Saya Seorang Wanita Tulen!

Pulang kantor, saya dijemput oleh seorang pengemudi pria warga negara Thailand bernama Jimmy. Perawakannya mungil, berkulit putih, memakai kaca mata dengan berambut agak pendek cepak namun wajahnya sangat khas orang Thailand.

Sebagai seorang pengemudi, saya kira Jimmy sangat tangkas, sedikit agresif namun berbahasa sangat santun dengan kualitas Bahasa Inggris yang sangat baik.

Malam itu hujan mengguyur kota dan jalanan kota Bangkok dengan sangat lebat. Akibatnya lalu lintas menjadi macet total di mana-mana.

Dalam perjalanan dari kantor menuju hotel ini kami berdua sudah berada di mobil selama 1,5 jam.

Saya kemudian membuka percakapan kepada Jimmy. Karena penasaran, saya bertanya kepadanya darimana dia belajar Bahasa Inggris yang hampir sempurna?

Dengan ceria Jimmy bercerita bahwa ia pernah bekerja dan tinggal selama 11 tahun di Kota Calgary, Kanada.

Alasan Jimmy bekerja ke Kanada adalah sejak ayahnya meninggal dunia ia harus menjadi tulang punggung keluarga membantu Ibu dan adik perempuannya yang berjumlah 5 orang.

Di sana Jimmy bekerja dengan sangat tekun sebagai pemeriksa batu berlian yang belum diasah di sebuah toko berlian terkemuka selama hampir 7 tahun.

Akibat bekerja terlalu keras, matanya sakit sehingga dengan sangat terpaksa Jimmy harus berhenti bekerja sebagai pemeriksa batu berlian.

Sebagai perantau Jimmy sangat ulet dan tangguh, dia kemudian menjalani seluruh profesi pekerja kasar di Kanada. Melalui kaca spion, saya lihat Jimmy beberapa kali melihat ke belakang untuk memastikan saya dalam keadaan baik dan nyaman.

Lalu Jimmy melanjutkan kembali kisahnya saat bekerja di Kanada. Dia becerita bagaimana kehidupan tukang sampah, pembersih gedung dan bangunan, petugas tanaman, pengantar barang sampai akhirnya ia bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran kecil.

Jimmy memang seorang yang serba bisa dan mudah bergaul dengan semua orang. Di restoran tersebut ia berani membuka kursus gratis bagaimana memasak makanan Thailand.

Banyak tamu restoran yang terkesan dan akhirnya sepasang suami istri warga lokal Calgary yang dia panggil dengan sebutan “Boss John”  meminta Jimmy untuk pindah dan tinggal di rumah mereka sebagai penjaga rumah, pembersih taman sekaligus juru masak keluarga.

Bekerja di rumah “Boss John” membawa kebahagiaan yang luar biasa bagi Jimmy. Menurutnya, ini adalah anugerah dari Tuhan yang telah menolongnya dari kesulitan yang dia alami menjadi sebatang kara di negeri yang sangat jauh dari kampung halaman.

Saat mendengarkan kisah Jimmy dengan seksama, saya merasa ada sebuah aliran hangat yang menyelimuti badan saya, yaitu perasaan bersyukur atas berkah kehidupan yang saya dan seluruh keluarga jalani selama ini.

Mendadak saya teringat, mengapa Jimmy belum bercerita tentang keluarga istri atau anak-anaknya?

Ternyata Jimmy belum berkeluarga, kerasnya kehidupan yang ia jalani sejak usia muda telah dihabiskan untuk menghidupi Ibu serta adik-adiknya.

Waktu berjalan demikian cepat, sehingga ia tidak pernah punya kesempatan untuk memiliki keluarga kecilnya sendiri. Saat menceritakan kisah ini, suara Jimmy berubah menjadi agak pelan dan terkesan sendu.

Mendengar hal tersebut membuat saya tidak enak hati, saya juga merasa sangat bersalah telah membuat Jimmy bersedih. Kami berdua sama-sama diam seperti mencoba saling menghormati suasana kebatinan masing-masing.

Saya kemudian berdiam, mencoba untuk berdoa mohon ampunan karena telah membuat seseorang pria pekerja keras yang baik, santun dan sangat mencintai keluarganya seperti Jimmy harus bersedih.

Untuk menghilangkan suasana yang canggung, akhirnya Jimmy kembali membuka percakapan. Dengan intonasi suara yang lebih bertenaga, kemudian Jimmy berkata kalau ia ingin bercerita sebuah kisah yang sifatnya sangat pribadi.

Perkataan Jimmy tadi langsung membuat saya bahagia, ternyata ia memang seorang pria yang tahan banting secara lahir dan batin.

Lalu Jimmy bercerita alasan sebenarnya mengapa ia memiliki potongan rambut yang pendek dan cepak, mengapa ia gemar memakai kemeja serta celana panjang, ia sampai merubah nada suaranya agar terkesan lebih jantan.

Alasannya adalah demi keselamatan dirinya, karena dalam lingkungan kerja dan kehidupannya ia harus terlihat tangguh dan berani.

Kemudian saya berkomentar ringan, jika manusia ingin berbahagia pada hakekatnya kita tidak perlu memakai “topeng” dalam kehidupan ini.

Tenang saja, temukan jati diri kita, dan jadilah sejatinya manusia yang tanpa harus khawatir berlebihan apalagi sampai takut dengan komentar atau anggapan orang lain.

Melalui kaca spion saya melihat Jimmy tersenyum kecil, seolah-olah Jimmy pengemudi yang telah mengantarkan saya selama berada di Bangkok berubah menjadi orang lain. Gerakan tubuh dan suaranya berubah total.

Kemudian Jimmy berkata kepada saya bahwa ia sangat senang dengan komentar saya untuk menjadi diri sendiri. Memakai suara aslinya,  lalu Jimmy berkata bahwa ia sebenarnya bukanlah seorang pria tetapi seorang wanita tulen… !!!

 

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait