Warna-Warni Indonesia
istimewa

Nasional Is Me: Terdidik untuk Berdebat

JAKARTA (tandaseru.id)- Sejak berdiri tahun 2012 Yayasan SabangMerauke menginginkan generasi muda Indonesia dapat berwelas asih dalam merayakan dan melindungi keragaman.

“SabangMerauke itu adalah singkatan Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali,” ujar Meiske Demitria Wahyu (Co Founder dan Tim Perumus SabangMerauke) saat menjadi Narasumber di talkshow Nasional Is Me bertajuk Terdidik untuk Berdebat.

Talkshow Nasional Is Me Terdidik untuk Berdebat On air di 100.6 FM Heartline Radio dan disiarkan juga melalui radio jaringan anggota Persatuan Radio dan TV Publik Daerah Seluruh Indonesia (INDONESIAPERSADA.ID), serta live di youtube channel Heartline Network, seperti biasa Yohana Elizabeth dan Peggy Putri yang memandu acara ini, Senin (20/06).

“Di SabangMerauke kami menciptakan ruang interaksi positif, diskusi konstruktif, dan kontribusi aktif. Nah, terkadang berbicara soal toleransi agak tabu ya, banyak gak enaknya, sekalinya ngomong “ngegas”, karena menurut kita itu yang paling benar,” kata Meiske.

Selanjutnya kata Meiske masalah ini bisa dipecahkan dengan “ngobrol”. Dalam aktifitas ngobrol dan diskusi tentu ada saja pandangan orang yang berbeda.

“Terkadang kita terlalu bersemangat mempertahankan pendapat jadi bawaannya “ngegas” melulu. Mestinya dengarkan dahulu, dan tidak harus menyutujuinya secara langsung karena misalnya ada nilai-nilai yang kita bawa dari sejak kecil. Tidak setuju bukan berarti berantem. Justru kita bisa mengetahui, ada ya orang yang berpikir berbeda tentang hal yang didiskusikan dan itu benar juga lo,” beber Meiske.

Ketika Interaksi dan diskusi sudah terbangun barulah SabangMerauke memberikan kontribusi aktif. “Karena menurut kami bila pelajaran yang diterima tidak dipraktikkan, yaudah, lupa kadang-kadang,” lanjut Meiske.

Kemudian, kala kita kalah berdebat terkadang secara spontan akan mempertahankan diri dan mengeluarkan berbagai macam statement untuk menyerang balik, tentu ini tidak dibenarkan.

Agar hal ini tidak terjadi maka menurut Meiske ketika memberikan pendapat kita harus sadar bahwa pendapat kita belum tentu paling benar dan memiliki perspektif bahwa ketika ada yang mempertanyakan pendapat kita itu berarti memperkuat pemahaman kita terkait hal yang diutarakan, bukan menyerang.

Atau bisa jadi ketika kita mendengar pandangan orang lain mindset yang digunakan adalah memperkaya apa yang belum kita ketahui.

“Mungkin perspektif kita digeser sedikit gitu, ketika berdebat ingin mendapat informasi terbaru bukan untuk bertarung dan menjatuhkan, sehingga kita bisa melengkapi blankspot pemahaman yang kita miliki,” tandas Meiske.

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com