Warna-Warni Indonesia

Dewan Pakar BPIP: Santri Pelopor Aktualisasi Nilai Pancasila

JAKARTA (tandaseru.id) – Dewan Pakar BPIP mengungkapkan bahwa santri pelopor aktualisasi nilai Pancasila karena semua sila Pancasila sesuai dengan ajaran Islam, Kamis, (15/9).

Para santri sejatinya adalah pembelajar yang baik tentang agama Islam. Belajar tidak hanya dalam aspek keimanan dan tauhid, tetapi  juga tentang ibadah dan akhlaq sosial. Pemahaman yang baik tentang keimanan, ibadah dan akhlaq itu akan termanifestasi dalam prilaku yang santun dan tawadhu, sehingga membuat para santri tidak saja memiliki kesalehan spiritual tetapi juga kesalehan sosial.

Demikian disampaikan Darmansjah Djumala, Dewan Pakar BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri pada ceramah motivasi berjudul “Islam, Pancasila dan Diplomasi” di Pesantren Al-Amalul Khair, Palembang.

Lebih jauh ditegaskan Djumala,  di dalam sanubari santri yang soleh secara spiritual dan soleh secara sosial sudah tentu tertanam nilai-nilai Pancasila. Sebab, dengan belajar agama Islam dengan baik maka sudah pasti prilakunya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Semua sila Pancasila sesuai dengan ajaran Islam dan tidak ada yang bertentangan sedikit pun. Oleh karena itulah, para santri yang memahami ajaran Islam dengan baik adalah pelopor penyemai nilai-nilai Pancasila di masyarakat.

“Santri akan menjadi teladan dan rujukan dalam aktualisasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.” tambahnya

Dalam sesi dialog terungkap, para santri pesantren Amalul Khoir mempunyai minat besar untuk dapat berkontribusi terhadap negara dengan cara meniti karier di bidang diplomasi.  Tak sedikit yang mengacungkan tangan ketika diajukan pertanyaan apakah ada yang ingin jadi santri diplomat atau diplomat santri.

Minat para santri untuk berkarier di bidang diplomasi terbuka lebar. Disarankan Djumala, jika para santri ingin jadi diplomat bisa melanjutkan studi ke universitas sampai minimal jenjang S1. Jika yang dari sekolah menengah umum bisa mengambil jurusan ilmu sosial di universitas umum.

Jika dari pesantren dianjurkan untuk melanjutkan studi ke Universitas Islam Negeri. “Sudah tentu jika ingin jadi diplomat, selain memiliki nilai baik selama sekolah menengah, juga dituntut minimal dapat berbahasa Inggris dengan baik atau bahasa asing lain yang masuk dalam bahasa PBB, yaitu Perancis, Spanyol, Rusia, China dan Arab.” tuturnya

Pada bagian lain Djumala mengingatkan bahwa satu hal yang harus diperhatikan jika ingin jadi diplomat adalah pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila. Seorang diplomat diutus ke luar negeri untuk mewakili Negara, bukan mewakili kelompok atau golongan tertentu.

Diplomasi adalah kegiatan politik antar-negara. Semua negara tentu berupaya untuk mempengaruhi negara lain, baik aspek politik, ekonomi dan budaya, termasuk ideologi. Oleh karena itu, jika santri ingin jadi diplomat, harus sejak dini ditanamkan dalam hati dan jiwa bahwa Pancasila bahwa ideologi negara yang harus dihayati, dijaga dan dibela bersama.

“Jika nilai-nilai Pancasila sudah dipahami dan dihayati, maka tak ada celah bagi santri untuk terombang-ambing dalam tarikan kepentingan ideologi negara lain.” pungkasnya

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com