Warna-Warni Indonesia

Bahtiar Dinilai Paling Netral Dari 3 Calon Pj Gubernur DKI

JAKARTA (tandaseru.id) – Sedang hangat diperbincangkan, sosok Bahtiar dinilai paling netral di antara ke 3 calon Pj Gubernur DKI, Kamis (15/9).

Tiga nama calon Pj Gubernur DKI Jakarta terus menjadi topik hangat yang diperbincangkan saat ini. Berbagai ruang diskusi membahas siapa yang paling tepat menduduki kursi nomor satu di DKI Jakarta setelah masa jabatan Anies Baswedan sebagai gubernur berakhir pada 16 Oktober 2022 nanti.

Dalam diskusi yang diadakan oleh Radio Elshinta bersama peneliti senior BRIN Prof. Dr. Siti Zuhro, MA, nama Bahtiar disebut sebagai calon yang paling netral diantara ketiga nama yang ada.

“Masing-masing memang memiliki kekuatan dan kekurangan. Jangan sampai calon yang dipilih menimbulkan polemik. Anies sudah mewujudkan Jakarta yang damai dibawah kepemimpinannya. Nah, kita tentunya tidak ingin ada resistensi dari masyarakat jika Pj Gubernur yang ditunjuk merupakan sosok kontroversi,” ujar Siti.

Siti menjelaskan bahwa Jakarta memiliki sejarah politisasi agama saat Pilkada 2017 lalu. “Sosok Pak Heru ini lekat dengan Ahok, dan kita tidak tahu track recordnya dalam politik, untuk pemilu, untuk pilkada,” tambahnya.

“Sementara kalau dibandingkan dengan Marullah, beliau adalah PNS tulen, berkarir dari bawah dan pernah menjadi walikota Jakarta Selatan. Tapi apakah mampu mengelola relasi politik antara pusat dan daerah di tengah transisi Jakarta sebagai kota global,” ujar peneliti senior BRIN ini.

Lebih lanjut, Prof Siti menilai bahwa Bahtiar yang saat ini menjabat sebagai Dirjen Politik dan PUM Kemendagri merupakan sosok yang profesionalitasnya sudah teruji.

“Ada Dr Bahtiar, beliau ini sudah malang melintang mengurusi Pemilu, Pilkada, kemudian punya networking yang luas dengan berbagai instansi, akademisi, ormas serta media. Dengan kapasitasnya sebagai Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum di Kemendagri, pak Bahtiar ini benar-benar turun langsung dan sudah fasih mengurusi daerah,” ungkapnya.

Dirinya juga mengajak masyarakat agar lebih vokal dan kritis dalam menyuarakan aspirasinya, karena siapa yang akan memimpin ibukota selama 2 tahun ke depan merupakan isu krusial, mengingat tahapan Pemilu sudah dimulai.

“Memang siapa yang akan dipilih sepenuhnya keputusan Presiden. Namun masyarakat tolong juga dapat memberi masukan. Tahun 2023 ini suhu politik akan memanas, dan Jakarta adalah barometernya,” ujar Prof Siti.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com