Sedikit Cerita Tentang Mendiang BJ Habibie Turunan Raden Ngabehi Tjitrowardojo

Tandaseru – Presiden ketiga Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie telah dipanggil Sang Pencipta pada Rabu (11/9). Dia wafat dalam damai di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta di tengah keluarganya yang setia menemaninya saat sakit.

Menarik untuk ditelusuri jejak Bapak Demokrasi ini dari sejarah keluarga Ibunda BJ Habibe. Lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. BJ Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo.

Eyang buyutnya (dari Ibunya) adalah dokter Raden Ngabehi Tjitrowardojo, dokter pertama di Jawa dan berhasil meraih gelar dokter pada usia 19 tahun. BJ Habibie boleh dibilang masih keturunan priyayi Jawa.

Menurut penulis buku sejarah Purworejo, Atas Danusubroto, dr Raden Ngabehi Tjitrowardojo terlahir bernama Raden Radiman pada 14 Januari 1847 di Baledono (kini Kelurahan Baledono, Kecamatan Purworejo). Radiman adalah pemuda berotak jenius, sehingga pada usia 19 tahun sudah lulus kedokterean di Leiden, Belanda.

“Menurut catatan yang saya miliki, dokter Raden Radiman memperoleh penghargaan Bintang Tanjung Perak atas prestasinya menduduki rangking 2,” tutur Atas Danusubroto yang juga seorang novelis Bahasa Jawa dalm suatu kesempatan.

Setelah menjadi dokter, R Radiman yang kemudian dikenal sebagai dokter Raden Ngabehi Tjitrowardojo bekerja di Solo. Tjitrowardojo kemudian menurunkan putera bernama Puspowardojo yang beristrikan Rr Goemoek. Pasangan R Puspowardojo-Rr Goemoek inilah yang melahirkan Toeti Saptorini pada 10 November 1911 di Kota Yogyakarta. Dialah ibunda Prof Dr BJ Habibie.

“Dulu pada waktu BJ Habibie jadi presiden tahun 1998, beliau ziarah ke makam kakek buyutnya di Baledono,” ujar Atas Danusubroto.

BJ Habibie menikah dengan Hasri Ainun pada 12 Mei 1962 dan dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Namun, masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan.

BJ Habibie pindah ke Bandung setelah ayahnya meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung. Dari sinilah BJ Habibie terus bertumbuh dalam kehidupan, pendidikan di dalam dan luar negeri hingga terakhir menjabat Presiden ke-3 RI.

Dalam Ensiklopedia, disebutkan Ibunda BJ Habibie R.A. Tuti Marini Puspowardojo lahir di Ngayogyakarta HadiningratHindia Belanda19 November 1911 dan meninggal di BandungJawa Barat, pada 24 Juni 1990 pada umur 78 tahun.

Ketika ia masih duduk di bangku sekolah HBS (Hogere Burger School), Tuti berkenalan dengan seorang pemuda seberang yang berasal dari daerah Gorontalo bernama Alwi Abdul Jalil Habibie seorang pelajar di Sekolah Pertanian Bogor.

Setelah menyelesaikan studinya di Bogor, Alwi Abdul Jalil Habibie melamar Tuti Marini Puspowardojo dan dilanjutkan dengan pernikahan. Tidak lama kemudian Alwi Abdul Jalil diangkat sebagai Ahli Pertanian di Afdeling Parepare, sehingga Tuti Marini harus meninggalkan semua kenangan indah masa kecil di kota Yogyakarta.

Di Kota Parepare Tuti menjalani hari-harinya sebagai ibu muda dan dikarunia sembilan orang anak, namun satu diantaranya meninggal dunia ketika masih berusia 1 tahun. Prof. Dr. BJ Habibie adalah salah satu putranya.

Bupati Purworejo yang saat itu menjabat, H Mahsun Zain kemudian mengusulkan tokoh kesehatan asal Purworejo itu jadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Purworejo yang sebelumnya  sejak 2003 diberi nama Saras Husada.

Menurut Mahzun Zain, sudah selayaknya dr R Ng Tjitrowardoyo jadi nama RSUD karena ketokohan dan jasanya, selain karena beliau adalah kakek buyut mantan Presiden BJ Habibie.

Pada 26 September 2015, BJ Habibie secara langsung meresmikan pergantian nama RSUD Saras Husada Purworejo menjadi RSUD dr Tjitrowardojo Purworejo.

Nama Tjitrowardojo disematkan menjadi nama rumah sakit terluas di daerah Jateng selatan sebagai upaya mendokumentasikan sejarah dan jasa-jasa besar dokter pribumi pertama di Indonesia. Tokoh yang bernama lengkap dr Raden Ngabehi Tjitrowardojo, salah satu putra terbaik asli Purworejo. Menurut sejarah, Tjitrowardojo juga merupakan cucu dari Hamengku Buwono IV.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id