Warna-Warni Indonesia
Razia bukan memberikan ketakutan, tetapi kenyamanan pengendara.foto:ist

Belajar dari Kasus Razia Berdarah di Lubuk Linggau (2)

Polisi Perlu Diskresi yang Tepat

JAKARTA (!)- Kasus yang terjadi di Lubuk Lingau, Sumatera Selatan merupakan sebuah pembelajaran bagi polisi maupun masyarakat. Dua unsur itu, yakni masyarakat yang tidak memenuhi  unsur kelengkapan kendaraan sehingga razia yang dilakukan polisi menjadi ancaman serta unsur tindakan diskresi polisi yang  tidak tepat.

Polisi selalu menghimbau agar masyarakat pemilik kendaraan melengkapi surat surat kendaraan dan izin mengemudi (SIM), serta nomor polisi kendaraan sesuai dengan kendaraannya  (tidak bodong). Ini tentu hal yang terpenting. Sedangkan variasi kendaraan yang sering dilakukan pemilik kendaraan tentu sesuai aturan dan tidak menggangu orang lain.

Kalau beberapa hal itu sudah dipenuhi, sudah pasti pengendara kendaraan mobil, truk atau sepeda motor akan berjalan secara nyaman. Tidak ada yang dikhawatirkan jika ada razia atau razia gabungan yang dilakukan polisi, TNI,  DLLAJ dan pihak terkait lainnya.

Dalam sebuah razia, polisi yang bertugas tentunya menjalankan tugasnya sesuai SOP dan ketentuan yang sudah digariskan. Namun, bila terjadi  sebuah insiden pada saat razia, seperti kendaraan tidak mau berhenti  saat distop , tentu perlu dicermati dengan tepat.  Pada kasus penembakan yang terjadi di Lubuk Linggau, dikategorikan sebagai tindakan diskresi yang kurang tepat.

Polisi Menanyakan kelengkapan kendaraan saat razia. foto: ist

Tentunya sangat disayangkan, ketika pengemudi enggan menghentikan mobilnya saat ada razia. Ada kemungkinan pengendara memahami nomor pelat bodong, jumlah penumpang yang melebihi batas, hingga tidak ada kelengkapan surat kendaraan tersebut.

Setelah dicek di Samsat Palembang, mobil tersebut seharusnya berpelat B  (Jakarta), namun dipasang huruf BG (Sumsel) . Mobil jenis Honda City seharusnya berpenumpang  4 orang itu milik sebuah yayasan di Jakarta dan berisi delapan orang. Inilah yang diduga menjadi alasan pengemudi tidak mau berhenti ketika petugas polisi memintanya meminggirkan kendaraan untuk pemeriksaan.

Kondisi ini tentu saja membuat Brigadir K curiga dan mengejarnya kendaraan tersebut dengan petugas lainnya dengan mobil patroli. Sayangnya, setelah diberikan tembakan peringatan, mobil  yang dikejar tetap tidak bersedia berhenti.  Terjadilah insiden penembakan itu, yang menyebabkan satu meninggal.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan setiap anggota polisi harus punya kemampuan untuk mampu menilai dan mengambil tindakan yang tepat. Jika dirasa membahayakan diri sendiri dan masyarakat, petugas bisa melakukan tindakan tegas.

Namun, kata Tito, kewenangan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan menganalisis keadaan, karena itu perlu ada pembenahan terkait kewenangan yang melekat tersebut.”Ini yang perlu dievaluasi di lingkungan Polri, agar lebih banyak anggota polri di-drill (dilatih) di tingkat pendidikan dan di lapangan saat sedang bertugas, coaching clinic,” kata Tito (19/4).

Pelatihan tersebut yakni menganalisis suatu keadaan dan tindakan yang harus dilakukan saat menghadapinya.Tito mengatakan, dalam pelatihan harus dibuat banyak skenario peristiwa tertentu dan apa yang harus dilakukan.Jangan sampai tindakan yang diambil berlebihan, dan jangan terlambat dalam merespons peristiwa tersebut. (arh)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com