Terima Kasih Ibu, Inspirasiku…

Saat membuka laptop untuk mulai menulis artikel ini, entah mengapa saya teringat dengan Ibu di rumah. Saya segera mengambil handphone dan mencoba untuk menelepon beliau.

Setelah tiga kali nada tunggu, telepon pun tersambung dengan beliau–saya langsung mengucapkan salam, kemudian bertanya bagaimana kabarnya serta mendoakan agar beliau selalu dalam keadaan sehat walafiat, selamat dan bahagia lahir batin.

Setelah menutup sambungan telepon, mendadak ingatan saya kembali ke masa kecil dulu. Saat masih di sekolah dasar, saya pernah sakit panas tinggi selama beberapa hari, ibu duduk menemani sepanjang malam, sambil mengoles sekujur tubuh saya dengan balsam gosok dan minyak kayu putih. Kemudian beliau berkata, “Tidak apa-apa kok, mamah ada di sini.”

Ketika itu saya bertanya, apa yang dirasakan oleh ibu ketika kami anak-anaknya sedang sakit? Beliau tidak menjawab, hanya tersenyum dan terus menemami saya tidur dengan tenang. Ternyata ini adalah sepenggal memori yang tersimpan sangat dalam di alam bawah sadar saya.

Perasaan seorang ibu

Saya pribadi tidak pernah bisa membayangkan bagaimana perasaan para ibu di belahan dunia lain yang berada di wilayah konflik. Mereka seringkali harus berjalan sendirian ke seluruh pelosok kota saat malam hari, hanya untuk mencari anak-anak mereka yang belum pulang di tengah bahaya yang mengancam dirinya.

Saya juga tidak mampu menyelami betapa berat suasana batin para ibu yang setelah melahirkan dengan taruhan nyawa namun akhirnya mereka tidak pernah bisa membawa bayinya pulang ke rumah.

Sebenarnya apa yang membuat seorang ibu dibilang baik? Apakah karena kesabarannya? Welas asih? Kemampuan untuk menyusui bayi, memasak atau mengelola rumah tangga pada saat yang bersamaan?

Apakah karena keahliannya membacakan cerita menjelang tidur? Atau mungkin karena ibu kita dulu rajin menggendong dan meletakkan tangan di belakang kepala bayi yang sedang tidur?

Saya pribadi tidak pernah bisa membayangkan bagaimana perasaan para ibu di belahan dunia lain yang berada di wilayah konflik.

Dulu saya melihat ibu menggantung lukisan pertama saya di kulkas, saat itu pula saya ingin membuat lukisan lain yang baru. Ketika melihat ibu memberi makan seekor kucing liar, saya belajar betapa pentingnya untuk bersikap baik kepada hewan.

Saya sering membantu dan melihat ibu membuat kue atau masakan favorit anak-anaknya di situ saya belajar bahwa hal-hal kecil dapat menjadi hal-hal spesial dalam kehidupan.

Kita semua pernah mendengar ibu mengucapkan doa, dari sana kita tahu ada Tuhan yang selalu bisa kita ajak bicara dan kita belajar percaya kebaikan Tuhan Yang Maha Pengasih.

Kita pasti pernah melihat ibu membuat makanan kemudian membawanya ke saudara atau teman yang sedang sakit, di sini kita belajar kalau manusia harus saling membantu satu sama lain.

Kita melihat ibu memberikan waktu dan uang untuk membantu orang-orang yang tidak memiliki apa-apa dan kita belajar bahwa mereka yang memiliki sesuatu harus memberi kepada mereka yang tidak memiliki.

Kita merasa nyaman saat ibu memeluk dan mencium kita, dari sana kita merasa dicintai dan aman. Kita melihat bagaimana ibu merawat rumah dan semua orang di dalamnya, artinya kita belajar harus memelihara apa yang telah diberikan kepada kita.

Kita mungkin pernah melihat air mata mengalir dari mata ibu, dan kita belajar bahwa dalam kehidupan kadang ada hal-hal yang menyakitkan, tetapi semuanya akan baik-baik saja.

Kita semua pernah memperhatikan ibu, dan ketika tumbuh dewasa kita belajar sebagian besar pelajaran tentang kehidupan untuk menjadi manusia yang baik dan produktif dari ibu kita sendiri.

Terima kasih ibu untuk semua hal yang saya lihat ketika ibu pikir saya tidak melihat…

 

*) Penulis buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait