Serangan Turki ke Milisi Kurdi dan Babak Baru Perang Suriah

Tandaseru – Penarikan pasukan Amerika Serikat dari Suriah pada 7 Oktober membuka babak baru dalam Perang Suriah. Hanya berselang dua hari, Turki memborbardir ras al-Ain dan Tal Abyad di Suriah Utara yang dikuasai milisi Kurdi dukungan AS.

Langkah Turki ini membuat AS gerah sebab milisi Kurdi yang bernaung di bawah bendera Syrian Democratic Forces (SDF) merupakan koalisi AS dalam memerangi ISIS di wilayah tersebut.

Selama ini Turki khawatir terhadap milisi Kurdi yang mengontrol wilayah perbatasan Suriah-Turki dan kawasan Timur Laut Suriah. Turki paham SDF ini berintikan milisi bersenjata Kurdis YPG (Yekineyen Parastina Gel/Unit perlindungan rakyat).

Turki sudah lama gerah dengan keberadaan unit ini karena diduga terafiliasi gerakan separatis Kurdis di Wilayah Turki. Yaitu PKK (Partiya Karkeren Kurdistane/ Partai Pekerja Kurdistan) yang menuntut kemerdekaan dari Turki.

Menurut Darmansjah Djumala, Dubes RI untuk PBB di Wina, Austria, banyak yang menduga perang Suriah akan mendekati akhir setelah kekalahan ISIS pada awal tahun ini.

“Namun, dengan hengkangnya AS, palagan Suriah justru memasuki episode baru. Pertanyaannya, bagaimana peta pergumulan kepentingan pihak yang terlibat dalam perang babak baru di Suriah pascapenarikan pasukan AS,” kata Darmansjah.

Menurut dosen S3 Hubungan Internasional Pascasarjana FISIP Unpad Bandung ini, dengan ditariknya pasukan AS, perang Suriah menyisakan dua pemain utama, yaitu Turki dan Suriah, dengan kepentingan strategis masing-masing.

Alasan resmi Turki merangsek masuk ke wilayah Suriah Utara untuk membuka zona aman di wilayah Suriah, dengan 32 km x 480 km, di sepanjang perbatasan Turki-Suriah.

Zona aman ini merupakan teritori di wilayah Suriah yang akan dibebaskan dari pendudukan para teroris. Wilayah ini nantinya digunakan untuk menampung 2 juta pengungsi dari 3,6 juta pengungsi Suriah yang berada di Turki.

Bagi Turki, SDF yang berhasil menghancurkan ISIS berkat dukungan AS meningkatkan posisi tawar mereka dalam tiap upaya penyelesaian perang Suriah. Posisi tawar ini dapat digunakan SDF untuk menekan Turki dalam perjuangan kemerdekaan seperti dituntut oleh PKK.

“Turki melihat bahaya milisi Kurdi yang bergabung dalam SDF dan PKK bagi Integritas teritorialnya. Dilihat dari perspektif kepentingan strategi Turki, dapat dipahami jika Turki menyerang milisi Kurdi yang berbasis di sepanjang perbatasan Suriah-Turki setelah ditinggalkan tentara AS,” ujarnya.

Posisi Suriah

Di sisi lain, Suriah berada dalam posisi dilematis sebab serangan Turki itu jelas melangggar kedaulatan nasional yang tidak sesuai dengan hukum internasional. Akan tetapi, tampaknya Suriah gamang untuk memprotes tindakan itu. Boleh jadi kegamangan itu karena serangan terhadap milisi Kurdis justru memberikan ‘manfaat terselubung’ bagi Suriah.

“Selama ini suku Kurdi dianggap sebagai ‘duri dalam daging’ dalam politik nasional Suriah terutama terkait dengan tuntutan status otonomi khususnya,” ujar Darmansjah.

Di tengah kekacauan politik dalam negeri, Suriah khawatir milisi Kurdi dengan dukungan AS dapat meningkatkan posisi tawarnya vis a vis pemerintah pusat, terutama setelah mereka berhasil merebut benteng terakhir ISIS di Kota Hajin dan Baghouz.

Dalam konteks ini dapat dipahami mengapa Suriah seolah menutup mata atas serangan koalisi Turki dan FSA terhadap basis milisi Kurdi di perbatasan utara Suriah, dengan harapan hancurnya kekuatan militer milisi Kurdi akan memperlemah perjuangan mereka menuntut otonomi khusus atau bahkan kemerdekaan dari Suriah.

Selain menekan tuntutan untuk merdeka, melemahnya milisi Kurdi justru membuka peluang bagi rezim Assad untuk merangkul mereka guna melawan agresi Turki yang didukung pemberontak FSA di Suriah Utara.

Namun, melemahnya SDF memunculkan kekhawatiran lain, yaitu bangkitnya ISIS. Selama ini SDF memenjarakan sekitar 10 ribu pejuang bersenjata ISIS dalam kamp tahanan, tapi setelah AS hengkang dan SDF digempur tentara Turki dan FSA, ISIS mulai mengonsolidasikan kekuatan mereka di lapangan.

Darmansjah mengatakan penerikan pasukan AS membuka episode baru dalam Perang Suriah, yani membuka front pertempuran antara empat pihak, yakni koalisi Turki dan pemberontak anti-Assad (FSA), milisi Kurdi (SDF), ISIS, dan rezim Suriah.

Dengan peta empat kekuatan seperti itu, babak baru Perang Suriah bisa jadi diwarnai perseteruan antara rezim Suriah dan FSA dukungan Turki atau antara FSA dan SDF.

“Rezim Suriah boleh saja berhitung kembali siapa kawan siapa lawan dalam perang ini, apakah merangkul Kurdi untuk menghancurkan pemberontakan dukungan turki atau menggempur Kurdi dan ISIS dalam satu paket,” ungkapnya.

Selain membuka kesempatan ISIS untuk bangkit kembali, babak baru Perang Suriah ini juga menawarkan peluang bagi Turki untuk memainkan peran politik dan militernnya sebagai kekuatan baru di kawasan Timur Tengah.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait