FOKUS

Ada Polisi di Laut dan Udara, Ini Fakta Menarik Polairud yang Perlu Anda Ketahui!

Tandaseru – Pelayanan kepolisian tidak hanya di darat, tetapi juga hadir di wilayah perairan dan udara di seluruh pelosok Indonesia. Kesatuan yang melakukan tugas ini adalah Korps Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud).

Berikut ini beberapa fakta menarik Polairud yang pelu Anda ketahui. Polairud merupakan pelaksana tugas pokok dan fungsi Polri di wilayah perairan Indonesia yang memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat, pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, serta penegakan hukum yang tersebar dari tingkat kewilayahan hingga tingkat Mabes Polri.

Sejarah berawal di bulan Desember

Salah satu fakta menarik Polairud adalah banyak hal terkait dengan bulan Desember. Sejarah Polairud dimulai setelah adanya Surat Keputusan (SK) Perdana Menteri No. 510/p.m/1950 tanggal 5 Desember 1950 mengenai pembentukan Bagian Polair.

Kemudian Menteri Dalam Negeri (Mendagri) juga mengeluarkan SK Mendagri No 4/2/3/um tanggal 14 Maret 1951 mengenai pemersatuan kesatuan-kesatuan kepolisian.

Berdasarkan SK Mendagri tersebut, Kepolisian Perairan dan Udara ditetapkan sebagai bagian dari Djawatan Kepolisian Negara (DKN) terhitung mulai 1 Desember 1950. Tanggal ini sekaligus ditetapkan sebagai hari ulang tahun Polairud.

Pemerintah selanjutnya membentuk Seksi Udara pada akhir tahun 1955 dengan diterbitkannya SK Perdana Menteri No 510/p.m./1956 tanggal 5 Desember 1955. Dengan demikian, resmilah nama Polisi Perairan dan Polisi Udara yang saat itu dipimpin oleh Komisaris Besar Polisi RP. Sudarsono.

Korpolairud akhirnya mengalami sejumlah perombakan, validasi serta restrukturisasi organisasi berdasarkan Peraturan Kapolri No. 6 Tahun 2017 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Satuan Organisasi.

Di tingkat Markas Besar Polri, Polair berubah nama menjadi Korps Kepolisian Perairan dan Udara (Korpolairud) di bawah Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam).

Korpolairud Polri
(istimewa)

Awal tugas hanya dengan 1 kapal!

Fakta menarik Korpolairud lainnya. Pada awal tugasnya, Polair hanya dilengkapi dengan satu unit kapal Angkloeng dan sejumlah motor boat dengan pusat kegiatan masih di Jakarta dan sekitarnya.

Pada masa kepemimpinan Komisaris Besar Polisi RP. Sudarsono, Polair lalu diperkuat 35 kapal dengan beragam tipe dan sebuah pesawat jenis Cesna-180.

Hingga tahun 2017, Polair telah memiliki 1.016 armada patroli, sementara kepolisian udara memiliki 58 armada patroli.

Tugas Polairud sangat banyak dan menantang, mulai dari masalah penegakan hukum hingga bantuan kemanusiaan dan SAR, seperti saat bencana alam atau kecelakaan laut.

Untuk penegakan hukum, kesatuan yang sekarang dipimpin oleh Kepala Korpolairud Baharkam Irjen Pol M. Chairul Noor Alamsyah ini berhasil mengungkap 952 kasus tindak pidana di wilayah perairan Indonesia pada Januari-November 2018. Dari jumlah itu, 800 kasus diungkap pada tingkat Polda dan Mabes Polri 252 kasus.

Dirpolairud
(istimewa)

Menurut Dirpolair Korpolairud Brigjen Pol Lotharia Latif, dalam penegakan hukum terhadap 952 kasus itu, jajarannya telah menanganinya 725 perkara yang terdiri dari 11 kasus yang menonjol, seperti illegal fishing (376 kasus), bahan peledak (110 kasus), dan pencurian (62 kasus).

Selain itu, perlindungan pekerja imigran Indonesia (6 kasus), migas (47 kasus), illegal logging (44 kasus), illegal mining (44 kasus), karantina hewan dan tumbuhan (12 kasus), kepabeanan (16 kasus), perompakan (14 kasus), dan narkoba (17 kasus).

Kesatuan ini bahkan berhasil menyelamatkan Rp90 miliar uang negara dengan mengungkap 812 kasus tindak pidana kejahatan. Kasus kebanyakan terjadi di perairan, seperti illegal fishing dan penyelundupan.

Sepanjang tahun 2018 ini, Korpolairud berhasil menyelamatkan potensi kerugian negara Rp29,8 Miliar dengan jumlah kasus yang tidak kalah banyaknya.

polair
Personel Polairud ikut membantu evakuasi korban bencana alam di Lombok dan Palu, serta kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 di perairan Karawang, beberapa waktu lalu. (istimewa)

Selain melakukan penegakan hukum, Polairud ikut andil dalam kegiatan bantuan tanggap bencana dan SAR, seperti bantuan bagi korban gempa di Lombok dan Palu-Donggala, serta bantuan SAR saat pencarian korban pesawat Lion Air JT-610 di perairan Karawang, Jawa Barat.

Peran lain Polairud yang tidak kalah penting, seperti mendukung Satgas 115 dalam pemberantasan illegal fishing, menjaga keamanan wilayah perairan bersama Bakamla, pengamanan tugas Bank Indonesia, serta mendukung Kementerian Perhubungan menangani pencemaran polusi di laut.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait