107 Tahun Muhammadiyah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Hari ini, 18 November 2019, Persyarikatan Muhammadiyah genap berusia 107 tahun. Itu merujuk pada penanggalan Miladiyah, jika dihitung dari kelahiran Muhammadiyah di Kauman, Yogyakarta, pada 18 November 1912.

Saat mendirikan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan hanya berpikir sederhana, yakni bagaimana umat Islam dapat dientaskan dari ketertinggalan sosial dan pengetahuan. Tentu selain bagaimana meningkatkan amalan ibadah yang baik dan benar.

Lalu, Dahlan yang belum lama pulang dari belajar di Mekah itu kala itu, merealisasikan angan dan citanya itu dengan mendirikan sekolah dan layanan sosial kesehatan, yang pada zamannya itu terbilang modern.

Pendidikan dan kesehatan diambil karena di sinilah letak ketertinggalan umat Islam yang kondisinya saat itu jumud dan buta: jumud dan buta dalam ilmu pengetahuan, jumud dan buta dalam kemajuan, termasuk di dalamnya sosial, kesehatan, dan lainnya.

Singkat cerita, inisiasi dan terobosan dahsyat Kyai Dahlan itu meraih sukses besar. Perlahan namun pasti umat Islam mendapatkan pendidikan yang layak, bahkan di beberapa tempat nyaris menyamai oendidikan yang diterima kaum priyayi ningrat yang didukung kolonial Belanda.

Jangan harap pribumi di era kolonial Belanda saat itu bisa mendapatkan pendidikan yang baik dan layak. Pribumi dikungkung dan dibelenggu dalam keterbelakangan dan tak boleh mengenyam pendidikan.

Kiprah di Dunia Pendidikan

Kini, dunia pendidikan Muhammadiyah maju pesat. Di tingkat TK hingga SMU/SMA, Muhammadiyah memiliki dan mengelola tak kurang 20 ribu lembaga pendidikan.

Di tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), Muhammadiyah memiliki 190 kampus, beberapa di antaranya berakreditasi A. Bahkan Aisyiyah (Muhammadiyah wanita), punya kampus sendiri: Universitas Aisyiyah di Yogyakarta. Kampus ini murni dikelola kaum hawa Muhammadiyah.

Total mahasiswa yang belajar di PTM kurang lebih 850 ribu mahasiswa. Itu setara dengan 12 persen jumlah mahasiswa semua perguruan tinggi di Indonesia.

Bahkan di Malaysia, Muhammadiyah juga punya universitas setelah mengakuisisi 100 persen sebuah kampus di sana. Di Australia, Muhammadiyah juga tengah mendirikan lembaga pendidikan di atas lahan yang dibeli sendiri.

Dahlan mungkin juga tak pernah mengira rintisannya itu sukses besar tak hanya dalam bidang pendidikan, tapi juga dalam bidang kesehatan. Dalam layanan ini, Muhammadiyah memiliki tak kurang 500 rumah sakit, rumah bersalin dan klinik kesehatan. Belum lagi dalam bidang sosial, ratusan yayasan yatim juga pesantren, pun dididirikan dan dikelola Muhammadiyah.

Dengan jumlah anggota dan simpatisan Muhammadiyah yang mencapai 50 juta orang, tentu jumlah lembaga pendidikan maupun kesehatan itu masih kurang.

Muhammadiyah menyadari itu. Karenanya, ormas yang senantiasa mengedepankan amal nyata itu terus bergerak, melakukan terobosan dan inovasi untuk kemajuan bangsa dan negara, selain bagi kejayaan dakwah Islam.

Gerak dan langkah nyata Muhammadiyah itu diinspirasi oleh ajaran Islam “Fastabiqul khoirot” (berlomba dalam mewujudkan karya nyata yang baik dan positif) yang secara konsisten dipraktekkan Muhammadiyah sejak awal didirikan hingga saat ini.

Harapan masyarakat Indonesia yang maju, dakwah Islam yang berkemajuan dan moderat, itulah yang terus diikhtiarkan Muhammadiyah untuk bersama elemen lain, ikut mewujudkan Indonesia yang maju, adil dan makmur.

Akhirnya, selamat Milad Muhammadiyah ke 107. Teruslah berkarya. Muhammadiyah selamanya ada untuk Indonesia, untuk dunia kemanusiaan dan untuk kehidupan yang lebih baik. Menyitir Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nasir, Muhammadiyah ada di mana-mana dan milik semua.

 

Hery Sucipto
LHKI-PP Muhammadiyah

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait