Tenang Aja, Selalu Ada Jalan Keluar…

Setiap kali bepergian naik pesawat terbang, saya biasanya membawa dua buah tas. Satu buah tas berukuran sedang, dan sebuah tas ransel yang selalu saya bawa dibahu.

Tas ransel ini tempat saya meletakkan barang-barang penting, seperti paspor, kamera atau dokumen penting lainnya, sehingga bisa membawanya kemana pun saya pergi.

Suatu ketika saya memiliki waktu transit 7 jam di Stockholm sebelum melanjutkan penerbangan berikutnya ke Barcelona. Saat itu saya menghabiskan waktu dengan mengunjungi kota tua, beberapa kafe klasik sambil berjalan kaki sampai akhirnya lelah dan harus segera kembali ke bandara.

Ketika sedang menuju konter cek in, mendadak saya tersadar bahwa tas ransel di bahu saya hilang. Jantung saya berdegub kencang, rasa bingung dan cemas bercampur menjadi satu.

Saya tahu risiko tanpa paspor di luar negeri, saya tidak bisa melanjutkan ke perjalanan berikutnya ke Spanyol dan bahkan tidak bisa pulang ke Indonesia.

Satu-satunya hal yang terpikir saat itu adalah mencoba kembali ke area pintu kedatangan. Saya segera berlari menuju area di pintu masuk dan terus melihat ke sekeliling. Namun tas ransel saya tetap tidak bisa ditemukan.

Tidak jauh dari tempat saya berdiri, ada seorang wanita bule yang duduk di sebelah saya saat di pesawat tadi. Kemudian saya bertanya apakah dia melihat sebuah tas ransel yang tertinggal? Dia hanya menjawab singkat… Tidak. Saya langsung lemas dan panik.

Karena tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya saya putuskan untuk duduk sejenak, berusaha menenangkan diri sambil memejamkan mata. Saya hanya berusaha menemukan kesejukan di pikiran dan menggali ketenteraman.

Tarik nafas

Secara reflek saya menarik nafas dengan perlahan. Saat membuka mata, saya melihat toko penjual makanan yang berada tepat di depan area tunggu.

Kemudian saya mendatangi dan bertanya kepada seorang anak muda pegawai toko tersebut – apakah dia melihat sebuah tas ransel yang tertinggal.

Dengan semangat dia menjawab…Ya! Anak muda tadi mengatakan dia telah memberikan tas ransel tersebut kepada seorang petugas bandara.

Mendengar informasi tadi, saya berlari sekuat tenaga mencari petugas bandara yang terdekat. Saya langsung menjelaskan kepada petugas bandara yang saya temui tentang kejadian yang saya alami.

Dengan sigap petugas bandara yang berbadan tinggi besar memanggil seseorang untuk saya. Sepertinya dia sudah sangat mengerti dan menyadari betapa kritis situasinya.

Jadilah manusia yang tenang, selalu berpikir jernih, tetap optimistis dan berusaha untuk melihat kesempatan, peluang dan harapan dari setiap kejadian

Sekitar lima menit kemudian dua pria berseragam berjalan ke arah saya dan salah satu dari mereka memegang koper besar berwarna silver.

Salah satu petugas menanyakan kepada saya beberapa pertanyaan hanya untuk memastikan memang benar saya adalah pemilik yang tepat dan setelah saya menjawab dengan benar, dia membuka koper silver tadi dan mengembalikan tas ransel milik saya.

Alhamdulillah saya sangat bersyukur!! Semua kepanikan, cemas dan ketakutan yang saya alami sebelumnya mendadak hilang.

Saya lalu memutuskan untuk kembali menemui pegawai toko makanan untuk berterima kasih kepadanya dan bertanya bagaimana dia menemukannya.

Pemuda ini bercerita kalau seorang wanita tua mengambil tas ransel saya dari lantai tepat di depan tribun, kemudian wanita tersebut langsung memberikan tas tersebut kepadanya.

Selanjutnya dia memberikan tas itu kepada petugas bandara yang lewat. Saya masih tidak percaya tentang tingginya kualitas kejujuran yang baru saja saya dengar.

Kekuatan tidak terlihat

Saya bisa mengerti kalau mereka mengembalikan paspor saya karena kasihan, tetapi mereka tidak harus mengembalikan seluruh uang 1.750 dolar AS yang ada di dalamnya.

Minimal ada tiga orang yang berbeda memiliki kesempatan untuk mengambilnya, seorang wanita tua yang menemukannya di lantai, kemudian pemuda si pegawai toko makanan, dan tentu saja petugas bandara.

Tidak ada seorang pun di antara mereka yang melakukannya. Dan bahkan jika salah satu dari mereka mengambil uang tadi, bagi saya itu pun tidak penting. Karena saya sudah sangat bersyukur paspor saya ditemukan dan dikembalikan.

Hari itu saya seperti diingatkan oleh kekuatan yang tidak terlihat bahwa ketika kita menghadapi jalan buntu bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar—tenang saja dan percayalah bahwa selalu ada jalan keluar.

Jadilah manusia yang tenang, selalu berpikir jernih, tetap optimistis dan berusaha untuk melihat kesempatan, peluang dan harapan dari setiap kejadian.

 

Oleh Ivan Taufiza

Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas danTenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait