Suka Pamer

Pamer itu seperti mendengkur, ia bersifat universal. Anda mungkin bilang hal itu tidak berlaku untuk Anda tetapi sahabat dekat Anda mungkin akan menceritakan kisah yang berbeda.

Jangan tersinggung, semua orang suka pamer tentang sesuatu. Orang-orang suka Pamer dengan menyampaikan selera, pengetahuan, pengalaman, pergaulan atau hal tertentu lebih banyak, hebat atau diatas dari orang lain.

Anda suka pamer, iya memang benar. Pamer tidak kenal latar belakang, pendidikan, pekerjaan atau status sosial Anda.

Pamer menembus semua batas, ada yang suka pamer bahasa asing, pamer mobil, pamer jabatan, pamer film, pamer pakaian, pamer liburan ke luar negeri, pamer sabun, pamer tempat tinggal, pamer ayat suci, pamer humor, pamer kesehatan, pamer seni, pamer sepatu, pamer jam tangan, pamer kenal orang terkenal, pamer nilai dan gelar akademis.

Bahkan ada yang suka pamer kesalehan kepada Tuhan, dan yang lebih sadis sering pamer bahwa dirinya tidak suka pamer.

Salah seorang teman saya bernama Doddy, kebetulan ayah beliau dulu adalah saudagar seprai dan gorden. Sejak kecil Doddy sering pamer tentang segala hal yang berhubungan dengan kain.

Dia tidak pernah membeli baju atau pakaian yang sudah jadi karena Doddy perlu merasakan bahan, tenunan, menyentuh serat dan melihat apakah desainnya ditenun atau dicetak. Saya ingat Doddy sering membeli pakaian mahal dengan bahan sutra berusia puluhan tahun.

Salah seorang teman saya yang lain bernama Erik, kebetulan Ibu beliau dulu adalah seorang foto model terkenal. Sejak kecil Erik sering pamer tentang segala hal yang berhubungan dengan dunia fesyen yang gemerlap.

Dia selalu membeli tas, pakaian dan benda yang bermerk, kemana saja Erik pergi selalu berpenampilan keren, necis dan wangi.

Saya kemudian teringat dengan teman-teman yang lain, mereka juga suka pamer tentang wine, anjing atau kucing peliharaan, kopi, pena, lips liner, sereal, cokelat, tisu toilet, musik, buah segar, perhiasan, motor, kamera, sirup, bahkan pamer bantal bulu angsa.

Orang Pamer Baru

Jangan lupa, saya belum tambahkan beberapa teman-teman OPB (Orang Pamer Baru) karena mereka baru belakangan ini suka pamer. Mendadak ada yang suka pamer politik, pamer agama, pamer gaji dan tentu saja yang sedang hits saat ini pamer lari marathon.

Saya yakin Anda belum pernah mendengar seseorang berkata, “Ooh, dia seorang teman yang luar biasa! Soalnya dia suka pamer! ”

Salah satu dampak positif dari sifat pamer adalah masih dapat dipoles karena telah menanamkan persepsi yang bijaksana dan tanpa rasa bersalah atau eksklusif, timbulnya rasa percaya diri yang tinggi dan tentu saja menumbuhkan nyali besar di kalangan OPB.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita semakin sering mendengar ocehan orang-orang yang suka pamer. Bahkan di banyak grup whatsApp kasta mereka yang suka pamer ini sudah termasuk ke dalam kategori ngeri ngeri sedap alias sangat menyebalkan.

Ketika sedang asyik menulis artikel ini, kuping saya terganggu dengan suara milik tetangga depan rumah yang suka pamer motor besar Harley Davidson. Saya kemudian memutuskan untuk turun dan menegur tetangga saya tersebut.

“Mas tolong motornya jangan di-gas keras-keras di sini. Suaranya sangat menggangu kami para tetangga yang sedang istirahat. Lihat tuh anak saya yang sedang latihan golf di roof top rumah lantai 5, bolanya jangan sampai merusak jam tangan Chopard seri Haute Joaillerie atau langsung jatuh dan kena kap mesin mobil Mercedes G-class AMG, pasti meluncur ke arah kolam renang ukuran olimpiade di halaman samping. Semoga tidak kena piano Kristal Heintzman, apalagi kalau sempat nempel di pajangan hiu mati di ruang tamu waahh bakal repot kamu mas.”

 

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait