dibeli.

Potensi Pasar

Melihat perkembangan pasar saat ini, Alis optimistis penjualan elektronika kembali tumbuh positif pada tahun 2018 setelah terjun bebas pada tahun lalu.

Dia mengibaratkan kondisi pasar consumer electronic pada tahun 2017 seperti berada di dasar lembah. “Setelah sampai di dasar lembah, ada waktunya kita harus naik lagi dong. Meskipun belum bisa naik secara signifikan, tapi setidaknya tidak jatuh lebih dalam lagi,” ungkap Alis.

Optimisme ini juga tercermin dari data GFK, yang memproyeksikan pasar consumer electronic nasional pada tahun 2018 akan tumbuh sebesar 2 persen. Sebenarnya ini proyeksi yang cukup wajar mengingat penurunan 15 persen pada tahun 2017 bukan hal yang mudah untuk bisa cepat bangkit.

Tetapi paling tidak proyeksi ini bisa meningkatkan kepercayaan konsumen dan pelaku bisnis consumer electronic untuk berbelanja dan berbisnis kembali dengan strategi yang baru.

Kalau melihat konteksnya, tahun 2018 seharusnya ada prospek lebih baik karena pasar sudah turun cukup dalam pada tahun sebelumnya. Perlu diingat pula pengalaman cukup baik pada tahun 2015 ketika pasar consumer electronic tumbuh hingga 6 persen.

Alis menceritakan, ketika dirinya terjun ke industri consumer electronic pada tahun 2011, penjualan selalu mencetak rekor hampir setiap bulan. Dia yakin saat itu merek lain pun menikmati lonjakan penjualan hingga tahun 2015.

toko elektronik

Namun, penjualan mulai drop ketika memasuki semester kedua 2016. Kondisi berlangsung sampai akhir tahun lalu. Adapun industri yang masih mampu tubuh diantaranya sektor makanan-minuman dan wisata. Sampai sekarang kedua sektor ini masih terus tumbuh.

Lebih jauh lagi, kelesuan pasar consumer electronic sejak 2016 perlu dilihat berdasarkan segmen konsumen dan faktor pemicunya.

Pasarconsumer electronic terbagi ke dalam dua segmen konsumen, yakni menengah-bawah (mid low) dan menengah-atas (mid high). Masing-masing segmen dipengaruhi faktor berbeda yang mempengaruhi permintaan terhadap produk.

Di segmen menengah-bawah, salah satu pemicu merosotnya penjualan adalah pengurangan subsidi listrik pada tahun 2017, selain pemangkasan subsidi bahan bakar minyak yang terjadi sejak sebelum tahun 2016.

Selain itu,upaya pemerintah menggenjot proyek infrastruktur jalan tol juga mempengaruhi daya beli konsumen karena diikuti dengan kenaikan tarif jalan tol beberapa kali.

Kondisi berbeda terjadi di segmen menengah-atas. Konsumen di segmen ini cenderung menahan dananya, yang berarti daya beli konsumen sebenarnya tetap ada. Ini dapat dilihat dari data jumlah orang yang menabung tumbuh 12 persen pada tahun 2017, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya sekitar 10 persen.

“Orang menahan belanja atau wait and see. Uang ada, tapi oleh mereka apakah uang itu mereka tabung atau mereka simpan dalam bentuk investasi lain”’ kata ayah dua putri yang menyukai travelling ini.

Hal ini juga bisa dilihat dari data deposito berjangka yang tumbuh 6 persen pada tahun 2016 dibandingkan dengan tahun 2015, lalu tumbuh lagi hingga 8 persen pada tahun 2017.

Strategi Industri

Ketika pasar lesu, persaingan tentunya semakin kuat. Dalam kondisi seperti ini, pelaku industri consumer electronic dituntut untuk mampu mamainkan strategi yang tepat agar pangsa pasar tidak jeblok.

Setiap merek biasanya bermain di segmen tertentu. Misalnya, mereka Korea dan Jepang biasanya bermain di segmen menengah-atas. Sedangkan merek China dan lokal umumnya memulai penetrasi pasar dari segmen menengah-bawah. Setelah cukup kuat, biasanya mereka akan mulai masuk ke segmen menengah-atas.

Bagi merek-merek yang bermain di produk menengah-bawah bisa memanfaatkan kondisi pasar saat ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan penjualan semaksimal mungkin.

Di sisi lain, ada tantangan yang dihadapi merek-merek yang bermain di segmen menengah-atas terkait dengan isu daya beli masyarakat (affordability).

Selama konsumen menengah-atas masih wait and see, merek-merek tersebut harus benar-benar menjalankan strategi pemasaran yang jitu untuk bisa survivebermain di produk premium.

Alis juga berharap, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian bisa memainkan peran penting untuk membantu industri elektronika nasional supaya bisa segera bangkit.

Sebagai contoh, pemerintah bisa mempermudah proses investasi dari merek-merek asing yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia. Selain itu diperlukan juga regulasi untuk perlindungan dan kepuasan konsumen.

Hal lain adalah regulasi untuk melindungi merek-merek yang ingin berinvestasi dan masuk ke segmen lebih luas, sekaligus membantu industri dalam negeri mendapatkan alih teknologi.

“Pemerintah bisa memberlakukan regulasi untuk alih teknologi, yang mana harus ada timbal balik bagi merek-merek yang ingin melakukan alih teknologi tersebut yakni perlindungan investasi. Sudah pada tempatnya merek-merek asing ikut bertanggung jawab mengembangkan merek local,” ungkap Alis.

Untuk itu diperlukan ukuran kinerja atau Key Performance Indicator (KPI) yang disepakati semua pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun industri, demi kepentingan konsumen.

KPI itu harus sejalan antara pemerintah dan industri yang bermuara pada kepentingan konsumen atau masyarakat. Jangan sampai pemerintah dan industri terbelenggu dengan KPI masing-masing dan berpikir jangka pendek sehingga konsumen menjadi korban. (Media Industri Edisi I Tahun 2018)

 

Profil Singkat Rozalis A. Sandang

Karir:

  • Head of Retail Marketing Consumer Electronic Business PT Samsung Electronic Indonesia : 1 Agustus 2011 – sekarang
  • Business Development Manager Zuellig Pharma (PT Anugerah Pharmindo Lestari) : 1 Januari 2011 – 31 Juli 2011
  • Commercial Manager PT Coca-Cola Indonesia : 1 Maret 2007 – 31 Desember 2010
  • Various Managerial Position di PT Coca-Cola Amatil Indonesia (posisi terakhir Marketing Manager) : 1 November 1996 – 28 Februari 2007
  • Various Position di Asamera Oil : 1 Mei 1992 – 31 Oktober 1996

Pendidikan :

Bachelor di Business Administration & Minor in Economic

Wichita State University, Wichita, Kansas, AS (1988-1991)

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait