Sukses Pimpin IAEA, Peran Politik Internasional Indonesia Makin Kuat

Tandaseru – Selama memimpin Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) setahun terakhir, Indonesia dinilai berhasil melakukan investasi politik internasional dalam upaya ikut menjaga perdamaian dunia.

Salah satu kontribusi kepemimpinan Indonesia di IAEA adalah citra positif Indonesia dalam pergaulan internasional sehingga terpilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB pada Juni lalu.

“Jika ingin berkampanye sebagai anggota tidak tetap DK PBB, Indonesia harus menunjukkan peran di internasional. Kepemimpinan di IAEA merupakan investasi politik agar kita dinilai berkontribusi dalam isu internasional,” kata Ketua Dewan Gubernur IAEA Darmansjah Djumala di Wina, Austria, Minggu (23/9/2018).

Indonesia terpilih menjadi Ketua Dewan Gubernur IAEA secara aklamasi pada September 2017. Posisi yang akan berakhir September 2018 ini dimanfaatkan sebagai investasi politik untuk berkampanye sebagai anggota tidak tetap DK PBB.

IAEA bermarkas di Wina yang dikenal sebagai salah satu pos diplomasi multilateral, selain Markas PBB di New York dan Geneva.

“Jadi, orang sini (Markas PBB Wina) akan bicara ke New York bahwa Indonesia aktif dan perannya sangat signifikan dalam diplomasi multilateral bidang nuklir,” kata mantan Kepala Sekretariat Presiden sebelum ditunjuk sebagai Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Ketua Dewan Gubernur IAEA.

Sebagai Ketua Dewan Gubernur, Darmansjah bertugas mengambil keputusan sehari-hari terutama pendekatan pengawasan instalasi nuklir terhadap negara (SLA). Dia harus bisa memosisikan diri dalam tarikan kepentingan antar-negara anggota IAEA serta antara negara-negara adidaya dan Sekretariat IAEA.

“SLA merupakan isu berat yang harus dihadapi Dewan Gubernur sehari-hari. Kami harus mendengarkan semua pihak dalam rangka mewujudkan keamanan internasional,” ujarnya.

Penerapan Nuklir

Darmansjah mengatakan, keanggotaan Indonesia merupakan bagian dari diplomasi yang dapat bermanfaat bagi rakyat, salah satunya penguatan kapasitas melalui program penerapan nuklir.

Selama satu tahun memimpin IAEA, Indonesia memprioritaskan pemanfaatan teknik nuklir bagi kesejahteraan manusia, misalnya pemanfaatan teknologi nuklir untuk deteksi fertilitas sapi dan pakan ternak.

Bantuan ini diberikan kepada Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat percontohan peternakan sapi dengan teknologi nuklir bagi negara-negara anggota IAEA.

Bantuan lainnya kepada Batan, yakni pengembangan alat irradiator untuk membunuh bakteri pembusuk ikan sehingga hasil perikanan akan lebih awet. Studi kelayakan pemakaian teknik nuklir ini dilaksanakan di empat daerah perbatasan, yaitu Natuna, Pangandaran, Miangas, dan Saumlaki.

“Kami memprioritaskan daerah perbatasan karena sangat strategis secara geopolitik dan untuk menunjukkan eksistensi negara melalui kegiatan perekonomian,” kata Darmansjah.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait